JAKARTA (Lampungpro.com)-War Room M-17 menjadi tempat untuk diadakannya rapat terbatas oleh Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya bersama jajarannya. Mereka membahas sekaligus mengevalusi kinerja yang dilakukan satu semester ini. Satu per satu deputinya mempresentasikan capaian dan kondisi terbaru dari grafik naik turun serta warna merah-hijau di layar 16 monitor itu.
Country Manager juga harus menjelaskan mengapa angka-angka wisatawannya naik dan mengapa juga turun? Mengapa ada sentiment negative (merah) dan positif (hijau) di media sosial? Apa yang sedang dilakukan oleh competitor, seperti Thailand dan Vietnam terhadap originasi Tiongkok.
Di dashboard itu saat diklik Thailand, sebagai rival professional dan sekaligus tempat benchmark. Ada destinasi Phuket, Chiang Mai, Pattaya, yang real time sedang ada events apa, dengan sentiment apa. Soal akses, kuliner, security, cleanliness, hostelry, services dan lainnya. Juga originasi Australia sedang terjadi apa?
Tagline di War Room M-17 ini adalah kenali dunia, kenali dirimu, kenali musuhmu, maka kau akan memenangkan pertempuran. Kenali pelangganmu, kenali dirimu, maka kami akan menenangkan persaingan, kata Menpar Arief Yahya.
Menpar Arief pun mengontrol semua pejabatnya dari ruang yang dilengkapi dengan 16 layar lebar itu. Termasuk Deputi Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata, yang ditanya soal vision masterplan Badan Otorita Pariwisata (BOP) Borobudur. Juga ditanyakan soal project management system-nya Transformer untuk memantau perkembangan 10 Bali Baru.
Mantan Dirut PT Telkom yang sangat paham detail teknologi informasi itu memang membangun Kemenpar dengan Go Digital di semua lini. Ada dashboard yang detail memotret pemasaran mancanegara, pemasaran nusantara, pengembangan destinasi, kelembagaan dan SDM.
Inilah big data, perpaduan antara small data atau data korporasi ditambah dengan media social. Big data ini sudah sangat intelligent, sangat pintar, jika data-datanya dikelola dengan baik. Ini akan menjadi early warning system bagi Kemenpar untuk memotret apa yang terjadi di luar, kata Arief Yahya.
Sistem ini juga dilengkapi dengan sistem ekskalasi. Jika ada pekerjaan yang belum diselesaikan di satu kompartemen, sistem akan melaporkan ke level di atasnya. Sistem akan terus melapor sendiri jika kompartemen berikutnya dalam batas deadline belum mengerjakan sesuai dengan goal-nya.
Menpar Arief ini memang tidak cukup waktu, meskipun bekerja dari pagi pulang pagi pula, di atas pukul 01.00 WIB setiap hari. Teknologi ini adalah cara untuk tetap bisa mengontrol pekerjaan prioritas di Kemenpar, dengan cara digital.
Sampai, jika tidak selesai-selesai, maka info itu akan sampai ke menteri dan diumumkan ke seluruh karyawan, bahwa pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab divisi tertentu belum menuntaskan pekerjaannya dengan baik, kata Arief Yahya.
Dalam beberapa Rapim belakangan ini, Menpar memang selalu rapat di War Room M-17 dulu, sebelum masuk ke ruang rapat. Sistem akan terus diperbaiki, agar semakin bisa memastikan seluruh pekerjaan besar Kemenpar bisa termonitor dengan baik. (*)
Berikan Komentar
Lampung Selatan
1549
Kominfo Lampung
720
Advetorial
1751
11152
28-Mar-2026
1549
24-Mar-2026
1751
22-Mar-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia