Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Kisah Sukowiyono dan Gajah Erin di Way Kambas, Merawat Nafas dan Menepis Luka Belalai Tak Lagi Utuh
Lampungpro.co, 02-Oct-2026

Febri 274

Share

Sukowiyono dan Gajah Erin di Way Kambas Lampung Timur | Ist/Lampungpro.co

SUKADANA (Lampungpro.co): Suara gemuruh langkah gajah, memecah hening belantara Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung Timur pada Kamis (1/10/2026). Di antara barisan satwa raksasa yang melintas megah, sesosok gajah betina melangkah perlahan.

Tubuhnya kini tegap dan sintal, namun tatapan matanya menyimpan jejak kepedihan masa lalu yang tak pernah benar-benar terhapus. Dialah Erin, gajah yang dipaksa takdir untuk berbeda dari kawanannya, karena belalainya yang buntung terpotong.

Bagi seekor gajah, belalai adalah nafas kehidupan, jemari untuk menyuap makanan, serta penyambung asa untuk minum dan bertahan. Namun bagi Erin, organ terpenting itu terenggut paksa oleh lilitan kawat jerat pemburu liar sedekade silam.

Tragedi kelam itu bermula pada 13 Juli 2016 di belantara Susukan Baru. Kala itu, Erin yang masih bayi mungil berusia sekitar tiga tahun ditemukan terkulai sendirian.

Tubuhnya kurus kering tinggal tulang berbalut kulit, dengan luka menganga di ujung belalainya membusuk. Sementara kelompok dan induknya telah lama meninggalkannya, karena tak sanggup mengimbangi langkahnya yang tertatih.

Berada di ambang maut dan kesendirian rimba, takdir mempertemukannya dengan Sukowiyono (56), seorang mahout senior yang memilih mendedikasikan sisa hidupnya, untuk menjaga nafas Erin agar tidak padam.

"Namun yang jelas dari laporan kepala resort, terus dari tim patroli kami yang mengambil, lalu dibawa ke sini sudah luka itu luka benar. Itu sekitar umur tiga tahun sendirian ditinggal induknya," kenang Sukowiyono menatap sayu ke arah satwa asuhannya itu.

Sejak hari itu, hidup Sukowiyono tak lagi sama. Merawat Erin bukan sekadar rutinitas dinas, melainkan pertarungan batin melawan keterbatasan fisik sang anak gajah.

Tanpa belalai yang utuh, Erin tak mampu menyedot air ke mulutnya. Ia juga tak bisa menyendok lumpur basah ke punggungnya untuk mendinginkan kulit dari terik matahari yang memanggang belantara Sumatera.

Pada masa-masa awal yang menyayat hati, Sukowiyono harus telaten menyuapkan makanan langsung ke rongga mulut Erin. Pria yang telah mengabdi sebagai mahout sejak 1995 itu, dengan sabar mengajarinya cara menyesap cairan dan menjangkau pucuk dedaunan dengan sisa belalai yang buntung.

Bahkan demi meluluhkan trauma masa lalu Erin terhadap manusia, ia kerap membawakan seikat rumput segar sembari berbisik menenangkan. Kini setelah 10 tahun berselang, Erin telah menjelma menjadi gajah remaja berusia 13 tahun yang sehat secara fisik.

Namun luka psikis di batinnya belum seutuhnya sembuh. Erin tumbuh dengan kepribadian penyendiri, kerap menyingkir dan minder saat kawanan gajah besar mendekat.

"Namanya cacat, makanya dia agak minder lah yang jelas itu. Karena lebih besar yang mendekati. Kalau sama yang kecil juga enggak apa-apa," ujar Sukowiyono.

Masa depan Erin di TNWK Lampung Timur, memang masih menunggu arah kebijakan program konservasi selanjutnya. Namun satu hal yang pasti, Sukowiyono berikrar tidak akan pernah melepaskan genggaman tangannya dari satwa malang tersebut.

Di belantara Way Kambas yang kini menaungi sekitar 63 ekor gajah jinak dan 200 gajah liar ini, belalai Erin mungkin tidak akan pernah tumbuh kembali. Jerat kawat manusia, telah merampas kesempurnaannya selamanya.

Namun di balik belalai yang terpotong itu, Erin telah membuktikan ketangguhannya bertahan hidup, bersanding dengan ketulusan seorang manusia yang menolak membiarkannya mati dalam sunyi. (***)

Editor : Febri Arianto

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
Ketika Sekolah Jadi Mesin Setoran: Dana BOS,...

Seperti lilin. Memberi cahaya kepada orang lain, tetapi perlahan...

3755


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved