Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Bangun-Bangun Jadi Gibran: Dracin di Peron MRT
Lampungpro.co, 03-Nov-2026

Asyihinpro 343

Share

Pemimpin Redaksi Lampungpro.co, Irwan One Ariefyanto

Dalam catur, mengorbankan bidak itu bagian dari strategi. Dalam politik, yang dikorbankan biasanya rakyat, lalu yang menang tetap berpidato: "Ini semua demi bangsa dan negara."

Saya teringat warung makan sepi dekat rumah. Orang beli karena kasihan: "Beli ah, kasihan warungnya sepi." Setelah makanannya dicicipi, baru sadar: "Oh… pantesan sepi."

Jangan sampai rakyat memilih pemimpin dengan logika yang sama. "Coblos ah, kasihan sudah tiga kali kalah." Begitu berkuasa, rakyat baru mengelus dada: "Oh… pantesan kalah terus."

Kasihan boleh. Tapi negara bukan kotak amal.

Sambil menggeser bidak, saya sentuh penyakit lama: bagi-bagi kue kekuasaan.

"Jabatan publik harus diisi orang kompeten, Pak, bukan sekadar yang paling rajin bikin story dukungan atau pernah satu ormas. Loyalitas penting, tapi jangan jadi satu-satunya ijazah. Kalau pekerjaan sudah bisa ditangani Ditjen, buat apa bikin lembaga baru? Negara ini bukan grup arisan yang pengurusnya dipilih gara-gara paling akrab sama ketua."

Prabowo menatap papan, lalu menatap saya lama. Alisnya mulai naik.

Padahal, kalau mau, dua langkah lagi raja saya sebenarnya bisa lolos. Tapi saya teringat ajaran bapak sejak kecil: jangan menang dari orang yang lebih tua, apalagi kalau orangnya Presiden dan saya tamu di rumahnya.

Maka dengan akting yang cukup meyakinkan, saya menaruh menteri saya di petak yang salah. Menteri jatuh, tentu saja. Di negara ini, kalau menteri jatuh biasanya tidak ada yang kaget.

"Skak mat," kata Prabowo.

Saya pura-pura terkejut. "Wah, Bapak hebat sekali."

1 2 3 4 5 6 7 8

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
ANDI, FEBI, DAN UANG IURAN PGRI: GURU...

Febi: Sudah, minum dulu. Kopi saja ada ampasnya, masa...

261


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved