“Aku juga akan membantu sebisaku, Mas. Kita cari jalan bersama. Tapi kamu juga harus menjaga kesehatan. Jangan sampai kamu jatuh sakit karena terus memaksakan diri.”
Andi mengangguk.
Ia bersyukur tidak memiliki utang. Ia bersyukur anak-anaknya bisa bersekolah tanpa biaya sekolah. Ia bersyukur masih memiliki keluarga yang saling menguatkan.
Namun, ia juga tahu rasa syukur tidak menghapus tagihan listrik, tidak mengisi tangki bensin, dan tidak membuat harga kebutuhan pokok menjadi lebih murah.
Malam semakin larut. Andi mematikan layar ponselnya. Gajinya masih Rp3,3 juta. Kebutuhan keluarganya tetap sekitar Rp5 juta. Selisih Rp1,7 juta itu belum menemukan jawaban.
Sebelum masuk kamar, ia menatap Febi dan berkata lirih,
“Bi, kalau suatu hari keadaan kita sudah lebih baik, aku ingin anak-anak mengerti bahwa dulu ayah dan ibunya pernah berjuang keras. Bukan supaya mereka merasa kasihan, tetapi supaya mereka tahu betapa besar cinta yang membuat kita bertahan.”
Febi mengangguk sambil mengusap air matanya.
Malam itu, mereka tidur dengan persoalan yang belum selesai. Besok pagi, Andi akan kembali bekerja. Febi kembali mengurus rumah dan anak-anak. Kehidupan akan berjalan seperti biasa, seolah tidak ada apa-apa.
Padahal, di dalam hati mereka, ada kekhawatiran yang harus kembali disembunyikan.
Berikan Komentar
Ketika Seorang Ayah Bekerja Sebulan Penuh, tetapi Tetap Tak...
258
Lampung Selatan
890
Polinela
1073
257
25-Oct-2026
258
25-Oct-2026
433
25-Oct-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia