Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Target Beroperasi Desember 2026, Pemprov Lampung Mulai Bangun Industri Bioetanol di Tegineneng
Lampungpro.co, 15-Sep-2026

Febri 21953

Share

Pemprov Lampung Saat Launching Bioethanol | Lampungpro.co/Dok Kominfo

TEGINENENG (Lampungpro.co): Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, melaunching Bioethanol Development Center Lampung di Desa Kota Agung, Kecamatan Tegineneng, Pesawaran, Senin (14/9/2026).

Pusat pengembangan ini, menjadi langkah awal untuk menghubungkan potensi pertanian Lampung, dengan pengembangan energi terbarukan berbasis biomassa.

Pengembangannya melibatkan kolaborasi Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, PT Pertamina New dan Renewable Energy, Toyota Group, Universitas Lampung (Unila), pemerintah daerah, serta sejumlah mitra dan pemangku kepentingan.

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal mengatakan, pihaknya optimis, Lampung dapat menjadi pusat pengembangan ekosistem bioetanol nasional.

Menurutnya, Lampung selama ini dikenal sebagai provinsi agraris dan salah satu lumbung pangan nasional. Namun potensi tersebut perlu dikembangkan lebih jauh, agar tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tapi juga menciptakan nilai tambah melalui industri dan energi.

“Pertanian bukan lagi hanya menghasilkan pangan, tetapi juga energi, dan bukan hanya menjual hasil panen, tapi juga menciptakan industri. Ini juga bukan hanya menggerakkan ekonomi Lampung, tapi ikut memperkuat ketahanan energi nasional," kata Rahmat Mirzani Djausal.

Launching Bioethanol Development Center Lampung ini, bukan hanya peluncuran sebuah fasilitas, tapi juga menjadi langkah awal membangun ekosistem baru yang menghubungkan sektor pertanian, riset, teknologi, industri, dan energi.

Gubernur Mirza mengapresiasi kolaborasi seluruh pihak yang terlibat. Ia menilai, proyek sebesar ini tidak dapat lahir dari satu pihak saja, melainkan membutuhkan kepercayaan dan kerja bersama antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, serta mitra strategis.

Inisiatif tersebut, juga dinilai sejalan dengan arah kebijakan nasional dalam pengembangan bioetanol, mulai dari penerapan campuran E5 menuju E10, hingga E20 pada masa mendatang.

Lampung sendiri, memiliki sejumlah keunggulan untuk mengembangkan industri bioetanol. Selain ketersediaan lahan dan ekosistem pertanian, Lampung juga memiliki agroindustri, serta sumber daya yang dapat diintegrasikan dengan pengembangan energi terbarukan berbasis biomassa.

Gubernur Mirza menekankan, pengembangan industri bioetanol tidak cukup hanya dengan membangun pabrik. Namun ekosistem yang mendukungnya, juga harus disiapkan secara menyeluruh.

Ekosistem tersebut, mencakup pengembangan benih, budidaya tanaman, mekanisasi pertanian, pengolahan biomassa, produksi bioetanol, hingga pemanfaatan produk turunannya.

Karena itu, pengembangan sorgum sebagai bahan baku atau feedstock dan pembangunan Bioethanol Development Center Lampung, harus berjalan sebagai satu kesatuan.

Pusat pengembangan ini, diharapkan menjadi tempat lahirnya inovasi, pengembangan riset, pengujian teknologi, pengumpulan data, serta penyusunan model bisnis yang dapat diterapkan dalam skala industri.

Pengembangan sorgum dan bioetanol dinilai membuka peluang baru bagi petani, tenaga kerja, UMKM, dunia usaha, peneliti, dan masyarakat di sekitar kawasan pengembangan.

Ke depan, diharapkan terbentuk rantai nilai yang kuat, mulai dari penyediaan benih, budidaya, mekanisasi pertanian, pengolahan biomassa, produksi bioetanol, hingga pemanfaatan produk sampingnya.

Dengan demikian, transformasi energi tidak hanya berbicara mengenai teknologi, tetapi juga menjadi daya ungkit pertumbuhan ekonomi daerah.

Gubernur berharap, seluruh proses pembangunan Bioethanol Development Center Lampung dilaksanakan secara profesional, transparan, terukur, memperhatikan keselamatan kerja, menjaga lingkungan, dan menghasilkan model pengembangan yang dapat direplikasi di berbagai daerah.

Sementara itu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu menjelaskan, pengembangan bioetanol di Lampung ini berpijak pada empat pilar fundamental kebangsaan, yakni ketahanan energi, hilirisasi, transisi dan bauran energi, serta ketahanan ekonomi nasional.

​Dipilihnya Lampung sebagai lokasi pengembangan sentra bioetanol nasional, berawal dari penelusuran riset teknologi biomassa di Fukushima, Jepang. Dari kunjungan tersebut, terungkap fakta membanggakan, di mana riset enzim dan bibit sorgum unggul yang digunakan industri otomotif Jepang, semuanya berasal dari tanah Lampung.

​Selain berkaca dari teknologi Jepang, Todotua juga merujuk pada keberhasilan Brasil yang memproduksi 38 juta kiloliter bioetanol pertahun dari bahan baku singkong, jagung, dan sorgum, dengan harga jual hampir separuh dari harga bensin.

Keberhasilan Brasil tersebut, turut terintegrasi dengan ekosistem peternakan sapi skala raksasa melalui pemanfaatan ampas distilasi bioetanol menjadi pakan ternak berkualitas tinggi, serta pemanfaatan limbah menjadi gas biometana dan pupuk organik (zero waste circular economy).

​Guna merealisasikan model tersebut di Lampung, fasilitas Bioethanol Development Center Tegineneng ditargetkan mulai berproduksi pada Desember 2026, pada skala pilot project 60 kiloliter dengan lahan demplot budidaya seluas 10 hektare.

Fasilitas ini, nantinya akan menguji dan memvalidasi keekonomian produksi bioetanol generasi pertama (berbasis singkong dan sorgum) maupun generasi kedua (berbasis limbah biomassa hortikultura dan ampas tebu). (***)

Editor : Febri Arianto

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya

Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved