Siang itu pantry kantor gempar. Anwar, office boy yang rajin dan polos, keluar dengan wajah pucat, napas ngos-ngosan, mata berair. Ia lari ke kamar mandi dan muntah di wastafel sampai rekan-rekannya mengira ia hamil. Untung tidak ada yang sempat mengadakan syukuran empat bulanan.
Ternyata bukan. Setelah makan siang direksi, Anwar membereskan meja rapat dan melihat sisa hidangan mewah yang belum tandas. Demi menghemat uang makan, ia mencicipi sepotong. Enak. Empuk. Bumbunya meresap, tidak seperti nasib karyawan golongan bawah. Untuk pertama kalinya ia merasakan fasilitas direksi masuk ke tubuhnya.
Lalu seorang rekan berbisik, "War, itu babi."
Seketika seluruh kenikmatan tadi berubah status dari bonus kantor menjadi bencana pribadi. Sepotong rasa enak itu mendadak terasa seperti kesalahan terbesar sejak manusia menemukan tombol "reply all".
Melihat Anwar gemetar seperti baru menerima hasil ujian hidup, saya teringat pemandangan lain yang jauh lebih sering kita temui.
Ada oknum pejabat dengan koleksi mobil yang lebih banyak daripada jumlah anaknya, bahkan mungkin lebih banyak daripada jumlah pertanyaan wartawan yang bersedia ia jawab. Garasinya terlihat seperti pameran otomotif yang kehilangan sponsor. Rumahnya bak istana. Umrahnya hampir tiap tahun sampai pantas mendapat kartu member platinum.
Masalahnya sederhana.
Gaji resminya, kalau dihitung dengan kalkulator paling jujur, bahkan pagar rumahnya masih terasa terlalu ambisius. Kalau semua hartanya benar berasal dari gaji, rumah itu seharusnya masih berupa gambar denah dan doa.
Anwar muntah gara-gara sepotong daging. Yang satu lagi tidur nyenyak di bawah selimut katun premium, di atas kasur king size, dengan rekening yang riwayat hidupnya jauh lebih misterius daripada tokoh pembunuh dalam film detektif.
Keduanya sama-sama larangan yang wajib dipatuhi. Pertanyaannya, mengapa perut kita begitu sensitif tetapi rekening kita begitu pemaaf?
Mengapa satu gram daging haram bisa memicu kepanikan nasional dalam diri seseorang, sementara satu miliar uang haram justru bisa memicu syukuran rumah baru?
Mungkin karena babi itu konkret. Kelihatan. Tercium. Bisa dikunyah.
Uang korupsi jauh lebih sopan. Ia tidak berbau dan tidak berwarna. Ia tidak datang sambil membawa papan nama bertuliskan, "Halo, saya hasil mark-up proyek drainase." Ia langsung menjelma menjadi mobil mewah, rumah besar, jam tangan mahal, dan foto-foto perjalanan ibadah.
Begitu berganti bentuk, dosa administratif itu naik kelas menjadi simbol kesuksesan.
Apalagi kalau pemiliknya berpeci rapi, fasih berceramah, dan jidatnya mengilap karena rajin sujud. Kita sering lebih terpukau oleh tampilan kemasan daripada isi pembukuannya. Pertanyaan paling sederhana dalam dunia akuntansi, "Pak, uangnya dari mana?", kadang terasa lebih menakutkan daripada pemeriksaan kesehatan tahunan.
Soal babi, hukumnya jelas. Tetapi Islam juga mengenal akal sehat dan keadaan darurat. Orang yang tidak sengaja atau tidak tahu tidak diperlakukan sama dengan orang yang sengaja melanggar.
Jadi Anwar tidak perlu menghukum dirinya. Ketidaksengajaan bukan kejahatan.
Lalu bagaimana dengan orang yang mengambil uang bukan haknya dengan sadar, sengaja, berulang kali, dan kalau ketahuan masih sempat tersenyum ke kamera?
Itu bukan khilaf.
Itu pola hidup.
Fikih membedakan pelanggaran terhadap hak Allah (haqqullah) dan hak sesama manusia (haqqul adami). Makan babi adalah urusan seseorang dengan ketentuan Allah. Korupsi punya korban yang nyata, yaitu kita semua.
Tobat kepada Allah selalu terbuka. Tetapi bila ada hak orang lain yang diambil, hak itu harus dikembalikan. Harta dipulangkan. Kerugian dipulihkan. Kezaliman dipertanggungjawabkan.
Karena itu, umrah berkali-kali tidak otomatis mencuci uang hasil korupsi.
Ka'bah bukan mesin laundry.
Tidak ada paket "cuci dosa premium". Tidak ada layanan dry cleaning untuk rekening yang terlalu sering terkena noda anggaran. Allah membuka pintu tobat, tetapi tidak membuka usaha pencucian uang.
Istigfar yang rajin tidak menggantikan pengembalian uang rakyat. Minta maaf tanpa mengembalikan dompet yang dicuri bukan tobat. Itu basa-basi dengan tambahan aroma religius.
Rasulullah SAW menggambarkan orang yang bangkrut (muflis) di hari kiamat. Ia datang membawa tumpukan pahala salat dan puasa. Tetapi semasa hidup ia mencaci, menuduh, mengambil harta, dan menyakiti orang lain.
Pahalanya dibagi-bagikan kepada mereka yang ia zalimi.
Sebuah program redistribusi kekayaan akhirat yang barangkali jauh lebih efektif daripada sebagian program redistribusi di dunia.
Kalau pahalanya habis duluan, dosa para korban dipindahkan kepadanya. Neraca keuangannya tetap seimbang. Hanya saja akunnya berubah menjadi bencana.
Sekarang bayangkan hitungan itu untuk pengambil uang publik.
Korbannya bukan satu atau dua orang.
Korbannya jutaan warga yang kehilangan sekolah yang lebih baik, layanan kesehatan yang layak, jalan yang tidak berlubang, dan fasilitas umum yang tidak ambruk sebelum diresmikan.
Antrean orang yang menagih haknya bisa lebih panjang daripada antrean haji.
Bedanya, tidak ada jalur prioritas.
Tidak ada kuota tambahan.
Dan tidak ada petugas yang bisa diminta membantu mempercepat prosesnya.
Ironisnya, kita makin kebal.
Berita korupsi datang hampir setiap hari. Kita membacanya sambil menyeruput kopi, menghela napas sebentar, lalu menggulir ke berita berikutnya.
Korupsi rasanya sudah seperti prakiraan cuaca.
Kita tahu besok akan muncul lagi. Yang belum pasti hanya daerah mana yang kebagian.
Bahkan dalam beberapa hal, korupsi terasa lebih konsisten daripada ramalan cuaca.
Sebaliknya, orang yang ketahuan makan babi bisa menjadi bahan obrolan sekampung. Karier sosialnya tamat. Reputasinya diaudit. Namanya beredar lebih cepat daripada brosur pinjaman online.
Fenomena ini tidak berhenti pada pelaku korupsi. Kadang masyarakat ikut membantu menormalkan dugaan korupsi.
Hal itu terlihat ketika mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menjalani sidang dugaan korupsi kuota haji. Sejumlah pendukung menyambutnya dengan lantunan shalawat, sebagian bahkan mengenakan kaus bergambar dirinya.
Setiap orang tentu berhak memberi dukungan moral. Terdakwa juga berhak memperoleh pembelaan dan peradilan yang adil.
Tetapi ada perbedaan antara mendoakan seseorang agar mendapat keadilan dan memperlakukannya seperti artis yang baru turun dari panggung konser.
Pengadilan bukan acara meet and greet.
Bagaimana menjelaskan kepada calon jemaah yang menunggu belasan tahun bahwa kesempatan mereka diduga tergerus?
Mungkin dijawab dengan shalawat juga, supaya sabarnya makin panjang.
Sebab nomor porsi haji tampaknya tidak bertambah cepat hanya karena volume pengeras suara dinaikkan.
Agama seharusnya menjadi pengingat untuk menegakkan keadilan, bukan perisai untuk menghindari pertanggungjawaban.
Kembali ke Anwar. Kalau ia saja sampai gemetar dan muntah karena sepotong daging yang tak sengaja ditelan, semestinya ada orang yang jauh lebih gemetar ketika hendak mengambil uang yang bukan haknya.
Minimal tangannya berkeringat.
Kalau tidak gemetar juga, setidaknya kalkulatornya protes.
Sebab jangan sampai ada orang yang sangat teliti menjaga apa yang masuk ke mulutnya, tetapi sangat santai memasukkan uang haram ke rekeningnya.
Jangan sampai kita memeriksa komposisi makanan sampai ke huruf paling kecil, tetapi tidak pernah memeriksa asal-usul kekayaan yang terpampang sebesar baliho.
Dan jangan sampai kita lebih takut pada sepotong daging babi yang tak sengaja termakan daripada pada uang rakyat yang sengaja ditelan setiap hari.
Karena kalau itu yang terjadi, mungkin masalah terbesar kita bukan lagi soal apa yang masuk ke perut. Melainkan apa yang gagal masuk ke hati nurani. (Opini)
Penulis: Irwan One Ariefyanto
Berikan Komentar
Siang itu pantry kantor gempar. Anwar, office boy yang...
242
241
07-Nov-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia