Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Inovasi PHC dari Gubernur Lampung Buktikan Hasil, Saatnya Petani Lampung Beralih ke Pupuk Hayati Cair
Lampungpro.co, 19-Apr-2026

Febri 312

Share

Monev Kegiatan PHC Pertanian Lampung | Ist/Lampungpro.co

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co): Langkah Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, melalui program "Desaku Maju," layak mendapat perhatian serius, terutama dari kalangan petani.

Program ini tidak hanya sekadar wacana, melainkan telah menunjukkan hasil nyata di lapangan, khususnya melalui inovasi Pupuk Hayati Cair (PHC).

PHC sendiri, hadir sebagai solusi sederhana namun berdampak besar. Berbahan dasar limbah rumah tangga seperti air cucian beras dan air kelapa, pupuk ini diolah menjadi nutrisi tanaman yang terbukti mampu meningkatkan kesuburan tanah dan hasil panen.

Di tengah ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang mahal dan kerap langka, PHC menawarkan alternatif yang murah, mudah, dan berkelanjutan. Sejak diluncurkan pada 2025, program PHC telah menjangkau 500 titik di 15 kabupaten/kota di Lampung.

Hingga April 2026, total sudah ada 31.327 petani telah mengaplikasikan PHC di lahan seluas 25.697 hektare, terutama untuk komoditas padi. Hasilnya tidak bisa dianggap remeh, berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (PTPH) Lampung, penggunaan PHC mampu meningkatkan produktivitas padi hingga 24,95 persen dan jagung 21,72 persen.

Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan perubahan nyata di lapangan. Testimoni petani memperkuat data tersebut. Gapoktan Barokah di Desa Bumiwijaya, Lampung Utara, misalnya, mengaku hasil panen padi meningkat dari 6 ton menjadi 7,5 ton setelah menggunakan PHC.

Sementara petani melon di Tanggamus menyebut, kualitas buah lebih baik dan hasil panen meningkat signifikan dibandingkan penggunaan pupuk konvensional.

Tak hanya meningkatkan hasil, PHC juga berdampak pada kesehatan tanaman. Daun lebih hijau, batang lebih kuat, dan serangan hama cenderung menurun.

Ini menjadi bukti, pendekatan organik bukan sekadar tren, tapi kebutuhan jangka panjang bagi pertanian yang berkelanjutan.
Lebih jauh, PHC menjadi bagian dari strategi besar membangun kemandirian desa.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung menargetkan pada tahun 2027 mendatang, 2.651 desa mampu memproduksi dan menggunakan pupuk organik cair secara mandiri. Target ini disusun bertahap, dari 500 desa pada 2025, meningkat menjadi 1.500 desa di 2026, hingga menjangkau seluruh desa di 2027.

Jika target ini tercapai, maka dampaknya tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga efisiensi biaya dan stabilitas harga. Petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan pupuk dari luar.

Lalu desa juga memiliki cadangan sendiri, yang menjadi sebuah langkah strategis yang selama ini jarang disentuh kebijakan daerah. Dalam konteks ekonomi, PHC juga membuka ruang baru.

Petani tidak hanya sebagai pengguna, tetapi juga produsen input pertanian, dan erputaran ekonomi terjadi di desa, yang tentunya dapat memperkuat daya tahan ekonomi lokal.

Namun demikian, tantangan tetap ada, di mana pendampingan teknis, konsistensi penggunaan, serta perubahan pola pikir petani menjadi kunci keberhasilan.

Peralihan dari pupuk kimia ke organik tidak bisa terjadi secara instan, sehingga dibutuhkan edukasi berkelanjutan dan bukti nyata, yang kini mulai terlihat.

Penghargaan KWP Award 2026 yang diraih Gubernur Lampung, sebagai penggerak ekonomi agrikultur dan ketahanan pangan menjadi legitimasi atas arah kebijakan ini. Namun lebih dari itu, keberhasilan program ini akan diukur dari sejauh mana ia mampu bertahan dan berkembang di tingkat petani.

Pada akhirnya, program "Desaku Maju" bukan sekadar program pemerintah. Ia adalah taruhan besar masa depan pertanian Lampung. (***)

Editor : Febri Arianto

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya

Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved