Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Gubernur Lampung Perintahkan Penanganan Karhutla Dipercepat, Mitigasi Diperkuat Hingga Desa
Lampungpro.co, 20-Oct-2026

Febri 361

Share

Pemprov Lampung Saat Rakor Penanganan Karhutla | Lampungpro.co/Dok Kominfo

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co): Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, memerintahkan seluruh unsur penanganan bencana, untuk mempercepat pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), hingga memperkuat mitigasi hingga tingkat desa.

Langkah tersebut penting, untuk mencegah munculnya titik api baru, melindungi keselamatan masyarakat, dan mengantisipasi kondisi cuaca kering yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal mengatakan, penanganan bencana tidak akan bisa dilakukan oleh pemerintah sendiri, sehingga semangat kolaborasi itu harus didorong dengan koordinasi yang baik bersama TNI, Polri, relawan, serta masyarakat di desa, kabupaten, kota, hingga kecamatan dan desa.

Gubernur Mirza juga menekankan, penanganan Karhutla tidak boleh hanya berorientasi pada pemadaman setelah kebakaran terjadi. Pemerintah daerah perlu memetakan wilayah yang berulang kali terdeteksi memiliki titik panas (hotspot), kemudian meningkatkan sosialisasi dan pencegahan pembakaran sampah maupun lahan selama kondisi cuaca masih kering.

BPBD Lampung mencatat, pemantauan titik panas dilakukan melalui citra satelit, aplikasi Pusdalops, serta laporan masyarakat dan BPBD kabupaten/kota.

Data satelit diperbarui dua kali sehari, sekitar pukul 08.00 dan 20.00 WIB, dengan rata-rata 30-60 titik panas pada hasil pemantauan malam yang dirilis pagi hari dan 80-100 titik pada hasil pemantauan siang yang dirilis malam hari.

Namun titik panas tidak selalu menunjukkan kebakaran karena dapat pula berasal dari suhu panas atau aktivitas pembakaran terkendali. Karena itu, Gubernur Lampung meminta data titik panas tidak hanya digunakan untuk menemukan indikasi kebakaran, tetapi juga sebagai dasar mitigasi.

BPBD Lampung diminta menyusun pola persebaran titik panas dan menyampaikan hasilnya kepada pemerintah kabupaten/kota, agar kepala desa dapat mengidentifikasi kebiasaan pembakaran di wilayah masing-masing.

Pemerintah daerah juga diharapkan bisa meningkatkan sosialisasi dan mencegah aktivitas pembakaran, yang tentunya berpotensi memicu kebakaran selama musim kering.

Salah satu fokus penanganan adalah kebakaran di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, yang telah berlangsung selama 24 hari sejak 25 September 2026.

Hingga laporan penanganan 18 Oktober 2026, pemadaman dari darat telah menjangkau sekitar 192 hektare, sementara operasi water bombing atau pengeboman air, telah dilakukan sedikitnya 923 kali dengan estimasi area yang terkena siraman sekitar 124 hektare.

Pemantauan menggunakan drone pada pukul 17.00 WIB sehari sebelumnya, masih mengindikasikan sekitar 30 hektare area terbakar atau berasap. Area tersebut, tersebar di titik B sekitar 3 hektare, titik C sekitar 13 hektare, dan titik D sekitar 14 hektare.

Operasi darat juga terus dilakukan oleh empat tim melalui pemantauan drone, pemadaman di Rawa Gelam dan titik B, serta pembukaan jalur sekitar 6 kilometer menuju titik D.

Petugas menghadapi sejumlah kendala, seperti vegetasi yang rapat, keterbatasan peralatan dan logistik, serta jarak sumber air dari Sungai Way Pegadungan ke titik api yang mencapai sekitar 1,5 kilometer.

Untuk memperkuat operasi, BNPB memberikan dukungan peralatan pemadaman yang direncanakan didistribusikan kepada sekitar 350 personel satgas darat. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung juga berharap, adanya tambahan helikopter untuk memperkuat pemadaman dari udara.

Selain pemadaman darat dan udara, BPBD Lampung bersama BNPB dan BMKG sebelumnya melaksanakan operasi modifikasi cuaca pada 11-13 Oktober 2026, dengan tiga sorti penerbangan selama total 6 jam 16 menit dan penggunaan 3.000 Kg natrium klorida (NaCl) sebagai bahan semai.

Operasi modifikasi cuaca dihentikan pada 18 Oktober 2026, karena tidak ditemukan awan potensial untuk penyemaian. Berdasarkan perkiraan BMKG, kondisi cuaca diperkirakan masih sangat kering dan panas, sehingga kewaspadaan terhadap kebakaran perlu dipertahankan.

Pemerintah juga menangani kebakaran di sekitar ruas Gerbang Tol Menggala, Tulang Bawang, serta tempat pembuangan sampah di sekitar Km 132B Tol Lampung Tengah, tepatnya di Bandar Jaya Timur, Kecamatan Terbanggi Besar.

Kebakaran di Menggala yang terjadi pada 16 Oktober 2026, semuanya telah terkendali pada malam hari dan dilanjutkan dengan pendinginan untuk mencegah api menyala kembali. Sementara kebakaran di lokasi pembuangan sampah, yang berdampak pada area sekitar 1,5 hektare, tanpa laporan korban jiwa maupun bangunan terdampak.

Pemprov mengkoordinasikan dukungan personel dan armada pemadam dari sejumlah daerah untuk menangani kebakaran di Lampung Tengah.

Bantuan yang dikerahkan mencakup dua unit mobil pemadam dari Bandar Lampung serta masing-masing satu unit dari Metro, Lampung Selatan, dan Pesawaran, ditambah dukungan ekskavator. Penggunaan ekskavator diperlukan untuk mengurai dan membolak-balik tumpukan sampah, agar api yang masih membara di bagian dalam dapat dipadamkan secara menyeluruh. (***)

Editor : Febri Arianto

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya

Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved