Ada pertanyaan yang lebih sering ditanyakan oleh teman-teman seangkatan daripada soal latihan atau ujian: “Mau jadi apa kamu setelah lulus?” Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya berat. Jawaban termudah tentu saja adalah jabatan nama pangkat, unit bergengsi, atau kota penempatan yang diidamkan. Namun semakin lama saya merenungkannya, semakin saya sadar bahwa tujuan hidup yang sejati tidak bisa diukur dengan epaulette di bahu.
Saya punya tujuan yang sudah lama saya tulis di buku catatan kecil yang saya bawa sejak seleksi pertama: menjadi perwira yang namanya diingat bukan karena medali di dada, melainkan karena kebaikan yang tertinggal di tempat ia pernah bertugas. Ada sebuah kutipan yang selalu saya ingat "people will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel" dan kata-kata itu terasa begitu relevan bagi seorang aparat yang setiap harinya bersentuhan langsung dengan masyarakat. Saya tidak ingin menjadi perwira yang sekadar hadir secara fisik. Saya ingin menjadi kehadiran yang berarti.
Lebih dari itu, saya menyimpan mimpi yang mungkin terdengar ambisius: suatu hari kelak saya ingin berkontribusi pada reformasi sistem kepolisian berbasis data dan teknologi. Di era di mana evidence-based policing menjadi standar internasional, Indonesia pun perlu bergerak ke arah sana. Saya bermimpi terlibat dalam membangun sistem yang membuat pelayanan publik lebih cepat, lebih adil, dan lebih bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya mereka yang tinggal di kota-kota besar. Ini bukan utopia. Ini adalah arah kerja yang sudah mulai saya pelajari bahkan sebelum saya lulus, karena seorang perwira sejati mulai mempersiapkan dampaknya jauh sebelum ia memegang kendali.
Di sisi yang lebih personal, saya juga ingin menjadi teladan di keluarga. Saya tumbuh dari keluarga yang sederhana, dan saya tahu betul apa artinya berjuang dengan keterbatasan. Maka setiap kali saya merasa lelah dalam latihan, saya ingat wajah orang tua saya yang rela mengorbankan banyak hal agar saya bisa berdiri di tempat ini. Tujuan hidup saya bukan hanya untuk diri sendiri. Ia adalah janji yang saya bawa atas nama semua orang yang telah mempercayai saya.
Kalau ada satu hal yang tidak diajarkan secara eksplisit dalam kurikulum Akademi namun justru paling banyak membentuk diri saya, itu adalah lingkungan pergaulan. Orang-orang yang kita pilih sebagai teman dekat atau inner circle kita akan membentuk cara kita berpikir, standar yang kita tetapkan untuk diri sendiri, dan nilai-nilai yang kita pegang dalam situasi sulit. Saya belajar ini bukan dari buku teks, melainkan dari pengalaman nyata.
Berikan Komentar
313
01-Jul-2026
480
30-Jun-2026
462
30-Jun-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia