Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Peneliti Polinela Kembangkan Kalium dan Trichoderma untuk Tekan Penyakit Moler pada Bawang Merah
Lampungpro.co, 16-Sep-2026

Sandy 283

Share

Bawang Merah hasil penelitian dosen Polinela | LAMPUNGPRO.CO

BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co) : Tim dosen Politeknik Negeri Lampung (Polinela) mengembangkan penelitian terapan untuk membantu mengatasi salah satu persoalan yang kerap dihadapi petani bawang merah, yakni penyakit moler yang disebabkan oleh jamur Fusarium.

Penyakit tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi produktivitas bawang merah. Tanaman yang terserang umumnya menunjukkan gejala berupa daun menguning, pertumbuhan daun yang meliuk, hingga akhirnya mengalami pembusukan.

Serangan Fusarium dapat terjadi sejak awal pertumbuhan tanaman hingga mendekati masa panen. Kondisi ini membuat petani menghadapi risiko kehilangan tanaman sekaligus penurunan hasil produksi.

Selama ini, pengendalian penyakit moler masih banyak mengandalkan fungisida kimia. Penggunaan bahan kimia secara berlebihan, di sisi lain, berpotensi mengganggu kondisi tanah apabila tidak dikelola dengan tepat.

Selain itu, penggunaan fungisida secara terus-menerus juga menjadi perhatian karena patogen dapat mengalami penurunan sensitivitas terhadap bahan pengendali tertentu. Kondisi tersebut dapat membuat biaya pemeliharaan tanaman semakin besar, terlebih ketika harus diikuti dengan kebutuhan pupuk dan input produksi lainnya.

Berangkat dari persoalan tersebut, tim peneliti Polinela yang terdiri dari Wika Anrya Darma, S.P., M.Si., Pebria Sisca, S.P., M.Tr.P., dan Rahmadyah Hamiranti, S.P., M.Si., melakukan penelitian dengan mengintegrasikan pupuk kalium dan agens hayati Trichoderma sp. sebagai pendekatan pengendalian penyakit sekaligus peningkatan pertumbuhan tanaman.

Dalam penelitian ini, kalium diarahkan untuk mendukung kekuatan tanaman dari dalam. Unsur hara tersebut berperan dalam memperkokoh jaringan tanaman sehingga diharapkan dapat meningkatkan ketahanan fisik bawang merah terhadap serangan patogen.

Kalium juga memiliki peran penting dalam mendukung pembentukan dan pembesaran umbi. Dengan kondisi tanaman yang lebih kokoh, pertumbuhan bawang merah diharapkan dapat berlangsung lebih optimal.

Sementara itu, Trichoderma digunakan sebagai agens hayati yang berfungsi membantu melindungi wilayah perakaran tanaman dari serangan Fusarium. Keberadaan jamur antagonis tersebut di sekitar perakaran diharapkan dapat membentuk lingkungan yang lebih mendukung kesehatan tanaman.

Tidak hanya berkaitan dengan pengendalian patogen, Trichoderma juga diketahui dapat membantu proses penguraian bahan organik di dalam tanah. Karena itu, kombinasi kalium dan Trichoderma diarahkan untuk memberikan pendekatan pengelolaan tanaman yang tidak hanya berfokus pada pengendalian penyakit.

"Kalium memberikan nutrisi penguat agar tanaman tumbuh kokoh dan berumbi besar, sementara Trichoderma menjaga perakaran dari serangan patogen," ujar Wika Anrya Darma selaku ketua tim peneliti.

Penelitian tersebut dilaksanakan secara intensif selama Juni hingga Agustus 2026. Lokasi penelitian dipilih pada lahan pertanian yang memiliki riwayat serangan Fusarium, sehingga tim dapat mengamati efektivitas perlakuan dalam kondisi lahan yang relevan dengan permasalahan petani.

Selama tiga bulan penelitian, perkembangan tanaman bawang merah diamati secara berkala. Berbagai parameter pertumbuhan dan tingkat kerusakan tanaman dicatat untuk kemudian dianalisis oleh tim peneliti.

Hasil pengamatan menunjukkan adanya perubahan pada pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah setelah diberikan perlakuan. Tanaman terlihat memiliki daun yang lebih hijau dan pertumbuhan yang lebih tinggi, sementara gejala penyakit moler dilaporkan mengalami penurunan.

Aplikasi Trichoderma juga menunjukkan kondisi perakaran yang lebih sehat. Kehadiran agens hayati tersebut di sekitar perakaran menjadi bagian dari strategi untuk menekan perkembangan patogen *Fusarium* dan mengurangi risiko tanaman mengalami kematian akibat penyakit moler.

Data pengujian juga menunjukkan tingkat serangan penyakit moler yang lebih rendah pada lahan dengan perlakuan dibandingkan kondisi pembanding. Selain menekan kerusakan tanaman, bobot umbi bawang merah yang dihasilkan juga menunjukkan peningkatan.

Bagi petani, pendekatan tersebut berpotensi memberikan manfaat dari sisi efisiensi biaya produksi. Pemanfaatan Trichoderma sebagai agens hayati diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan fungisida kimia.

Di sisi lain, pengelolaan tanaman dengan pendekatan yang lebih terintegrasi juga diharapkan dapat mendukung keberlanjutan kondisi tanah pertanian. Peningkatan hasil panen dan efisiensi penggunaan input produksi pada akhirnya dapat memberikan peluang peningkatan pendapatan petani.

Tim peneliti menyebut penelitian tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi akademisi Polinela dalam menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya petani bawang merah.

Dengan penerapan teknologi budidaya yang tepat, inovasi tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan produktivitas bawang merah sekaligus memperkuat ketahanan pangan. (***)

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
Gabah Dilarang Keluar, Tapi Mengapa Masih Bisa...

Mengapa pembeli dari luar Lampung mampu menawarkan harga gabah...

7467


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved