Masih ada anak sekolah yang berjalan kaki cukup jauh. Masih ada yang berdesakan di angkot yang jumlahnya makin hari makin “langka”, seperti spesies yang terancam punah. Bahkan, kalau mau jujur, fenomena “bergelantungan” itu belum benar-benar punah hanya berganti generasi.
Bedanya, sekarang pilihan memang terlihat lebih banyak. Ada Gojek, ada Grab. Tapi pilihan itu tidak selalu ramah di kantong semua orang. Ongkos yang bagi sebagian orang “normal”, bagi yang lain bisa jadi “mikir dua kali atau jalan kaki saja sekalian sehat”.
Di sisi lain, kita juga melihat fenomena menarik: parkiran sekolah yang mulai menyerupai showroom mini. Motor berjejer, bahkan mobil pun tak kalah. Ini seperti memberi sinyal halus atau mungkin terlalu halus bahwa “transportasi bukan masalah lagi”.
Padahal, itu hanya sebagian cerita. Yang punya kendaraan memang terbantu. Tapi yang tidak? Mereka tetap berada di cerita lama yang belum selesai ditulis ulang.
Di titik ini, muncul pertanyaan sederhana tapi agak “mengganggu”: apakah karena sebagian sudah mampu, lalu yang belum dianggap bisa menyusul sendiri?
Transportasi publik sering dipandang sebagai proyek mahal. Benar, membangun sistem itu tidak murah. Tapi mungkin kita perlu menggeser cara pandang: ini bukan soal untung-rugi seperti berdagang di Pasar Pasir Gintung. Ini soal layanan dasar.
Kalau jalan bisa dibangun tanpa harus menghasilkan uang langsung, kenapa transportasi publik harus selalu ditanya “balik modalnya kapan?”
Berikan Komentar
KOPI PAHIT
563
Kominfo LamSel
751
Kominfo LamSel
935
Bandar Lampung
680
191
23-Apr-2026
345
23-Apr-2026
563
23-Apr-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia