Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Kenangan Lebaran di Lampung, Ngegaleu Dodol dan Doa Dalam Sepotong Wajik
Lampungpro.co, 30-Mar-2025

Amiruddin Sormin 2292

Share

Penganan Lebaran khas Lampung dodol dan wajik. DOK.WARGA

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co): Hari terakhir Ramadan selalu membawa rasa haru. Suasana penuh doa, harapan, dan kehangatan kembali menyelimuti setiap sudut rumah “MEpet saWAH”, Tanjungsenang.

Esok, IdulFitri akan tiba, mengetuk pintu hati, mengajak kita pulang, bukan hanya ke rumah, tapi juga ke kenangan manis.

Pagi ini, usai santap sahur terakhir di bulan Ramadan 1446H, seraya berdoa semoga diberikan kesehatan, kebahagiaan, dan dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan, saya kembali menyelesaikan tulisan ini.

Tulisan-tulisan yang semoga kelak menjadi warisan dan kenangan untuk masa depan, untuk Lampung tercinta. Dan salah satu kenangan paling manis, saat menjelang lebaran, bagi ulun Lampung adalah aroma wajik dan dodol yang mengepul dari dapur menjelang Lebaran.

Sebelum kita larut dalam cerita, mari kita buka dengan pantun kecil:

Kuda mana yang tuan senangi;. Tentu yang hitam cepat larinya;

Gadis mana yang tuan cari; dan Gadis Lampung putih kulitnya.

Begitu pula dengan wajik dan dodol, dua sajian yang sejak dahulu tak pernah absen dari lebaran ulun Lampung. Wajik dan dodol bukan sekadar penganan. Keduanya adalah warisan, pelajaran, dan lambang cinta yang disimpan dalam manisnya gula dan lengketnya ketan.

Terbuat dari bahan sederhana, ketan hitam, gula aren, santan kelapa, namun memerlukan waktu panjang dan kesabaran besar untuk menyempurnakan rasanya. Dulu, ngegaleu dodol adalah ritual sakral keluarga.

Ibu di dapur, anak-anak membantu, dan aroma manis mulai memenuhi rumah sejak dini hari. Dan karena keduanya terbuat dari ketan yang dalam bahasa kami disebut lengket maka wajik dan dodol juga menyimpan harapan agar hubungan keluarga tetap lengket, erat, dan penuh kasih sayang.

Meski Lebaran hanya datang sekali setahun. Ibunda saya pernah berkata, “Kalau bisa sabar bikin dodol, bisa sabar menghadapi hidup. ”Karena setiap adukan bukan hanya mencampur bahan, tapi juga merajut harap: agar hidup manis, keluarga rukun, dan rezeki lengket terus.

Perlu kesabaran, tenaga, dan cinta dalam setiap proses ngegaleu (mengaduk) yang bisa memakan waktu berjam-jam. Saya masih ingat, ketika kecil, tangan kecil kami turut memegang kayu pengaduk besar, membantu ibu di dapur menjelang Lebaran.

Kami tak pernah mengeluh. Sebab kami tahu, dalam adukan itu, ibu sedang mengajarkan dan menanamkan nilai: kesabaran, ketekunan, dan cinta keluarga.

Manis pada wajik dan dodol bukan sekadar soal rasa, tapi simbol harapan dan doa yang tak terucap. Di dalam setiap tetes gula aren, tersimpan filosofi hidup ulun Lampung yang sederhana tapi mendalam.

Bahwa hidup yang dijalani dengan sabar dan ketulusan, akan meninggalkan rasa manis bagi siapa pun yang merasakannya. Maka, setiap kali kita mencicipi wajik atau dodol, secara implisit, kita sesungguhnya sedang mengucap doa untuk masa depan yang lebih baik.

Ibunda saya pernah berkata, “Dodol dan wajik bukan cuma untuk dimakan, tapi untuk dikenang.” Karena dari bahan dasar yang sama, yang diolah dengan penuh kesungguhan, lahirlah dua bentuk yang berbeda namun sama-sama manis. Seperti manusia yang berbeda sifat namun tetap bisa menyatu dalam satu keluarga.

Di meja-meja Lebaran di pelosok Lampung, dua penganan ini masih setia hadir. Ia tak hanya memanggil selera, tapi juga memanggil ingatan.

Bukan sekadar sajian, tapi pesan dari generasi ke generasi bahwa hidup ini butuh kesabaran. Kemudian, cinta selalu butuh diaduk agar tetap hangat.

Kini, meski zaman berubah, kenangan itu tetap hidup. Dan kabar baiknya: kita tak perlu lagi bersusah payah membuatnya sendiri.

Di berbagai toko oleh-oleh khas Lampung, wajik dan dodol tersedia dengan mudah. Cita rasanya tetap otentik, bahkan kini hadir dalam beragam varian: dodol pandan yang harum, dodol durian yang legit, hingga rasa-rasa modern yang tetap menjaga keaslian. Sentuhan masa kini pada rasa masa lalu.

Tradisi memang tak harus selalu dibuat sendiri. Kadang cukup dikenang, dinikmati, dan dibagi dalam bentuk yang baru.

Pantas saja jika banyak orang berkata:, 'Lampung memang diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum.” Karena setiap sudutnya menyimpan rasa, setiap makanannya menyimpan makna.

Selamat Hari Raya Idulfitri. Mohon maaf lahir dan batin. Dang lupo bahagia geh! (***)

Penulis: Prof. Admi Syarif, PhD, Editor Amiruddin Sormin

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
Lampung Dipimpin Mirza-Jihan: Selamat Bertugas, "Mulai dari...

Dukungan dan legacy yang besar, juga mengandung makna tanggung...

15897


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved