Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Penelitian Dosen Polinela Ungkap Risiko Hipertensi dan Obesitas pada Pekerja Industri Tapioka
Lampungpro.co, 16-Sep-2026

Sandy 362

Share

Tim peneliti dosen Polinela saat melakukan penelitian terhadap pekerja industri pengolahan tapioka mengalami hipertensi | LAMPUNGPRO.CO

LAMPUNG TIMUR (Lampungpro.co) : Bekerja setiap hari dengan tuntutan produksi yang tinggi ternyata tidak otomatis membuat pekerja terbebas dari berbagai persoalan kesehatan. Penelitian tim dosen Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menemukan sebanyak 42,6 persen pekerja industri pengolahan tapioka mengalami hipertensi.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kesehatan pekerja tidak cukup hanya diukur dari kemampuan menjalankan pekerjaan secara fisik. Kondisi gizi, tekanan darah, riwayat kesehatan, hingga pola aktivitas pekerja juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan jangka panjang.

Penelitian tersebut dilakukan tim dosen Polinela yang terdiri dari dr. Firdawati, M.K.M., Andra Vidyarini, S.Gz., M.Si., dan Yunilla Prabandari, S.Gz., M.Gizi. Penelitian itu mengangkat tema “Analisis Faktor Gizi Kerja terhadap Risiko Penyakit Tidak Menular pada Pekerja Industri Pengolahan Tapioka.”

Dalam penelitian terhadap 61 pekerja industri pengolahan tapioka tersebut, selain menemukan angka hipertensi yang cukup tinggi, tim peneliti juga mencatat 39,3 persen pekerja berada dalam kategori overweight atau obesitas.

Sementara itu, pekerja yang masuk kategori obesitas tercatat mencapai 29,5 persen. Data tersebut menjadi perhatian karena kelebihan berat badan dan obesitas merupakan kondisi yang dapat berkaitan dengan berbagai risiko penyakit tidak menular (PTM).

Tim peneliti menilai kondisi tersebut memperlihatkan bahwa aspek gizi kerja perlu mendapat tempat yang lebih besar dalam program kesehatan pekerja. Kemampuan seseorang menjalankan pekerjaan tidak serta-merta menunjukkan bahwa kondisi kesehatannya berada dalam keadaan optimal.

“Kesehatan pekerja tidak cukup hanya dilihat dari kemampuan mereka menjalankan pekerjaan. Status gizi, tekanan darah, riwayat kesehatan, dan aktivitas fisik juga perlu diperhatikan karena semuanya berkaitan dengan kesehatan jangka panjang pekerja,” demikian perspektif tim peneliti terhadap hasil penelitian tersebut.

Pekerjaan dan Risiko Kesehatan Saling Berkaitan

Penelitian yang dilakukan tidak hanya menggambarkan kondisi kesehatan pekerja, tetapi juga mengidentifikasi sejumlah faktor yang berkaitan dengan risiko hipertensi dan obesitas.

Berbagai data dikumpulkan, mulai dari karakteristik pekerja, kondisi gizi kerja, status gizi, tekanan darah, gula darah sewaktu, riwayat kesehatan, hingga aktivitas fisik.

Dari hasil analisis, pekerja yang berada pada bagian produksi memiliki peluang mengalami hipertensi 3,62 kali dibandingkan kelompok pembanding.

Sementara pekerja yang memiliki riwayat hipertensi tercatat memiliki peluang mengalami hipertensi 12,53 kali. Angka tersebut menunjukkan adanya keterkaitan kuat antara riwayat kesehatan dengan risiko hipertensi pada kelompok pekerja yang diteliti.

Faktor status gizi juga menjadi perhatian. Pekerja yang mengalami overweight atau obesitas memiliki peluang mengalami hipertensi 3,94 kali, sedangkan pekerja yang masuk kategori obesitas memiliki peluang 4,14 kali.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan gizi tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga kesehatan dan keselamatan pekerja. Status gizi menjadi salah satu aspek yang perlu dipantau bersamaan dengan faktor keselamatan di lingkungan kerja.

dr. Firdawati, M.K.M., mengatakan hasil penelitian tersebut menjadi pengingat bahwa gizi kerja bukan semata-mata berbicara mengenai makanan yang dikonsumsi pekerja.

“Gizi kerja seharusnya tidak dipandang hanya sebagai persoalan makanan pekerja. Status gizi merupakan salah satu bagian dari kesehatan pekerja yang pada akhirnya dapat berkaitan dengan produktivitas dan keberlangsungan pekerja dalam menjalankan tugasnya,” ujar dr. Firdawati.

Persoalan hipertensi juga menjadi penting karena penyakit tersebut kerap tidak menunjukkan gejala yang jelas. Seorang pekerja dapat tetap menjalankan aktivitas sehari-hari dan merasa tidak mengalami gangguan kesehatan, meskipun tekanan darahnya sudah berada pada kategori hipertensi.

Kondisi tersebut membuat pemeriksaan dan pemantauan kesehatan secara berkala menjadi penting, terutama bagi pekerja yang memiliki faktor risiko.

Obesitas Tak Hanya Soal Berat Badan

Selain hipertensi, penelitian tim dosen Polinela juga memberikan perhatian terhadap persoalan obesitas yang ditemukan pada sebagian pekerja.

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara obesitas dengan riwayat hipertensi maupun riwayat hipertensi dalam keluarga. Aktivitas fisik juga menjadi salah satu faktor yang dianalisis dalam kaitannya dengan kondisi obesitas pekerja.

Andra Vidyarini, S.Gz., M.Si., mengatakan upaya mencegah obesitas pada pekerja membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Menurutnya, persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan hanya dengan memberikan imbauan agar pekerja menurunkan berat badan.

“Pencegahan obesitas pada pekerja tidak cukup hanya dengan memberikan anjuran untuk menurunkan berat badan. Intervensi perlu mempertimbangkan kondisi pekerjaan, kebutuhan gizi, aktivitas fisik, serta kebiasaan hidup pekerja,” jelas Andra.

Ia menilai aktivitas fisik yang dilakukan selama bekerja perlu dipahami secara berbeda dengan aktivitas fisik yang dilakukan secara terencana untuk menjaga kebugaran.

Pekerja yang banyak bergerak selama menjalankan tugas belum tentu mendapatkan manfaat aktivitas fisik yang sama dengan olahraga atau aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur dan terukur.

Di sisi lain, tingginya aktivitas kerja juga membuat pekerja tetap membutuhkan asupan makanan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Pola makan yang tidak seimbang dapat memunculkan persoalan gizi meskipun aktivitas fisik selama bekerja tergolong tinggi.

Karena itu, pendekatan gizi kerja perlu mempertimbangkan karakteristik pekerjaan, kebutuhan energi, pola makan, aktivitas fisik, serta kondisi kesehatan masing-masing pekerja.

Gizi Kerja Perlu Masuk dalam Program K3

Temuan penelitian tersebut juga memperkuat pentingnya memperluas perspektif mengenai kesehatan dan keselamatan kerja atau K3.

Selama ini, program K3 sering dikaitkan dengan penggunaan alat pelindung diri, pencegahan kecelakaan, serta pengendalian berbagai potensi bahaya di lingkungan kerja.

Aspek tersebut tetap menjadi bagian penting dari K3. Namun, kesehatan pekerja juga perlu diperhatikan dari sisi yang lebih luas, termasuk pencegahan penyakit tidak menular melalui penguatan program gizi kerja.

Yunilla Prabandari, S.Gz., M.Gizi., menilai lingkungan kerja memiliki posisi strategis untuk menjalankan upaya promotif dan preventif terhadap penyakit tidak menular.

“Tempat kerja dapat menjadi lingkungan yang strategis untuk melakukan pencegahan penyakit tidak menular. Edukasi gizi, pemantauan status gizi dan tekanan darah, serta dukungan terhadap pola hidup sehat dapat dilakukan secara terintegrasi dengan program kesehatan dan keselamatan kerja,” jelas Yunilla.

Menurutnya, upaya tersebut tidak harus selalu diwujudkan dalam program yang kompleks. Edukasi mengenai pilihan makanan sehat, pengaturan pola makan sesuai kebutuhan pekerja, pemeriksaan berat badan dan tekanan darah secara berkala, serta dukungan terhadap aktivitas fisik dapat menjadi langkah awal.

Program sederhana yang dilakukan secara konsisten dinilai dapat membantu pekerja mengenali faktor risiko kesehatan sejak dini.

Dengan demikian, tempat kerja tidak hanya menjadi lokasi untuk menjalankan aktivitas produksi, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk membangun kesadaran dan kebiasaan hidup sehat.

Hasil Penelitian Diharapkan Mendorong Perubahan

Tim dosen Polinela berharap hasil penelitian tersebut tidak berhenti sebagai angka dalam laporan penelitian. Temuan mengenai hipertensi dan obesitas pada pekerja industri pengolahan tapioka diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk memperkuat program kesehatan pekerja.

Sejumlah faktor seperti karakteristik pekerjaan, status gizi, riwayat hipertensi, riwayat hipertensi dalam keluarga, serta aktivitas fisik perlu diperhitungkan ketika menyusun program gizi kerja dan K3.

“Harapannya, hasil penelitian ini tidak berhenti pada publikasi atau laporan penelitian, tetapi dapat menjadi dasar untuk memperkuat program gizi kerja dan K3 sehingga upaya menjaga kesehatan pekerja dilakukan secara lebih preventif dan berkelanjutan,” ungkap tim peneliti.

Ke depan, pendekatan kesehatan di lingkungan kerja diharapkan tidak hanya berfokus pada penanganan ketika pekerja sudah mengalami gangguan kesehatan. Upaya pencegahan dan promosi kesehatan perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk menekan berbagai faktor risiko penyakit tidak menular.

Pemeriksaan tekanan darah, pemantauan status gizi, edukasi pola makan, serta dukungan terhadap aktivitas fisik dapat menjadi bagian dari langkah preventif yang diterapkan di lingkungan industri.

Bagi industri, perhatian terhadap kesehatan pekerja juga berkaitan dengan keberlangsungan aktivitas produksi. Pekerja merupakan bagian penting dalam menjalankan seluruh proses produksi sehingga kondisi kesehatan mereka menjadi salah satu aspek yang perlu dijaga.

Penelitian dosen Polinela tersebut pada akhirnya membawa pesan bahwa produktivitas tidak seharusnya dipisahkan dari kesehatan. Kemampuan bekerja dan memenuhi target produksi perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga kondisi tubuh.

Pekerja bukan hanya bagian dari proses produksi, tetapi manusia yang membutuhkan lingkungan kerja yang mendukung kesehatan dan keselamatan.

Karena itu, menjaga kesehatan pekerja tidak semestinya hanya dipandang sebagai tambahan biaya. Upaya tersebut dapat menjadi bagian dari investasi jangka panjang untuk membangun tenaga kerja yang sehat, produktif, dan mampu menjalankan pekerjaannya secara berkelanjutan. (***)

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
Gabah Dilarang Keluar, Tapi Mengapa Masih Bisa...

Mengapa pembeli dari luar Lampung mampu menawarkan harga gabah...

7185


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved