Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Polinela Benchmarking ke UNJ, Perkuat Layanan Pendidikan Inklusif bagi Mahasiswa Disabilitas
Lampungpro.co, 05-Nov-2026

Sandy 174

Share

Tim Polinela kunjungan benchmarking Unit Layanan Disabilitas (ULD) Polinela ke Universitas Negeri Jakarta (UNJ) | LAMPUNGPRO.CO/@Humas

JAKARTA (Lampungpro.co) – Politeknik Negeri Lampung (Polinela) terus mendorong terwujudnya lingkungan pendidikan tinggi yang inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui kunjungan benchmarking Unit Layanan Disabilitas (ULD) Polinela ke Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Selasa (3/11/2026).

Kunjungan yang berlangsung di Ruang Smartclass, Lantai 5, Gedung Ki Hajar Dewantara, UNJ, tersebut menjadi kesempatan bagi Polinela untuk mempelajari praktik pengelolaan layanan disabilitas, penyediaan akomodasi yang layak, serta penerapan sistem pembelajaran yang adaptif dan mudah diakses seluruh mahasiswa.

Rombongan ULD Polinela dipimpin Kepala ULD, Nanang Wahyu Prajaka, S.P., M.Biotech, bersama Sekretaris ULD Ir. Anggia Fanesha, S.P., M.Tr.P., Anggota Divisi Aksesibilitas dan Fasilitas Fisik Nadisa Theresia Putri, S.Pi., M.Si., serta Anggota Divisi Monitoring Nathasa Khalida Dalimunthe, S.Gz., M.Gz.

Kedatangan rombongan diterima jajaran Badan Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (BP3) UNJ, yang di antaranya Kepala BP3 Prof. Dr. Johansyah Lubis, M.Pd., Koordinator Pusat Pengembangan Profesi dan Sertifikasi Kependidikan (PPSK) Prof. Dr. Drs. Hernawan, S.E., M.Pd., serta Koordinator Pusat Pengembangan Pembelajaran Virtual, Sumber Belajar dan Layanan Disabilitas (PPVSBLD), Dr. Lalan Erlani, M.Ed.

Dalam pertemuan tersebut, ULD Polinela mendapatkan gambaran mengenai tata kelola layanan disabilitas di UNJ, mulai dari dukungan regulasi, kebijakan internal, hingga koordinasi antarlembaga. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah penempatan layanan disabilitas di bawah koordinasi langsung universitas dengan melibatkan unsur pimpinan bidang akademik dan kemahasiswaan.

Diskusi juga menyoroti pentingnya landasan hukum yang kuat bagi operasional ULD. Penyusunan keputusan atau peraturan direktur serta pedoman teknis dinilai diperlukan agar penyelenggaraan layanan disabilitas memiliki arah, standar, dan mekanisme pelaksanaan yang jelas.

Koordinator PPVSBLD UNJ, Dr. Lalan Erlani, M.Ed., menjelaskan bahwa pendidikan inklusif membutuhkan keterlibatan seluruh unsur perguruan tinggi, mulai dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa.

Menurutnya, pendidikan inklusif tidak cukup diwujudkan dengan menyediakan fasilitas fisik bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Perguruan tinggi juga perlu membangun sistem pembelajaran yang adaptif dan aksesibel agar setiap mahasiswa memperoleh kesempatan yang setara untuk mengembangkan potensinya.

Lalan turut memaparkan empat aspek utama dalam pengembangan ekosistem pendidikan inklusif di UNJ. Keempatnya meliputi aksesibilitas fisik dan lingkungan kampus, akomodasi akademik dan pembelajaran adaptif, penguatan kelembagaan serta layanan pendukung, dan pengembangan budaya inklusi, riset, serta kolaborasi eksternal.

Aspek-aspek tersebut menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman dan mampu mengakomodasi keberagaman kebutuhan mahasiswa. Dengan demikian, penerapan pendidikan inklusif harus didukung kebijakan, sistem pelayanan, fasilitas, serta budaya akademik yang menjunjung kesetaraan.

Pembahasan lainnya berkaitan dengan penerapan akomodasi yang layak atau reasonable accommodation sepanjang proses pendidikan mahasiswa. Pelaksanaannya perlu diawali dengan identifikasi dan asesmen kebutuhan individu, mulai dari penerimaan mahasiswa baru, kegiatan perkuliahan, evaluasi pembelajaran, hingga pendampingan dalam mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.

UNJ juga memperkenalkan pendekatan Universal Design for Learning (UDL), yakni rancangan pembelajaran yang memungkinkan materi, metode penyampaian, dan evaluasi dapat diakses mahasiswa dengan beragam karakteristik serta kebutuhan belajar.

Pemanfaatan teknologi asistif turut menjadi perhatian dalam diskusi tersebut. Beberapa perangkat yang dibahas antara lain pembaca layar dan printer braille bagi mahasiswa dengan hambatan penglihatan, aplikasi transkripsi otomatis bagi mahasiswa dengan hambatan pendengaran, serta keyboard adaptif dan perangkat pendukung bagi mahasiswa dengan hambatan fisik atau motorik.

Selain itu, identifikasi kebutuhan mahasiswa penyandang disabilitas perlu dilakukan secara berkala dengan melibatkan program studi. Langkah ini diperlukan agar bentuk pendampingan dan akomodasi akademik yang diberikan sesuai dengan kondisi serta kebutuhan masing-masing mahasiswa.

Kepala ULD Polinela, Nanang Wahyu Prajaka, mengatakan kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas kelembagaan dan kualitas pelayanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas di lingkungan Polinela.

“Melalui benchmarking ini, kami memperoleh banyak pembelajaran penting untuk pengembangan ULD Polinela. Kami berkomitmen untuk memperkuat landasan hukum, tata kelola kelembagaan, serta memastikan akomodasi yang layak dapat terintegrasi dalam seluruh proses pembelajaran. Harapannya, Polinela dapat terus berkembang menjadi perguruan tinggi yang inklusif dan memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh mahasiswa,” ujar Nanang.

Berdasarkan hasil diskusi, ULD Polinela merumuskan sejumlah langkah tindak lanjut. Di antaranya penyusunan payung hukum dan pedoman teknis layanan disabilitas, penguatan struktur organisasi serta koordinasi lintas bidang, pelaksanaan asesmen kebutuhan mahasiswa secara berkala, dan pengembangan pembelajaran inklusif berbasis teknologi asistif.

Hasil benchmarking tersebut diharapkan menjadi referensi dalam penyempurnaan kelembagaan ULD sekaligus dasar penyusunan program kerja untuk meningkatkan kualitas layanan disabilitas secara berkelanjutan.

Melalui penguatan kebijakan, kolaborasi antarlembaga, dan keterlibatan seluruh sivitas akademika, Polinela berupaya membangun lingkungan pendidikan vokasi yang inklusif dan responsif terhadap keberagaman kebutuhan mahasiswa. Dengan begitu, seluruh mahasiswa diharapkan memiliki kesempatan yang setara untuk mengakses pendidikan, mengembangkan potensi, meraih prestasi, hingga mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. (***)

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
ANDI, FEBI, DAN UANG IURAN PGRI: GURU...

Febi: Sudah, minum dulu. Kopi saja ada ampasnya, masa...

567


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved