Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Rakor Pengendalian Inflasi Daerah, Lampung Catatkan Penurunan Indeks Harga, Beras Jadi Tantangan Utama
Lampungpro.co, 19-Aug-2025

Febri 98660

Share

Pemprov Lampung Saat Ikuti Rakor Pengendalian Inflasi Daerah | Lampungpro.co/Dok Kominfo

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co): Staf Ahli Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung, Bani Ispriyanto, mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Daerah secara virtual di Ruang Command Center, Senin (19/8/2025).

Rapat ke-130 tersebut, dipimpin Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Tomsi Tohir, yang menekankan pentingnya setiap narasumber menyampaikan poin strategis, yang bisa segera ditindaklanjuti untuk menekan inflasi di daerah.

Deputi Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono memaparkan, inflasi nasional pada Juli 2025 tercatat sebesar 2,37 persen (year on year), naik dibandingkan Juni yang sebesar 1,87 persen, dengan komoditas utama penyumbang inflasi yakni beras (0,15 persen), bawang merah (0,10 persen), tomat (0,08 persen), dan cabai rawit (0,08 persen).

Beras tercatat menyumbang inflasi selama tiga bulan berturut-turut pada Mei-Juli 2025, sehingga pemerintah diminta untuk terus mewaspadai tren kenaikan harga beras, agar tidak memberi andil lebih besar pada inflasi. Namun sebaliknya, bawang putih justru menjadi komoditas penyumbang deflasi.

Berdasarkan data SP2KP hingga 15 Agustus 2025, tercatat 14 provinsi mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH), 22 provinsi turun, dan dua provinsi relatif stabil. Lampung sendiri, termasuk daerah dengan penurunan IPH sebesar -0,06 persen, didorong turunnya harga bawang putih, cabai rawit, dan cabai merah.

Harga beras di Lampung masih menunjukkan tren kenaikan, dimana rata-rata harga beras medium mencapai Rp14.012 perkilogram (naik 1,15 persen dibanding Juli 2025), sementara beras premium Rp15.435 (naik 0,82 persen).

Lalu minyak goreng kemasan merek Minyakita juga turun tipis 0,02 persen, namun masih di atas harga eceran tertinggi (HET). Sementara di wilayah Metro, harga Minyakita tercatat Rp15.500 perliter.

Sementara itu, harga cabai rawit turun signifikan pada minggu kedua Agustus 2025 sebesar 16,76 persen dibanding Juli 2025. Cabai merah juga turun tipis 0,03 persen, namun sebaliknya, bawang merah naik tajam 14,57 persen, telur ayam ras naik 0,47 persen, dan daging ayam ras turun 0,33 persen.

Dari sisi ketersediaan, Kepala Divisi Perencanaan Pelayanan Publik Perum Bulog, Rini Andrida melaporkan, realisasi penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) periode Juli-Desember 2025 mencapai 38,8 juta ton.

Penyaluran minyak goreng Minyakita juga sudah mencapai 93 persen per 15 Agustus 2025. Namun, Sekjen Kemendagri Tomsi Tohir mengingatkan, agar distribusi beras SPHP lebih merata ke pasar tradisional, karena harga di pasar tersebut masih relatif tinggi.

Sementara itu, Staf Ahli Menteri Bidang Investasi Pertanian, Suwandi turut menyoroti harga jagung yang masih berfluktuasi, akibat disparitas distribusi antara produsen dan peternak.

Lampung sendiri, tercatat sebagai salah satu dari lima daerah dengan luas panen jagung terbesar nasional, yakni 31.738 hektare pada Agustus 2025. Harga rata-rata jagung kering panen per 17 Agustus mencapai Rp5.249 perkilogram.

Selain isu pangan, Dirjen Perumahan Pedesaan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, Imran, juga menyampaikan progres program pembangunan 3 juta rumah.

Imran turut mengapresiasi pencapaian pemerintah daerah, dalam menerbitkan 100 persen Perkada PBG dan BPHTB. Lampung Selatan masuk peringkat kedua nasional dalam penerbitan dokumen PBG di wilayah pesisir (1.760 dokumen), sedangkan Bandar Lampung menempati urutan ke-14 untuk wilayah perkotaan (505 dokumen).

Imran juga memberikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah daerah, antara lain memperkuat layanan pengaduan konsumen perumahan, mengalokasikan bantuan rumah layak huni dalam APBD maupun APBDes, serta membebaskan bea PBG dan BPHTB bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). (***)

Editor : Febri Arianto

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya

Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved