Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Sempak Sobek, Sampai Tak Kebeli
Lampungpro.co, 21-Oct-2026

Sandy 340

Share

Ilustrasi AI : Mengenai Harga Kebutuhan Pokok yang terus naik

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co): Ada kalanya keresahan ekonomi tidak disampaikan melalui angka statistik, grafik inflasi, atau pidato panjang tentang daya beli masyarakat. Cukup lewat sebuah status media sosial, disertai kelakar sederhana yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Rabu pagi (21/10/2026), seorang teman mengunggah status yang menyinggung harga beras yang disebutnya menembus Rp16 ribu per kilogram. Unggahan itu kemudian berlanjut menjadi obrolan ringan, tetapi menyimpan kegelisahan tentang semakin banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi dengan kemampuan keuangan yang terbatas.

Dari harga beras, pikirannya melayang pada kebutuhan lain. Jika bahan pangan yang menjadi kebutuhan pokok saja terasa semakin mahal, bagaimana dengan pengeluaran rumah tangga lainnya? Mulai dari membeli lauk-pauk, membayar listrik, memenuhi kebutuhan anak, hingga mengganti barang pribadi yang sudah tidak layak digunakan.

Dalam status tersebut, ia melontarkan sebuah kalimat yang terdengar lucu sekaligus menyentil keadaan.

“Sekarang ini mau beli sempak aja harus mikir ratusan kali. Semuanya pada naek harga,” tulisnya.

Kalimat itu mungkin hanya sebuah kelakar di media sosial. Namun, di balik pilihan kata yang sederhana dan mengundang senyum tersebut, terselip gambaran tentang bagaimana tekanan biaya hidup bisa terasa sampai ke kebutuhan yang paling pribadi sekalipun.

Sebab, bagi sebagian orang, membeli pakaian dalam mungkin bukan perkara besar. Barang itu tidak semahal telepon genggam, kendaraan, atau perabot rumah tangga. Akan tetapi, ketika pengeluaran harus benar-benar diatur, kebutuhan sekecil apa pun tetap masuk hitungan.

Apalagi jika kondisi keuangan sedang tidak longgar. Barang yang sudah menipis, berlubang, atau sobek mungkin belum tentu langsung diganti. Bukan karena tidak tahu barang tersebut sudah waktunya dibeli baru, melainkan karena ada kebutuhan lain yang dianggap lebih mendesak.

Beras harus tersedia. Dapur harus tetap mengepul. Uang belanja perlu dibagi agar cukup sampai akhir pekan atau menjelang hari gajian berikutnya. Di tengah berbagai kebutuhan tersebut, membeli barang pribadi pun bisa berubah menjadi pertimbangan panjang.

Ungkapan “sempak sobek, sampai tak kebeli” memang terdengar jenaka. Namun, kelakar seperti ini kerap menjadi cara masyarakat menyampaikan keresahan tanpa harus mengatakannya secara gamblang.

Tidak semua orang nyaman bercerita tentang kondisi keuangan keluarganya. Ada yang memilih diam, ada pula yang menyampaikannya melalui candaan. Dengan begitu, keluhan tentang mahalnya kebutuhan hidup dapat muncul dalam bentuk yang lebih santai, meski persoalan yang dibicarakan sesungguhnya tidak sederhana.

Di ruang media sosial, kalimat semacam itu juga mudah dipahami karena berangkat dari pengalaman yang akrab. Hampir setiap rumah tangga memiliki daftar kebutuhan yang harus dipenuhi, sementara kemampuan belanja setiap orang berbeda-beda.

Ketika pengeluaran bertambah, masyarakat biasanya mulai memilah mana yang harus dibeli sekarang dan mana yang masih bisa ditunda. Kebutuhan yang sebelumnya dianggap biasa pun bisa masuk daftar tunggu.

Bukan hanya soal membeli barang baru, tetapi juga tentang bagaimana mempertahankan pengeluaran agar tidak melampaui pemasukan. Ada yang mengurangi jajan, memilih merek yang lebih murah, menunda membeli pakaian, atau lebih cermat menghitung belanja dapur.

Dalam situasi seperti itu, persoalan ekonomi tidak selalu hadir dalam bentuk keputusan besar. Terkadang, tekanan justru terasa melalui pilihan-pilihan kecil yang harus dibuat berulang kali setiap hari. (***)

Penulis : Sandy

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya

Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved