Akar bambu dipilih karena relatif mudah ditemukan di lingkungan sekitar dan berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan dasar dalam pengembangan pupuk hayati sederhana.
Melalui inovasi tersebut, tim Polinela ingin menunjukkan bahwa penerapan teknologi pertanian tidak selalu harus menggunakan bahan mahal atau peralatan yang rumit. Sumber daya yang tersedia di sekitar masyarakat dapat diolah menjadi input pertanian yang bermanfaat apabila didukung pengetahuan dan teknologi yang tepat.
Pendekatan ini diharapkan mampu membuka wawasan petani bahwa potensi lokal dapat menjadi bagian dari solusi untuk meningkatkan efisiensi usaha tani.

Tekan Ketergantungan Input Kimia
Pemanfaatan PGPR juga menjadi salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap input dari luar, khususnya penggunaan pupuk dan bahan kimia dalam kegiatan budidaya.
Namun, tim PkM menegaskan bahwa penggunaan pupuk hayati bukan berarti seluruh pupuk dan input kimia harus dihentikan. PGPR lebih diarahkan sebagai salah satu komponen dalam sistem budidaya terpadu yang dapat dikombinasikan dengan pemupukan berimbang, penggunaan bahan organik, serta pengelolaan tanaman yang sesuai.
Berikan Komentar
Pernyataan seorang anggota DPR yang mengatakan masih ada ASN...
14836
Bandar Lampung
502
Tulang Bawang
504
Bandar Lampung
766
300
12-Aug-2026
388
12-Aug-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia