Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Makanan MBG Tak Habis, Dosen Polinela Ungkap Risiko Kehilangan Nutrition Loss Bagi Siswa
Lampungpro.co, 18-Oct-2026

Sandy 349

Share

Dosen Politeknik Negeri Lampung saat mengambil sample makanan MBG di SMP Negeri 2 Merto | LAMPUNGPRO.CO/Ist

METRO (Lampungpro.co) : Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak cukup hanya memastikan makanan tersedia bagi siswa. Makanan yang disajikan juga perlu dikonsumsi agar kandungan gizinya benar-benar memberikan manfaat bagi tubuh.

Persoalan tersebut menjadi perhatian tim dosen Program Studi Sarjana Terapan Gizi Klinis, Politeknik Negeri Lampung (Polinela), melalui penelitian tentang daya terima makanan dan potensi kehilangan zat gizi akibat sisa makanan pada siswa kelas IX SMP Negeri 2 Metro.

Penelitian ini menyoroti nutrition loss, yakni potensi hilangnya kesempatan memperoleh zat gizi ketika makanan yang telah disediakan tidak dikonsumsi. Sisa makanan di piring dapat membuat siswa kehilangan sebagian asupan yang seharusnya diperoleh dari program MBG.

Ketua tim peneliti, Yunilla Prabandari, S.Gz., M.Gizi, mengatakan keberhasilan program MBG perlu dilihat bukan hanya dari jumlah makanan yang dibagikan, tetapi juga dari seberapa banyak makanan tersebut benar-benar dikonsumsi siswa.

“Jangan sampai makanan bergizi sudah disediakan, tetapi sebagian justru tersisa dan tidak dimanfaatkan oleh tubuh. Menghabiskan makanan sesuai kebutuhan merupakan salah satu cara untuk mengoptimalkan manfaat MBG, termasuk asupan protein, karbohidrat, dan serat yang penting bagi siswa,” ujarnya.

Dalam penelitian tersebut, tim melibatkan 70 siswa kelas IX SMP Negeri 2 Metro. Pengamatan dilakukan melalui pengukuran sisa makanan dan evaluasi daya terima untuk mengetahui bagian makanan yang tidak dikonsumsi serta potensi kehilangan zat gizi yang menyertainya.

Protein, karbohidrat, dan serat menjadi komponen yang turut mendapat perhatian. Protein dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh, karbohidrat menjadi sumber energi untuk belajar maupun beraktivitas, sedangkan serat membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan.

Anggota tim peneliti, Devi Elvina Rachma, S.Gz., M.Gizi, menjelaskan bahwa daya terima makanan perlu dievaluasi karena makanan bergizi belum tentu dihabiskan apabila menu yang disajikan kurang sesuai dengan selera siswa.

“Daya terima makanan perlu menjadi perhatian karena makanan yang bergizi belum tentu dihabiskan apabila cita rasa, variasi menu, atau jenis makanan kurang sesuai dengan kesukaan siswa. Evaluasi ini penting sebagai bahan perbaikan agar makanan yang disediakan dapat dikonsumsi dengan lebih baik,” jelasnya.

Menurutnya, hasil evaluasi daya terima dapat menjadi bahan pertimbangan untuk memperbaiki menu MBG agar lebih sesuai dengan kebutuhan dan penerimaan siswa. Dengan begitu, makanan yang disediakan diharapkan tidak banyak tersisa dan manfaat gizinya dapat lebih optimal.

Sementara itu, anggota tim peneliti lainnya, Yeti Rahelli, M.K.M., menekankan pentingnya edukasi gizi untuk membangun kesadaran siswa mengenai manfaat makanan yang dikonsumsi setiap hari.

“Siswa perlu memahami bahwa setiap komponen makanan memiliki manfaat. Karbohidrat membantu memenuhi kebutuhan energi, protein mendukung pertumbuhan dan perbaikan jaringan, sedangkan serat berperan dalam menjaga kesehatan pencernaan. Karena itu, mengurangi sisa makanan juga perlu disertai pemahaman tentang pentingnya zat gizi bagi tubuh,” ungkapnya.

Kepala SMP Negeri 2 Metro, Martati, S.Pd., M.Pd., menyambut baik penelitian dan edukasi yang dilakukan tim Polinela. Ia berharap program MBG tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan gizi siswa, tetapi juga mendorong terbentuknya kebiasaan makan yang baik.

“Kami berharap siswa semakin memahami pentingnya makanan bergizi dan membiasakan diri menghabiskan makanan sesuai kebutuhan, sehingga makanan yang disediakan dapat memberikan manfaat secara optimal,” tuturnya.

Tim peneliti menilai upaya mengurangi sisa makanan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari penyedia makanan, pihak sekolah, hingga siswa. Evaluasi menu, penyesuaian porsi, pengembangan variasi olahan, serta edukasi gizi perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Meski demikian, kebiasaan menghabiskan makanan tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan rasa kenyang masing-masing siswa. Edukasi yang diberikan bukan untuk mendorong konsumsi berlebihan, melainkan membantu siswa memahami pentingnya asupan gizi yang cukup dan seimbang.

Melalui penelitian ini, tim dosen Polinela berharap evaluasi daya terima dan sisa makanan dapat menjadi masukan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan MBG. Dengan demikian, keberhasilan program tidak hanya diukur dari makanan yang disediakan, tetapi juga dari manfaat gizi yang benar-benar diperoleh siswa.

Penelitian tersebut mendapat pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026.

(***)

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
Saat Kawan Naik Takhta, Koran Kehilangan Nama

Ketika seorang kawan naik takhta, orang-orang yang dahulu membantunya...

3759


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved