Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Gubernur Mirza Tinjau Bed Dryer di Pringsewu, Pengeringan Gabah Kini Lebih Mudah
Lampungpro.co, 15-Aug-2026

Adi 159

Share

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal Meninjau Penggunaan Mesin Pengering Gabah | Lampungpro.co/Dok.Kominfo

PRINGSEWU (Lampungpro.co): Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meninjau penggunaan mesin pengering gabah di Desa Sumber Agung, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu, Jumat (14/8/2026).

Mesin tersebut merupakan bagian dari Program Desaku Maju yang digagas Pemerintah Provinsi Lampung untuk memperkuat pengolahan hasil pertanian di tingkat desa. Kehadiran bed dryer diharapkan dapat mempercepat proses pascapanen sekaligus menjaga kualitas gabah, terutama saat musim hujan.

Gubernur yang akrab disapa Mirza itu mengatakan, teknologi bed dryer menjadi solusi bagi petani yang selama ini bergantung pada panas matahari untuk mengeringkan gabah. Selain membutuhkan waktu lebih lama, pengeringan secara manual juga terkendala cuaca.

“Ini namanya Program Desaku Maju. Jadi nanti desa ini tadinya jual produksi mentah, tahun depan sudah bisa produksi beras berkualitas tinggi, pakan ayam, hingga pakan ikan,” ujar Mirza.

Menurutnya, pengeringan gabah di desa tidak hanya membuat proses pascapanen lebih cepat, tetapi juga memberikan keleluasaan bagi petani dalam menyimpan dan menjual hasil panen.

Gabah yang sudah kering dengan kadar air sesuai standar dapat disimpan lebih lama. Dengan begitu, petani tidak harus buru-buru menjual hasil panen ketika harga sedang rendah.

“Manfaatnya harga gabahnya naik. Selain itu, petani tidak takut harga jatuh karena kalau sudah kering bisa disimpan sampai setahun dengan bagus,” katanya.

Mirza juga menjelaskan, pengeringan gabah sebelum diangkut keluar desa dapat mengurangi beban distribusi. Sebab, gabah basah memiliki kandungan air lebih tinggi sehingga menambah berat muatan kendaraan.

“Kalau kita keringkan di desa, mobil yang lewat desa lebih ringan dan lebih jarang, jadi jalan-jalan di desa akan lebih terjaga,” ujarnya.

Ia menegaskan, bed dryer bukan sekadar bantuan peralatan, melainkan bagian dari upaya mengubah pola pengelolaan hasil pertanian. Setelah dikeringkan, gabah diharapkan dapat digiling dan diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah di desa.

“Bapak jual padi dibawa ke kota dijadikan beras, lalu Bapak beli lagi berasnya di desa. Jadi jalan bolak-balik. Kalau sekarang tidak perlu, di sini jadi beras, keluarnya sudah dalam bentuk beras,” jelasnya.

Dalam pengembangan tersebut, Mirza turut mendorong keterlibatan generasi muda. Menurutnya, anak muda dapat mengambil peran dalam pengoperasian teknologi, pengembangan produk, pembuatan merek, hingga pemasaran hasil pertanian.

“Tugasnya anak muda tidak boleh jadi petani saja, tapi harus membantu desa menghilirisasi komoditas agar punya nilai tambah. Anak muda harus jadi motor untuk teknologi dan marketing,” kata Mirza.

Selain pengolahan hasil panen, Pemprov Lampung juga mendorong desa mengembangkan input pertanian secara mandiri, termasuk pupuk organik cair (POC). Dengan demikian, kegiatan produksi, pengeringan, pengolahan, pemasaran, hingga penyediaan sarana produksi dapat dilakukan secara bertahap di desa.

“Jangan hanya jual gabah. Kalau sudah kering bisa dijadikan beras dan katul. Begitu juga jagung, bisa jadi pakan ayam dan ikan agar ekonomi berputar di desa,” ujarnya.

Untuk memperkuat fasilitas pascapanen, Pemprov Lampung menyalurkan 82 unit mesin bed dryer ke 12 kabupaten dan satu kota pada 2026.

Khusus di Kabupaten Pringsewu, dua unit bed dryer pada tahun ini ditempatkan di Desa Sumber Agung dan Desa Tanjung Anom, Kecamatan Ambarawa. Sebelumnya, Pringsewu telah menerima tiga unit dryer pada 2025 yang ditempatkan di Desa Mataram dan Desa Tambahrejo, Kecamatan Gadingrejo.

Manfaat alat tersebut mulai dirasakan petani di Desa Sumber Agung. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Sumber Agung, Tasbiah, mengatakan, sebelum ada bed dryer, petani harus mengeringkan gabah secara manual di halaman rumah dengan mengandalkan cuaca.

“Sebelum ada dryer ini, petani mengeringkan gabah secara manual di halaman rumah. Kalau waktu musim hujan itu agak lama karena kendala cuaca, jadi sangat merepotkan,” ungkapnya.

Kini, gabah yang baru dipanen dapat langsung dikeringkan menggunakan mesin sehingga petani tidak terlalu bergantung pada kondisi cuaca.

“Setelah ada alat ini, alhamdulillah sangat membantu petani untuk mengeringkan gabah yang langsung dari sawah,” katanya.

Ketua Kelompok Tani Sumber Tani, Sandi, juga menyebut waktu pengeringan menjadi salah satu perubahan yang paling dirasakan petani.

Sebelum menggunakan bed dryer, kelompok tani membutuhkan waktu sekitar 15 hari untuk mengeringkan gabah dengan kapasitas 20 ton. Lamanya proses tersebut dinilai berpengaruh terhadap kualitas hasil panen.

“Sebelum mendapatkan bed dryer, kami kesulitan dalam hal pengeringan. Untuk kapasitas 20 ton itu butuh waktu kurang lebih 15 hari, sehingga sangat menurunkan kualitas produksi,” ujarnya.

Sandi berharap keberadaan mesin tersebut dapat membantu kelompok tani menjaga kualitas gabah, memperluas jangkauan pemasaran, dan meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian.

“Mudah-mudahan dryer ini dapat menjaga dan meningkatkan kualitas produksi tani kami agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas serta meningkatkan nilai ekonomisnya,” kata Sandi.

Melalui Program Desaku Maju, Pemprov Lampung mendorong agar hasil pertanian desa tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah. Penguatan proses pengeringan, pengolahan, dan pemasaran diharapkan dapat menciptakan nilai tambah sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat desa.

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
Mereka Turun ke Jalan

Saya melepas mereka dengan bangga. Sayangnya, kebanggaan tidak otomatis...

630


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved