Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Tiga Kali Mengetuk, Satu Pintu Pengabdian
Lampungpro.co, 01-Jul-2026

Sandy 307

Share

Brigtar IB. Arjuna Gettarr Bhuvana Mahaputra Sanjaya, Taruna Akpol | LAMPUNGPRO.CO/Ist

Kedua, asah kemampuan akademik. Tes akademik menggunakan sistem ujian berbasis komputer yang mencakup wawasan kebangsaan seperti Pancasila, UUD 1945, dan kebangsaan, kemampuan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, serta tes potensi akademik. Biasakan mengerjakan soal dengan batas waktu agar terbiasa berpikir cepat namun tetap teliti.

Ketiga, jaga kesehatan dan kebersihan diri. Pemeriksaan kesehatan dilakukan berlapis dan banyak peserta tersisih di tahap ini. Rawat pola makan dan tidur, jauhi rokok, dan periksa kondisi dasar seperti mata serta gigi sejak awal agar tidak ada kejutan di hari ujian.

Keempat, jujurlah dalam tes psikologi. Pemeriksaan psikologi dan wawancara dirancang untuk membaca kepribadian yang sebenarnya, termasuk rekam jejak di media sosial. Jawablah dengan jujur dan konsisten, jaga sikap di dunia maya, dan jangan pernah berusaha memanipulasi jawaban karena pola yang dibuat-buat justru mudah terbaca.

Kelima, kuatkan mental dan ketekunan. Seleksi ini menganut sistem gugur, sehingga satu tahap yang gagal sudah cukup untuk menghentikan langkah. Siapkan mental menghadapi tekanan, dan bila belum berhasil, jadikan kegagalan itu bahan evaluasi untuk mencoba lagi. Saya adalah bukti bahwa percobaan ketiga pun bisa berbuah.

Keenam, dan ini yang terpenting, jangan percaya calo. Seluruh proses seleksi tidak dipungut biaya dan dijalankan secara terbuka. Siapa pun yang menjanjikan kelulusan dengan imbalan tertentu adalah penipu, dan upaya menggunakan koneksi atau sponsor justru dapat membuat peserta didiskualifikasi. Lulus karena kemampuan sendiri akan terasa jauh lebih membanggakan, dan itulah modal kejujuran pertama seorang calon Bhayangkara.

Di usia ke-80 ini, Polri telah membuktikan ketahanannya melintasi zaman. Dari masa perjuangan kemerdekaan hingga era digital yang penuh tantangan baru, institusi ini terus belajar dan berbenah. Sebagai taruna, saya menyadari bahwa estafet pengabdian itu suatu hari akan berpindah ke pundak generasi kami. Itu bukan beban yang menakutkan, melainkan kehormatan yang harus kami siapkan mulai dari sekarang, dari hal-hal kecil di Akademi yang membentuk kebiasaan besar di masa depan.

Hari ini, sambil memberi hormat ke arah Sang Merah Putih, saya membawa satu tekad. Bahwa kelak ketika saatnya tiba menanggalkan status taruna dan mengemban tugas yang sesungguhnya, saya ingin menjadi Bhayangkara yang membuat masyarakat merasa aman karena kehadiran saya, bukan justru sebaliknya. Itulah prestasi tertinggi yang saya cita-citakan.

1 2 3 4 5 6

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya

Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved