"Apakah karena pernah membantu seseorang naik takhta, kita harus ikut menjaga takhtanya selamanya?"
Ia lalu menambahkan, "Kami tidak sedang menghapus kebaikan masa lalu. Kami hanya menolak menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk menutup mata hari ini."
Sejak saat itu, perusahaan tersebut mendapat julukan baru: anak durhaka.
Andi tidak membantah. Ia justru mulai memahami bahwa dalam dunia kekuasaan, kesetiaan sering kali diukur dari seberapa lama seseorang bersedia mengangguk.
Ketika memuji, seseorang disebut sahabat. Ketika mempertanyakan, ia dicurigai. Ketika mengkritik, ia dianggap berkhianat.
Padahal, yang berubah mungkin bukan persahabatannya. Yang berubah adalah cara mereka menjalankan peran masing-masing.
Ahmad adalah pejabat yang harus mempertanggungjawabkan kebijakannya kepada rakyat. Perusahaan Andi adalah media yang harus mempertanggungjawabkan pemberitaannya kepada pembaca.
Keduanya tidak harus menjadi musuh. Tetapi keduanya juga tidak wajib selalu sependapat.
Andi akhirnya memahami bahwa perusahaan itu tidak bisa terus hidup dengan mengandalkan kenangan tentang Umri dan kedekatannya dengan Ahmad. Mereka harus membangun kembali kepercayaan pembaca, memperbaiki bisnis, dan menemukan alasan mengapa koran itu layak tetap ada.
Mereka mungkin kehilangan akses ke istana. Mungkin tidak lagi menjadi media yang paling diperhatikan Ahmad. Mungkin pula harus bekerja lebih keras daripada sebelumnya untuk bertahan.
Berikan Komentar
Bandar Lampung
1365
Polinela
1287
344
14-Oct-2026
1365
12-Oct-2026
1287
12-Oct-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia