Siapa tahu setelah itu mereka sadar: drama yang sebenarnya bukan jiwa tertukar di peron MRT, melainkan negara yang terus berjalan seolah akan happy ending, padahal rakyatnya masih menunggu di peron tanpa tahu kapan keretanya datang.
Negara ini aman nggak, ya? Entahlah. Yang jelas, kalau besok pagi saya bangun dan ternyata benar-benar jadi Gibran, saya cuma punya satu permintaan: semoga stasiun tempat saya turun tidak terlewat lagi.
Sebab negara ini sudah cukup sering membuat rakyatnya menunggu: menunggu harga turun, menunggu keadilan, menunggu janji kampanye ditepati.
Bedanya, kereta MRT lewat tiga kali dalam sejam. Janji kampanye lewat lima tahun sekali, itu pun tidak pernah berhenti di stasiun kita.
Dan jujur saja, saya mulai curiga dracin ini sengaja dibuat panjang, supaya rakyat tidak sempat pindah channel. (Opini)
Penulis : Irwan One Ariefyanto
Berikan Komentar
Febi: Sudah, minum dulu. Kopi saja ada ampasnya, masa...
261
261
04-Nov-2026
318
04-Nov-2026
275
04-Nov-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia