Pada tahap fermentasi, tim juga melakukan rekayasa dengan menggunakan kombinasi mikroorganisme. Bella Intan Ayu Safitri menjelaskan, formulasi tersebut mengombinasikan S. cerevisiae dan Rhizopus oligosporus dengan peran yang berbeda dalam proses fermentasi.

“Kami memformulasi rasio S. cerevisiae sebagai penyedia beta-glukan alami dari dinding sel khamir, dengan Rhizopus oligosporus yang bertugas mendegradasi dinding sel khamir tersebut agar beta-glukan lebih mudah diserap tubuh,” terang Bella.
Selain kombinasi inokulum, proses germinasi kedelai menjadi salah satu bagian penting dalam penelitian. Astri Shabrina menjelaskan, perkecambahan dapat mengaktifkan enzim hidrolitik alami yang terdapat pada biji kedelai.
Aktivasi tersebut membantu proses pemecahan matriks dalam bahan baku kedelai sehingga diharapkan dapat mendukung proses fermentasi ketika dikombinasikan dengan inokulum yang telah diformulasikan.
Dari berbagai perlakuan yang diuji, tim mendapatkan formulasi terbaik pada perlakuan P2. Perlakuan tersebut menghasilkan kadar beta-glukan tertinggi sebesar 0,418 persen, sementara kadar protein mencapai 52,32 persen.
Pada formulasi yang sama, kadar lemak tercatat sebesar 5,84 persen. Hasil tersebut menunjukkan adanya perubahan komposisi nutrisi tempe setelah dilakukan modifikasi melalui germinasi dan kombinasi inokulum.
Berikan Komentar
Saya melepas mereka dengan bangga. Sayangnya, kebanggaan tidak otomatis...
475
270
31-Oct-2026
271
31-Oct-2026
294
31-Oct-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia