MAGELANG (Lampungpro.co) : Setiap tanggal 1 Juli, ada rasa yang sulit saya jelaskan dengan kata-kata. Saat barisan menegak dan lagu kebangsaan mengalun di lapangan upacara, dada ini terasa penuh. Tahun ini rasa itu menjadi lebih khidmat, sebab bangsa kita memperingati delapan dekade perjalanan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Hari Bhayangkara ke-80, dengan tema “80 Tahun Mengabdi untuk Masyarakat”, bukan sekadar seremoni tahunan. Bagi saya, seorang taruna yang masih menempa diri di Lembah Akademi, hari ini adalah cermin untuk bertanya: pantaskah saya kelak menyandang seragam ini?
Saya ingin jujur sejak awal. Jalan saya menuju Akpol tidak ditempuh dalam sekali tarikan napas. Saya gagal dua kali. Dua tahun berturut-turut saya pulang dengan kepala tertunduk, dengan hasil yang sama: belum lolos. Ada malam-malam ketika saya nyaris percaya bahwa cita-cita ini terlalu besar untuk anak seperti saya. Namun pada percobaan ketiga, pintu yang dua kali tertutup itu akhirnya terbuka. Hari ini saya berdiri di tingkat tiga, semakin dekat dengan janji yang dulu hanya berani saya bisikkan dalam hati.
Kegagalan, saya sadari sekarang, bukan lawan dari keberhasilan. Ia adalah bagian dari proses penempaan itu sendiri. Besi tidak menjadi pedang hanya dengan dipuji. Ia harus dibakar, dipukul, dan ditempa berulang kali hingga kuat dan tajam. Dua kegagalan saya bukanlah kehinaan, melainkan tempaan yang mengajari saya arti ketekunan, kerendahan hati, dan tekad yang tidak mudah patah. Setiap calon Bhayangkara yang pernah merasakan pahitnya gagal lalu bangkit lagi, sesungguhnya sedang membentuk karakter yang justru paling dibutuhkan oleh institusi ini: pantang menyerah dalam keadaan paling sulit sekalipun.
Lalu, apa arti berprestasi bagi seorang taruna? Sejak hari pertama menginjak Akademi, kami diajarkan bahwa prestasi tidak diukur semata dari medali, peringkat kelas, atau pujian. Prestasi sejati seorang taruna adalah ketika ia mampu mengalahkan versi dirinya yang kemarin. Bangun lebih pagi, berlari lebih jauh, membaca lebih banyak, dan yang terpenting, menjaga integritas ketika tidak ada seorang pun yang mengawasi. Di asrama, di lapangan, di ruang kuliah, kami diingatkan bahwa kecerdasan tanpa karakter adalah bahaya, dan kekuatan tanpa kejujuran hanyalah ancaman. Maka berprestasi, bagi kami, adalah menyatukan ilmu, jasmani, dan moral menjadi satu pribadi yang utuh dan dapat dipercaya.
Tema Hari Bhayangkara tahun ini terasa begitu dekat dengan apa yang setiap hari kami latih. “Mengabdi untuk Masyarakat” bukan jargon yang ditempel di spanduk lalu dilupakan. Ia adalah arah dari seluruh tetes keringat kami di Akademi. Untuk apa seorang taruna berlatih keras jika bukan agar kelak ia mampu hadir bagi rakyat yang membutuhkan? Untuk apa kami menempa ketangguhan jika bukan untuk melindungi yang lemah, mengayomi yang takut, dan melayani tanpa membedakan? Polri hari ini bergerak dengan semangat Presisi, yakni prediktif, bertanggung jawab, serta transparan dan berkeadilan. Semangat itulah yang sejak dini ditanamkan kepada kami sebagai generasi penerus, agar pengabdian delapan dekade ini tidak terhenti, melainkan diteruskan dengan wajah yang semakin modern, humanis, dan dicintai masyarakat.
Berikan Komentar
267
01-Jul-2026
432
30-Jun-2026
431
30-Jun-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia