Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Tepuk Tangan, Air Mata, dan Guru PPPK Paruh Waktu Bandar Lampung
Lampungpro.co, 21-Feb-2026

Admin 258

Share

Pimpinan Media Muhammad Asyihin. Lampungpro.co/doc

Suara tepuk tangan dan sorak gembira pecah menggema dari dalam GSG Karya Bakti Herman H.N. Lagi-lagi suara gaduh tetapi kali ini bukan karena amarah, bukan pula karena tuntutan. Ini gaduh yang lahir dari harapan. Sekitar 1.500 guru PPPK Paruh Waktu, termasuk operator dan staf tata usaha sekolah di Kota Bandar Lampung, larut dalam suasana yang sulit dijelaskan dengan kata-kata saat mendengar langsung pernyataan Wali Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana.

Penulis yang berada di luar gedung sempat tertegun. Ada apa di dalam? Mengapa riuhnya terasa berbeda? Ini bukan riuh biasa. Ini riuh kebahagiaan. Sorak “bunda terbaik”, “terima kasih bunda”, dan kalimat-kalimat syukur lain terdengar jelas menembus dinding, menembus pintu. Penulis tahu betul, sebab saat itu hanya bisa duduk di luar. Bukan karena tak ingin ikut merayakan, melainkan karena memang bukan guru. Namun harapan, rupanya, tidak mengenal batas ruangan.

Baca juga: Validasi Perbulan, Bukti Guru Masih Hidup

Keriuhan itu makin meninggi ketika disampaikan bahwa apa yang baru saja diucapkan sang wali kota bukan sekadar wacana. Ia akan segera diproses. Mulai Senin depan jika penulis tidak salah menangkap—23 Februari 2026, dengan penegasan paling lambat Selasa. Dan dibayarkan dua bulan sekaligus. Di titik itulah suasana berubah. Tangis mulai terdengar. Bukan tangis yang dibuat-buat, melainkan tangis lega setelah bertahun-tahun menahan beban dalam diam.

Bagi guru PPPK Paruh Waktu, kalimat itu terasa seperti angin segar di ruangan pengap. Seperti air dingin bagi dahaga yang terlalu lama ditahan. Status “paruh waktu” sering kali terasa seperti bekerja penuh, namun hidup setengah. Aktivitas mereka sama seperti guru PNS atau PPPK penuh waktu—datang pagi sekitar pukul tujuh, pulang menjelang sore. Maka ketika ada pengakuan, sekecil apa pun bentuknya, ia terasa sangat besar di hati.

Janji itu akhirnya disebutkan dengan terang: penghasilan bulanan sebesar Rp1,5 juta, dibayarkan dua bulan sekaligus, dan ditransfer langsung ke rekening masing-masing. Tepuk tangan kembali pecah saat disampaikan bahwa anggaran telah ditandatangani dan diserahkan ke Dinas Pendidikan untuk diproses. Di titik ini, optimisme terasa nyata bukan janji yang diplintir, melainkan komitmen yang katanya sudah dikunci.

1 2 3

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya

Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved