Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Ubah Limbah Kulit Kopi Jadi Berkah, Polinela Kenalkan “Eco-Briquette Smart Fire” Kepada Petani Lampung Barat
Lampungpro.co, 01-Oct-2026

Sandy 278

Share

Dosen Polinela saat memberikan pelatihan teknologi pengolahan limbah kulit kopi menjadi briket bioarang di Lampung Barat | LAMPUNGPRO.CO/IST

LAMPUNG BARAT (Lampungpro.co) : Limbah kulit kopi yang selama ini menjadi persoalan lingkungan di sentra perkebunan Lampung Barat mulai diubah menjadi produk bernilai ekonomi oleh tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Politeknik Negeri Lampung (Polinela).

Melalui inovasi “Eco-Briquette Smart Fire”, tim PkM Polinela mengembangkan teknologi pengolahan limbah kulit kopi menjadi briket bioarang untuk Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Lampung Robusta di Kabupaten Lampung Barat.

Program yang didanai melalui skema DIPA Polinela tersebut melibatkan Dwi Eva Nirmagustina, Chandra Utami Wirawati, Winarto, Sri Handayani, dan Marbudi. Tim juga melibatkan tiga mahasiswa, yakni Alfisani Adi Prasetyo, Erwin Gutawa Siagian, dan Lestari Doloksaribu.

Lampung Barat selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi kopi Robusta di Provinsi Lampung. Namun, tingginya produksi kopi juga menghasilkan limbah kulit kopi dalam jumlah besar dari proses pengolahan pascapanen.

Limbah kulit kopi dari proses pengolahan kering maupun basah diperkirakan mencapai 40-45 persen dari bobot total buah kopi. Jika tidak dikelola, limbah tersebut dapat menumpuk dan menimbulkan berbagai persoalan lingkungan.

Tumpukan limbah dapat memunculkan bau tidak sedap, meningkatkan keasaman tanah, hingga menghasilkan gas metana ketika mengalami pembusukan. Sebagian limbah juga masih dibakar secara terbuka oleh masyarakat sehingga berpotensi menambah polusi udara di kawasan perkebunan.

Persoalan tersebut juga berkaitan dengan keterbatasan pengetahuan teknis petani dalam mengolah limbah kulit kopi menjadi produk bernilai tambah. Di sisi lain, pengembangan kewirausahaan berbasis lingkungan atau green sociopreneurship di tingkat kelompok tani masih perlu diperkuat.

Tim PkM Polinela kemudian menghadirkan Eco-Briquette Smart Fire sebagai salah satu solusi. Inovasi ini menghasilkan briket berbentuk prisma heksagonal dengan rongga di bagian tengah atau hollow.

Briket tersebut dibuat melalui proses karbonisasi menggunakan teknologi pirolisis tertutup dengan campuran perekat alami berbahan tapioka serta bahan akselerator untuk membantu proses penyalaan.

Rongga pada bagian tengah briket dirancang untuk menciptakan efek cerobong atau chimney effect. Desain tersebut membantu memperlancar sirkulasi oksigen sehingga briket dapat menyala lebih cepat.

Dengan teknologi tersebut, briket diklaim mampu menyala dalam waktu sekitar 3-5 menit, lebih cepat dibandingkan briket konvensional. Pembakarannya juga dirancang lebih stabil dengan sisa abu yang relatif minim.

Program PkM tersebut telah menghasilkan sejumlah capaian di lokasi mitra. Tim menyerahkan satu unit alat karbonisasi atau kiln pirolisis tertutup berkapasitas 200 liter dan satu unit mesin cetak briket hollow.

Kedua peralatan tersebut telah digunakan oleh mitra dan dapat dioperasikan dengan baik. Dari proses produksi awal, mitra mampu menghasilkan sekitar 10-20 kilogram briket per hari.

Selain menyediakan teknologi, tim PkM Polinela juga memberikan pelatihan kepada anggota inti kelompok produksi agar mampu mengoperasikan sekaligus melakukan perawatan mesin secara mandiri dan aman.

Pendampingan kemudian diperluas ke aspek pengembangan usaha. Tim membantu mitra membangun embrio workshop produksi skala rumah tangga, menyusun jadwal kerja, hingga mengenalkan pencatatan buku kas sederhana sebagai dasar pengelolaan usaha.

Dari sisi lingkungan, penerapan teknologi tersebut mulai memberikan dampak dengan berkurangnya tumpukan limbah kulit kopi di sekitar lokasi mitra. Pengolahan dilakukan tanpa menghasilkan polusi asap baru sehingga sejalan dengan konsep zero waste.

Dalam pelaksanaannya, tim menggunakan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) dengan melibatkan anggota Gapoktan secara aktif sejak tahap sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, hingga evaluasi.

Melalui diskusi kelompok terarah atau FGD, tim bersama mitra juga menyusun struktur kepengurusan unit usaha briket. Pembagian tugas dilakukan mulai dari produksi, pengemasan, hingga pemasaran sebelum mitra memasuki tahap produksi secara mandiri.

Tim PkM Polinela menilai program tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan limbah, tetapi juga menyentuh aspek energi, lingkungan, dan kemandirian ekonomi masyarakat pedesaan.

Inovasi Eco-Briquette Smart Fire juga sejalan dengan sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain SDG 7 tentang energi bersih dan terjangkau, SDG 8 mengenai pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta SDG 13 terkait penanganan perubahan iklim.

Melalui inovasi tersebut, limbah kulit kopi yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan berupaya diubah menjadi sumber energi alternatif sekaligus produk bernilai ekonomi bagi masyarakat. (***)

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
Ketika Sekolah Jadi Mesin Setoran: Dana BOS,...

Seperti lilin. Memberi cahaya kepada orang lain, tetapi perlahan...

3120


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved