Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Saat Kawan Naik Takhta, Koran Kehilangan Nama
Lampungpro.co, 14-Oct-2026

Admin 344

Share

Gambar hanya ilustrasi

"Apakah karena pernah membantu seseorang naik takhta, kita harus ikut menjaga takhtanya selamanya?"

Ia lalu menambahkan, "Kami tidak sedang menghapus kebaikan masa lalu. Kami hanya menolak menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk menutup mata hari ini."

Sejak saat itu, perusahaan tersebut mendapat julukan baru: anak durhaka.

Andi tidak membantah. Ia justru mulai memahami bahwa dalam dunia kekuasaan, kesetiaan sering kali diukur dari seberapa lama seseorang bersedia mengangguk.

Ketika memuji, seseorang disebut sahabat. Ketika mempertanyakan, ia dicurigai. Ketika mengkritik, ia dianggap berkhianat.

Padahal, yang berubah mungkin bukan persahabatannya. Yang berubah adalah cara mereka menjalankan peran masing-masing.

Ahmad adalah pejabat yang harus mempertanggungjawabkan kebijakannya kepada rakyat. Perusahaan Andi adalah media yang harus mempertanggungjawabkan pemberitaannya kepada pembaca.

Keduanya tidak harus menjadi musuh. Tetapi keduanya juga tidak wajib selalu sependapat.

Andi akhirnya memahami bahwa perusahaan itu tidak bisa terus hidup dengan mengandalkan kenangan tentang Umri dan kedekatannya dengan Ahmad. Mereka harus membangun kembali kepercayaan pembaca, memperbaiki bisnis, dan menemukan alasan mengapa koran itu layak tetap ada.

Mereka mungkin kehilangan akses ke istana. Mungkin tidak lagi menjadi media yang paling diperhatikan Ahmad. Mungkin pula harus bekerja lebih keras daripada sebelumnya untuk bertahan.

1 2 3 4 5 6 7 8

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya

Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved