Beliau tertawa puas. Ternyata kekalahan saya membuat suasana jauh lebih cair daripada seluruh isi pidato saya tadi.
Hari itu saya kalah, tapi kalah dari orang tua tidak apa-apa. Yang bikin sedih kalau rakyat terus-terusan kalah dari orang yang bukan siapa-siapanya.
Saya berdiri, menyalami beliau, lalu mencium tangannya.
"Pamit dulu, Pak. Masih banyak kunjungan. Jangan lupa tersenyum ya, Pak."
Di luar, ajudan sudah menunggu sambil melirik jam. "Mas, kalah main catur sama Presiden itu pilihan paling aman."
"Saya tahu," kata saya. "Itu juga strategi."
Dari situ saya meluncur ke Kuningan menemui pimpinan KPK.
"Pak, kalau kekurangan personel intelijen, bagaimana kalau kita rekrut ibu-ibu kompleks?"
Ketua KPK mengedipkan mata, bingung.
"Serius, Bos. Ibu-ibu di lapak tukang sayur itu tahu siapa yang tiba-tiba beli mobil baru, rumah siapa yang mendadak direnovasi, dan siapa yang biasanya naik Supra tiba-tiba dijemput Alphard. Itu bukan gosip. Itu Focus Group Discussion berbasis pengamatan lingkungan. Kecepatannya mengalahkan ninjutsu Naruto."
Tentu info tukang sayur bukan alat bukti sah di pengadilan. KPK tetap butuh penyelidikan profesional. Tapi semangatnya patut ditiru: jangan malas mencari tahu, dan jangan sampai rakyat kecil gampang digerebek sementara pejabat berkuasa mendadak sulit disentuh hukum.
Berikan Komentar
Febi: Sudah, minum dulu. Kopi saja ada ampasnya, masa...
261
261
04-Nov-2026
318
04-Nov-2026
275
04-Nov-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia