Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Antisipasi Ancaman Gempa, Dosen Teknik Geofisika Unila Kembangkan Dashboard Mitigasi di Gunung Terang
Lampungpro.co, 30-Oct-2026

Asyihinpro 265

Share

Kegiatan Akuisisi Data Lapangan Dan Titik Lokasi Pengukuran Metode Hvsr Di Kelurahan Gunung Terang. Lampungpro.co

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co): Universitas Lampung (Unila) melalui tim dosen dan mahasiswa Jurusan Teknik Geofisika melakukan pemetaan karakteristik tanah untuk mengetahui potensi penguatan guncangan gempa di sekitar Masjid An-Nur, Kelurahan Gunung Terang, Kecamatan Langkapura, Bandar Lampung.

Kegiatan yang dilaksanakan pada 24–25 Agustus 2026 tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat Unggulan (PkMU) Universitas Lampung, yang didanai melalui DIPA BLU Unila melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM).

Melalui kegiatan ini, tim tidak hanya melakukan pengukuran kondisi tanah, tetapi juga mengembangkan Dashboard PGA Mandiri Masjid An-Nur, sebuah aplikasi berbasis web yang dapat dimanfaatkan pengurus masjid untuk memperkirakan tingkat guncangan tanah ketika terjadi gempa.

Program tersebut dilatarbelakangi kondisi geografis Lampung yang berada dekat dengan zona megathrust segmen Selat Sunda, tempat Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Kondisi ini menjadikan Lampung sebagai salah satu wilayah yang perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa bumi.

Tim pengabdian yang diketuai Yayan Mi’rojul Husni, S.Si., M.T., bersama Sandri Erfani, Medi Kurnia Putri, Irfan Hanif, dan Muhammad Alzaid Ponka, menilai bahwa pemahaman masyarakat terhadap potensi bahaya gempa perlu dibangun dari lingkungan terdekat.

Sebab, dampak gempa tidak hanya ditentukan oleh magnitudo dan jarak pusat gempa. Kondisi tanah di bawah bangunan juga berpengaruh terhadap karakteristik guncangan yang diterima.

Tanah lunak, misalnya, dalam kondisi tertentu dapat memperkuat guncangan gempa. Sementara itu, tanah yang lebih kaku dapat menunjukkan respons berbeda. Karena itu, bangunan yang lokasinya berdekatan sekalipun berpotensi mengalami tingkat guncangan yang berbeda.

Gunakan Metode HVSR, Ukur Kondisi Tanah di 12 Titik

Untuk mengetahui karakteristik tanah tersebut, tim menggunakan metode geofisika Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR).

Metode ini dilakukan dengan menempatkan alat perekam getaran atau seismometer di permukaan tanah untuk merekam getaran alami lingkungan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis guna mengetahui frekuensi alami tanah dan faktor amplifikasi atau kemampuan tanah memperbesar getaran.

Selama dua hari pelaksanaan pengukuran, tim melakukan akuisisi data pada 12 titik di sekitar Masjid An-Nur dengan dukungan pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM).

Hasil pengukuran menunjukkan karakteristik tanah di kawasan tersebut cukup beragam. Frekuensi alami tanah tercatat berkisar antara 2,17 hingga 13,31 Hz, sedangkan faktor amplifikasi berada pada rentang 1,10 hingga 4,73 kali.

Temuan ini menunjukkan bahwa karakteristik tanah dalam satu kawasan kelurahan tidak selalu seragam. Dengan demikian, potensi respons guncangan gempa juga perlu dipahami berdasarkan kondisi tanah di masing-masing lokasi bangunan.

Kembangkan Dashboard PGA Mandiri untuk Pengurus Masjid

Tidak berhenti pada pengumpulan data lapangan, tim kemudian mengolah hasil pengukuran menjadi sebuah aplikasi web bernama Dashboard PGA Mandiri Masjid An-Nur.

PGA atau Peak Ground Acceleration merupakan parameter yang digunakan untuk menggambarkan percepatan maksimum gerakan tanah akibat gempa bumi.

Dashboard tersebut dirancang agar pengurus masjid dapat memperoleh gambaran perkiraan guncangan di lokasi masjid berdasarkan informasi kejadian gempa yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Cara penggunaannya relatif sederhana. Setelah terjadi gempa, pengurus masjid dapat membuka informasi resmi BMKG, kemudian memasukkan sejumlah parameter kejadian gempa ke dalam dashboard, meliputi tanggal, waktu, koordinat, kedalaman, dan magnitudo.

Selanjutnya, sistem akan mengolah informasi tersebut bersama data karakteristik tanah hasil pengukuran HVSR untuk menghasilkan perkiraan guncangan di lokasi masjid sekaligus menampilkan status tingkat bahayanya.

Sebagai uji coba, tim memasukkan data gempa Selat Sunda dengan kekuatan magnitudo momen (Mw) 5,0. Berdasarkan simulasi tersebut, dashboard menghasilkan perkiraan guncangan di lokasi Masjid An-Nur sekitar 5,57 gal atau termasuk kategori sangat lemah.

Tim menegaskan, angka tersebut merupakan hasil uji coba alur perhitungan dan bukan representasi kondisi apabila terjadi gempa besar di wilayah Lampung.

Setelah melalui proses pengembangan dan sosialisasi, Dashboard PGA Mandiri Masjid An-Nur dipresentasikan kepada mitra sekaligus diserahkan secara simbolis kepada pengurus DKM Masjid An-Nur pada 25 Oktober 2026.

Dalam kegiatan tersebut, tim juga memberikan sosialisasi dan pelatihan mengenai cara mengoperasikan dashboard agar teknologi yang dikembangkan dapat dimanfaatkan secara mandiri oleh mitra.

Bukan Alat Prediksi Gempa, Tetap Utamakan Informasi BMKG

Tim pengabdian juga memberikan pemahaman mengenai batasan penggunaan dashboard agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Aplikasi tersebut bukan alat untuk memprediksi kapan gempa akan terjadi. Hingga saat ini, waktu terjadinya gempa bumi belum dapat diprediksi secara akurat.

Hasil yang ditampilkan dashboard merupakan perkiraan berdasarkan parameter gempa dan karakteristik tanah, bukan hasil pengukuran langsung saat gempa berlangsung.

Status aman atau rendah pada dashboard juga tidak dapat diartikan sebagai jaminan bahwa bangunan terbebas dari kerusakan. Setelah terjadi gempa yang dirasakan, masyarakat tetap perlu memeriksa kondisi bangunan, terutama dinding, tiang, plafon, dan atap.

Selain itu, dashboard ini tidak menggantikan informasi resmi BMKG maupun arahan penanganan kebencanaan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Masjid Didorong Menjadi Pusat Edukasi Kebencanaan

Melalui program pengabdian masyarakat tersebut, tim berharap masjid tidak hanya menjadi pusat kegiatan ibadah, tetapi juga dapat berperan sebagai pusat edukasi dan kesiapsiagaan bencana di lingkungan masyarakat.

Masjid memiliki kedekatan sosial dengan warga dan menjadi salah satu tempat masyarakat berkumpul serta memperoleh informasi. Karena itu, pengurus masjid dinilai memiliki peluang untuk turut membangun kesadaran masyarakat mengenai risiko gempa bumi.

Dengan memahami karakteristik tanah di lingkungan sekitar dan terbiasa mengakses informasi gempa, masyarakat diharapkan dapat mengambil keputusan secara lebih tenang dan tepat ketika bencana terjadi.

Ke depan, tim berencana menyempurnakan data dan memperluas manfaat pengembangan teknologi tersebut kepada masyarakat sekitar. Model serupa juga diharapkan dapat diterapkan di masjid maupun rumah ibadah lainnya di Lampung.

Adapun tim pengabdian ini terdiri dari Yayan Mi’rojul Husni, Sandri Erfani, Medi Kurnia Putri, Irfan Hanif, dan Muhammad Alzaid Ponka dari Jurusan Teknik Geofisika Universitas Lampung, serta mahasiswa Aflaha Afif Alfahmi, Paris Fernanda, Jordi Baqazanettibery Albajili, dan Andar Jomuk Paingot Sihombing. (Rls-PKM)

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
Mereka Turun ke Jalan

Saya melepas mereka dengan bangga. Sayangnya, kebanggaan tidak otomatis...

310


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved