“Aku tahu, Bi. Aku tidak menyalahkanmu. Aku cuma bingung, kenapa kita bekerja sebulan penuh, tetapi uangnya selalu habis sebelum bulan berakhir.”
Febi terdiam. Kalimat itu terasa seperti pertanyaan yang selama ini juga ia simpan sendirian.
“Mas, air minum galon sepuluh buah juga Rp130 ribu. Les bahasa Inggris anak Rp150 ribu, les mengaji Rp100 ribu.”
Andi mengangguk, lalu berkata, “Untung sekolah anak-anak sudah gratis berkat program Bunda Vava, wali kota kita. Kalau masih harus membayar uang sekolah setiap bulan, entah bagaimana kita mengaturnya.”
“Iya, Mas. Kita bersyukur. Tapi sekolah gratis bukan berarti semua kebutuhan anak ikut gratis. Mereka tetap perlu belajar, makan, dan tumbuh dengan baik.”
Andi kembali menatap layar ponselnya. Angka-angka itu terus bertambah, sementara gajinya tetap sama.
“Bensin juga, Mas,” kata Febi. “Tiga ratus ribu untuk motormu pulang-pergi bekerja, tiga ratus ribu lagi untuk motorku mengantar dan menjemput anak sekolah serta les. Total Rp600 ribu.”
Andi mengusap wajahnya.
“Benar. Kita bahkan mengeluarkan uang untuk pergi bekerja dan mengurus anak-anak. Bukan untuk jalan-jalan.”
“Belum iuran arisanku Rp300 ribu sebulan,” tambah Febi. “Memang nanti kita dapat giliran, tetapi setiap bulan uang itu tetap harus disisihkan.”
Berikan Komentar
Ketika Seorang Ayah Bekerja Sebulan Penuh, tetapi Tetap Tak...
256
Lampung Selatan
890
Polinela
1073
255
25-Oct-2026
258
25-Oct-2026
433
25-Oct-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia