Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Angkot Bukan Bus Sekolah: Ketika Anak-anak Dipaksa Bertaruh Nyawa di Jalanan Kota
Lampungpro.co, 23-Apr-2026

Sandy 383

Share

Pelajar yang bergelantungan di angkot Panjang di Jalan Yos Sudarso, Telukbetung Selatan | LAMPUNGPRO.CO

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co) : Narasi besar tentang kemajuan digital di Provinsi Lampung kerap digaungkan. Layanan berbasis teknologi mulai merambah berbagai sektor, dari pemerintahan hingga perdagangan.

Namun di balik geliat itu, ada satu ironi yang tak kunjung tersentuh yakni transportasi umum yang tetap berjalan di tempat, seolah tertinggal jauh dari zaman.

Di tengah klaim sebagai kota metropolitan, Bandar Lampung justru memperlihatkan wajah lain yang lebih getir. Bukan soal gedung tinggi atau jaringan internet cepat, melainkan bagaimana anak-anak sekolah masih harus berjibaku dengan sistem transportasi yang jauh dari kata layak.

Pemandangan itu bukan cerita lama. Pada Rabu (22/4/2026), di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Way Lunik, Kecamatan Telukbetung Selatan, realitas itu terlihat jelas. Sejumlah pelajar tampak menunggu angkutan kota terakhir dengan wajah cemas.

Ketika kendaraan datang, mereka tak lagi punya pilihan. Tubuh-tubuh muda itu berdesakan, bahkan ada yang terpaksa bergelantungan di pintu angkot, diterpa debu dan angin jalanan, hanya demi bisa pulang tepat waktu.

Situasi tersebut bukan sekadar potret ketidaknyamanan, melainkan gambaran nyata tentang risiko yang dipertaruhkan setiap hari. Anak-anak yang seharusnya fokus belajar dan mengembangkan diri, justru dihadapkan pada ancaman keselamatan hanya untuk perjalanan pulang.

Di sinilah letak keganjilan itu. Bagaimana mungkin sebuah ibu kota provinsi, yang digadang-gadang sebagai gerbang Sumatera, belum mampu menghadirkan solusi transportasi dasar bagi pelajarnya?

Padahal di banyak daerah lain, bahkan yang lebih kecil, layanan bus sekolah telah menjadi bagian dari kebijakan publik untuk menjamin keamanan dan kenyamanan siswa.

Bus sekolah bukan sekadar fasilitas tambahan. Ia adalah bentuk kehadiran negara dalam memastikan akses pendidikan yang aman. Dengan sistem transportasi yang terencana, anak-anak tidak perlu berebut ruang di angkot, apalagi mempertaruhkan keselamatan di jalan raya.

Ketiadaan inovasi di sektor ini menunjukkan adanya celah dalam perencanaan pembangunan. Digitalisasi tanpa diimbangi pembenahan infrastruktur dasar hanya akan melahirkan kemajuan yang timpang.

Kota bisa saja terlihat modern di permukaan, tetapi rapuh dalam hal-hal mendasar yang menyangkut kehidupan warganya.

Pemerintah daerah seharusnya melihat persoalan ini sebagai prioritas, bukan sekadar isu pinggiran.

Transportasi pelajar adalah investasi jangka panjang. Ia berkaitan langsung dengan keselamatan generasi muda, sekaligus mencerminkan kualitas tata kelola kota.

Sudah saatnya pendekatan lama ditinggalkan. Angkot, dengan segala keterbatasannya, tidak bisa terus dijadikan tumpuan utama bagi pelajar.

Tanpa pembaruan sistem, tanpa keberanian menghadirkan solusi baru seperti bus sekolah atau transportasi publik terintegrasi, maka risiko yang sama akan terus berulang setiap hari.

Bandar Lampung tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk berpikir lebih jauh dan bertindak lebih nyata. (***)

Editor : Sandy,

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya

Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved