Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Ketika Ucapan Jadi Harga Diri Lelaki
Lampungpro.co, 25-Apr-2026

Admin 380

Share

Gambar Ilustrasi. LAMPUNGPRO.CO

Di suatu sore di Negeri Ababa, Mang One akhirnya bertemu dengan Pakde Ono di sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan kampung. Pertemuan itu bukan tanpa tujuan. Mang One datang membawa harapan ia ingin menawarkan kerja sama. Dengan usaha pembuatan papan pengumuman dan alat promosi yang ia miliki, Mang One yakin bisa membantu memperkenalkan usaha dan produk milik Pakde Ono agar lebih dikenal luas.

Percakapan mereka hangat. Pakde Ono tampak tertarik. Ia beberapa kali mengangguk, sesekali menepuk meja tanda sepakat.

“Kalau begitu kita jalan sama-sama, Mang,” kata Pakde Ono.
“Promosikan usaha saya. Nanti saya siapkan 70 khoy untuk biaya dan jasanya.”

Mang One tidak banyak berpikir panjang. Baginya, ucapan seorang laki-laki adalah pegangan. Walau tidak ada hitam di atas putih, ia percaya penuh.

Kesepakatan pun terjadi di sore itu.

Hari-hari berlalu. Mang One mulai bekerja. Ia menyiapkan desain, memotong papan, mengecat dengan rapi, dan memasang beberapa titik promosi. Ia jalankan semuanya dengan sungguh-sungguh, sesuai dengan apa yang telah disepakati.

Namun rupanya, bukan hanya Mang One yang datang menawarkan jasa. Dari kampung sebelah, ada juga yang membawa penawaran serupa kepada Pakde Ono.

Tibalah waktu pembayaran yang dijanjikan.

Mang One datang dengan harapan sederhana apa yang disepakati bisa ditepati. Namun yang ia terima jauh dari bayangan. Pakde Ono hanya memberikan 2 khoy.

“Yang lain juga kebagian, Mang. Kita bagi-bagi saja,” kata Pakde Ono ringan.

Mang One terdiam. Ada kecewa, tapi ia masih mencoba memahami. Ia tetap berpegang pada ucapannya sendiri bahwa ia percaya pada kata-kata Pakde Ono.

Ia memilih melanjutkan pekerjaan.

Namun saat pekerjaan kedua berjalan, kejadian yang sama terulang. Lagi-lagi hanya 2 khoy yang ia terima.

Kali ini, bukan sekadar kecewa. Ada sesuatu yang mulai berubah dalam diri Mang One.

Sore itu, angin di Negeri Ababa terasa berbeda. Mang One duduk di depan bengkelnya, menatap papan-papan promosi yang belum terpasang. Kayu sudah dipotong rapi, cat sudah mengering, tapi hatinya mulai retak bukan karena pekerjaan, melainkan karena kepercayaan yang mulai goyah.

Dua kali sudah ia menelan kecewa.

Awalnya ia mencoba memahami. “Mungkin Pakde Ono lagi bagi-bagi rezeki,” pikirnya. Tapi ketika kejadian yang sama terulang, Mang One mulai sadar ini bukan soal berbagi, ini soal kata yang tak lagi dijaga.

Malam itu, Mang One tidak langsung marah. Ia justru diam lebih lama dari biasanya. Dalam diam itu, ia menimbang sesuatu yang lebih besar dari sekadar 70 khoy atau 2 khoy.

Keesokan harinya, Mang One kembali mendatangi Pakde Ono. Tapi kali ini bukan dengan wajah berharap, melainkan dengan sikap tenang dan tegas.

“Pakde,” kata Mang One pelan, “dari awal saya pegang ucapan Pakde. Saya kerja bukan cuma pakai tangan, tapi juga pakai percaya.”

Pakde Ono hanya tersenyum kecil, seperti menganggap hal itu biasa saja.

Mang One melanjutkan,
“Kalau dari awal Pakde bilang mau berbagi dengan yang lain, saya bisa terima. Tapi yang berat itu bukan jumlahnya… yang berat itu ketika ucapan berubah tanpa kabar.”

Suasana jadi hening.

Lalu Mang One menarik napas, dan untuk pertama kalinya, ia memilih menjaga dirinya sendiri, bukan hanya menjaga kepercayaan orang lain.

“Mulai hari ini, saya tetap akan kerja, Pakde. Tapi satu hal saya ubah kalau tidak ada kesepakatan yang jelas, saya tidak akan mulai kerja.”

Pakde Ono sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Mang One yang biasanya menurut, kini bicara setegas itu.

Mang One berdiri, lalu menutup percakapan dengan kalimat sederhana tapi dalam:

“Laki-laki memang dipegang ucapannya, Pakde… tapi laki-laki juga harus tahu, kepada siapa ucapan itu layak dipercaya.”

Sejak hari itu, Mang One berubah.
Bukan jadi keras, tapi jadi lebih bijak.

Ia tetap membuat papan promosi, bahkan usahanya makin berkembang. Tapi kini, setiap kerja sama ia awali dengan kesepakatan yang jelas bukan karena ia tak percaya, tapi karena ia belajar bahwa kepercayaan juga perlu dijaga dengan batas.

Sementara Pakde Ono?

Perlahan, orang-orang mulai mendengar cerita yang sama. Dan di Negeri Ababa, kabar seperti itu lebih cepat menyebar daripada angin sore.

Akhirnya, Pakde Ono sadar kehilangan kepercayaan jauh lebih mahal daripada 70 khoy yang dulu tak ia tepati. (Fiksi/EdAI)

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
Transportasi Massal Bandar Lampung: Masih Jadi Kebutuhan,...

Masih ada yang berdesakan di angkot yang jumlahnya makin...

1214


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved