Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

42 Tahun Polinela: Antara Kebanggaan dan Tantangan Menjaga Relevansi
Lampungpro.co, 09-Apr-2026

Admin 218

Share

42 Tahun Polinela: Antara Kebanggaan dan Tantangan Menjaga Relevansi

Empat puluh dua tahun bukanlah usia yang singkat bagi sebuah institusi pendidikan. Perjalanan panjang itulah yang kini dirayakan oleh Politeknik Negeri Lampung (Polinela), sebuah kampus vokasi yang terus menunjukkan transformasi dari politeknik berbasis pertanian menjadi pusat pendidikan modern yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Menariknya, tahun berdirinya Polinela :1984, adalah tahun yang sama ketika saya dilahirkan. Artinya, perjalanan kami tumbuh dalam rentang waktu yang sejajar. Jika Polinela berkembang sebagai institusi pendidikan, saya tumbuh di dunia media yang juga mengalami disrupsi luar biasa. Keduanya sama-sama diuji oleh perubahan zaman, dan hanya yang mampu beradaptasi yang tetap relevan.

Capaian Polinela hari ini tentu patut diapresiasi. Masuk dalam jajaran atas nasional pada penerimaan mahasiswa baru serta tingginya kepercayaan masyarakat menjadi bukti bahwa kampus ini tidak berjalan di tempat. Ini adalah hasil kerja kolektif yang layak mendapat penghormatan.

Atas capaian tersebut, kami menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi kepada seluruh sivitas akademika Polinela. Ini bukan sekadar perayaan usia, tetapi simbol konsistensi dalam menjaga eksistensi dan kualitas di tengah kompetisi yang semakin ketat.

Namun sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial, kami memandang capaian ini juga harus dibaca sebagai titik evaluasi. Sebab tantangan ke depan tidak lagi sederhana. Dunia industri berubah cepat, teknologi berkembang eksponensial, dan kebutuhan tenaga kerja semakin spesifik.

Di sisi lain, ada satu hal krusial yang kerap luput dari perhatian banyak perguruan tinggi, yakni kesadaran bahwa dalam konteks keorganisasian modern, seluruh elemen kampus sejatinya adalah “marketing”. Gedung yang megah, fasilitas yang lengkap, hingga kualitas sumber daya manusia; mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan, semuanya adalah representasi yang “menjual” citra dan keunggulan institusi kepada publik. Namun di antara semua itu, terdapat satu garda terdepan yang memegang peran strategis sebagai wajah kampus, yakni fungsi kehumasan, kerja sama, dan pemasaran. Di banyak perguruan tinggi, fungsi ini bisa terintegrasi dalam satu biro, atau berdiri sendiri sebagai Humas, Marketing, dan Kerja Sama. Apapun bentuknya, peran ini tidak bisa lagi dijalankan secara konvensional. Lembaga ini adalah titik temu pertama antara kampus dan Masyarakat baik melalui interaksi langsung maupun ruang digital yang kini menjadi arena utama persepsi publik. Karena itu, transformasi di tubuh fungsi ini menjadi sebuah keniscayaan. Dibutuhkan SDM yang benar-benar unggul, adaptif, dan memahami strategi komunikasi modern. Bahkan tidak sedikit perguruan tinggi yang berani berinvestasi lebih dengan menggandeng konsultan hingga media siber, baik secara kelembagaan maupun individu, untuk memperkuat positioning dan branding mereka. Polinela pun perlu berani mengambil langkah serupa bukan semata mengikuti tren, tetapi sebagai strategi serius dalam membangun kepercayaan publik dan meningkatkan daya tarik calon mahasiswa. Sebab pada akhirnya, kualitas tanpa komunikasi yang kuat akan sulit dikenal, apalagi dipilih.

Di sinilah ujian sesungguhnya bagi pendidikan vokasi seperti Polinela: apakah mampu menjaga kesesuaian (link and match) antara dunia kampus dan dunia kerja secara nyata, bukan sekadar jargon. Kerja sama dengan dunia usaha dan industri harus diperkuat dalam bentuk yang lebih konkret; mulai dari kurikulum berbasis kebutuhan industri, magang yang benar-benar membentuk kompetensi, hingga jaminan serapan lulusan.

Selain itu, Polinela juga perlu memperkuat kualitas layanan internal dan keterbukaan informasi publik. Di era digital, reputasi tidak hanya dibangun dari prestasi, tetapi juga dari kepercayaan yang lahir dari transparansi dan pelayanan yang prima.

Sebagai institusi yang telah melewati lebih dari empat dekade, Polinela tidak boleh cepat puas. Justru di usia matang ini, ekspektasi publik semakin tinggi. Kampus ini dituntut tidak hanya menjadi kebanggaan Lampung, tetapi juga menjadi rujukan nasional dalam pengembangan pendidikan vokasi yang unggul dan berdaya saing global.

Akhirnya, 42 tahun adalah momentum penting bukan untuk berhenti sejenak dalam euforia, melainkan untuk melangkah lebih jauh dengan pijakan yang lebih kuat.

Sebagaimana perjalanan hidup yang terus bergerak maju, demikian pula Polinela harus terus bertumbuh, menjaga relevansi, memperkuat kualitas, dan menjawab tantangan zaman. (EdAI)

Muhammad Asyihin, S.Pd., MM (Pimpinan Media)

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya

Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved