Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Pemprov Lampung Perketat Kesiapsiagaan Hadapi Erupsi Anak Krakatau, Masifkan Layanan Puskesmas dan Rumah Sakit
Lampungpro.co, 08-Sep-2026

Febri 308

Share

Pemprov Lampung Saat Rakor Penanganan Erupsi Gunung Anak Krakatau | Lampungpro.co/Dok Kominfo

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co): Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung terus memperketat kesiapsiagaan, untuk menghadapi erupsi Gunung Anak Krakatau, meski saat ini kondisi erupsinya sudah mulai menurun.

Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela mengatakan, pihaknya tetap mengimbau kepada masyarakat, untuk mengurangi aktivitas di luar rumah dan meningkatkan perlindungan diri di tengah paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Masyarakat diminta tetap tenang, tetapi tidak menurunkan kewaspadaan selama aktivitas vulkanik masih fluktuatif.

Jijan meminta warga yang masih terdampak abu, untuk menggunakan masker dan alat pelindung lainnya, ketika harus beraktivitas di luar rumah.

Peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau mulai terpantau sejak 4 September 2026. Aktivitas vulkanik kemudian meningkat pada 5 September dan disertai erupsi serta sebaran abu vulkanik ke sejumlah wilayah Lampung dan daerah lainnya.

Pada Senin (7/9/2026), aktivitas gunung masih bersifat fluktuatif. Dalam pemantauan pukul 06.00 WIB hingga 12.00 WIB, tercatat sembilan kali gempa harmonik, 17 kali gempa frekuensi rendah, dua kali gempa hembusan atau fase banyak, serta satu kali tremor terus-menerus.

Jihan menjelaskan, kondisi gunung yang secara visual terlihat lebih tenang tidak berarti aktivitas vulkaniknya telah berhenti. Berdasarkan pemantauan, aktivitas di dalam gunung masih berlangsung sehingga masyarakat di wilayah terdampak diminta tetap berhati-hati.

Perhatian pemerintah, kini tidak hanya tertuju pada aktivitas vulkanik, tapi juga dampak abu terhadap kesehatan. Pemprov Lampung menemukan adanya tren peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di sejumlah wilayah, meski data keseluruhan masih dalam proses inventarisasi.

Pemeriksaan sampel abu vulkanik oleh Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) menunjukkan terdapat partikel berukuran sekitar 5-10 mikrometer, dengan permukaan tidak beraturan dan cenderung tajam. Partikel tersebut perlu diwaspadai, karena berpotensi menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, mata, dan kulit.

Karena itu, Jihan meminta masyarakat yang berada di wilayah terdampak membatasi aktivitas fisik di luar rumah. Jika aktivitas di luar tidak dapat dihindari, warga diminta menggunakan masker, baju lengan panjang, serta pelindung mata seperti kacamata atau goggles.

Perhatian khusus juga diminta diberikan kepada kelompok rentan, yakni anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan. Mereka perlu diawasi lebih intensif oleh keluarga dan petugas kesehatan selama paparan abu vulkanik masih berlangsung.

Masyarakat juga diminta menutup pintu dan jendela rumah, ketika paparan abu masih terjadi. Saat membersihkan abu, warga dianjurkan tidak menyapunya dalam kondisi kering agar abu tidak kembali beterbangan dan terhirup.

Pemerintah terus memantau kualitas udara di wilayah terdampak, untuk di Bandar Lampung, hasil pemantauan pada 5-6 September 2026 menunjukkan konsentrasi sulfur dioksida (SO2) berada pada kisaran 212 hingga 224 mikrogram permeter kubik.

Dari sisi pelayanan kesehatan, seluruh Puskesmas dan rumah sakit telah diminta meningkatkan kesiapsiagaan, terutama fasilitas kesehatan di wilayah yang relatif dekat dengan Gunung Anak Krakatau. Tenaga kesehatan, obat-obatan, bahan medis habis pakai, oksigen, hingga sistem rujukan, disiapkan untuk menghadapi kemungkinan peningkatan kebutuhan pelayanan.

Kepala Dinas Kesehatan Lampung, Djohan Lius menyebutkan, pihaknya telah menerbitkan surat edaran kepada Dinas Kesehatan kabupaten/kota, untuk meningkatkan kewaspadaan.

Dinas Kesehatan juga telah mengajukan 37 item obat dan bahan medis habis pakai kepada Kementerian Kesehatan, untuk mengantisipasi kebutuhan selama kondisi darurat. Djohan meminta masyarakat tidak panik membeli masker, karena persediaan di Dinas Kesehatan Lampung masih memadai, dengan distribusi diprioritaskan ke daerah terdampak dan institusi yang membutuhkan.

Data sementara menunjukkan dampak kesehatan mulai terlihat di Tanggamus. Pada 5 September 2026, tercatat 52 kunjungan ke fasilitas kesehatan dengan 46 kasus ISPA, kemudian pada 6 September 2026 jumlah kunjungan meningkat menjadi 158 dengan 76 kasus ISPA.

Untuk mengurangi paparan abu yang telah berada di ruang publik, Pemprov Lampung meminta pemerintah kabupaten/kota untuk turut aktif melakukan penyiraman. Pemadam kebakaran dapat digunakan untuk menyiram ruang publik, dan kawasan dengan tingkat pelayanan, serta mobilitas masyarakat yang tinggi. (***)

Editor : Febri Arianto

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya

Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved