Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Apresiasi Guru Bukan Sekadar Berangkat, Tapi Juga Selamat
Lampungpro.co, 16-Jan-2026

Admin 209

Share

Pimpinan Media Muhammad Asyihin. Lampungpro.co/doc

Di negeri ini, kata-kata memang sakti. Jalan-jalan bisa berubah nama menjadi “studi banding”, piknik menjadi “capacity building”, dan kini bepergian jauh naik bus disebut “wisata rohani”. Tinggal satu langkah lagi, mungkin capek disebut ikhtiar spiritual, dan kelelahan kita anggap sebagai bagian dari ujian iman.

Pemerintah Kota Bandar Lampung melalui Disdikbud bersikukuh bahwa perjalanan PGRI bukanlah healing-healing, melainkan wisata rohani. Baiklah, kita terima istilahnya. Tapi pertanyaan mendasarnya bukan soal nama, melainkan logika dan kehati-hatian. Sebab sejauh apa pun niatnya baik, tubuh manusia tetap punya batas. Iman boleh kuat, tapi fisik tak bisa diajak berdebat.

Guru-guru yang ikut rombongan bukanlah anak muda yang sedang touring motor lintas provinsi. Banyak di antara mereka sudah berusia lanjut, memiliki riwayat kesehatan, dan terbiasa bekerja dengan energi yang sudah terkuras di ruang kelas. Maka wajar jika publik bertanya: apakah seluruh peserta sudah dipastikan cukup sehat untuk perjalanan jauh berjam-jam? Apakah ada skrining kesehatan? Apakah kelelahan sudah diperhitungkan sebagai risiko?

Apresiasi sejatinya membuat orang merasa dihargai, bukan diuji daya tahannya. Jangan sampai penghargaan justru berubah menjadi lomba bertahan hidup di dalam bus. Karena jika guru sudah harus mengumpulkan napas di perjalanan, lalu di mana letak kemanusiaan kebijakannya?

Pernyataan bahwa keikutsertaan bersifat sukarela juga patut dilihat dengan kacamata jujur. Dalam kultur birokrasi, kata “sukarela” sering kali berarti boleh menolak, tapi enak nggak ya? Tekanan sosial dan moral sering bekerja lebih kuat daripada surat undangan. Guru bukan tidak mau, tapi kadang sungkan. Dan dari situlah masalah bermula.

Soal wafatnya almarhumah Erdaningsih, benar bahwa ajal adalah kehendak Tuhan. Tak ada yang menyangkal itu. Namun berlindung sepenuhnya di balik takdir tanpa mengevaluasi faktor kelelahan, usia, dan kondisi kesehatan adalah cara cepat untuk menghindari tanggung jawab reflektif. Takdir memang rahasia Tuhan, tapi ikhtiar keselamatan adalah kewajiban manusia.

Apalagi ini bukan perjalanan pertama yang difasilitasi pemerintah kota. Sebelumnya, Wali Kota Bandar Lampung juga memberangkatkan pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) ke Malang. Polanya serupa: rombongan, perjalanan jauh, atas nama kebersamaan dan apresiasi. Pertanyaannya sederhana: apakah semua rombongan dipastikan benar-benar siap secara fisik, atau sekadar siap secara administratif?

Tak ada yang menuduh niat buruk. Tapi niat baik tanpa manajemen risiko adalah undangan terbuka bagi tragedi. Apresiasi sejati mestinya menenangkan, bukan melelahkan. Menguatkan, bukan menguras. Guru-guru kita sudah terlalu sering diminta berkorban, jangan sampai bahkan saat diberi penghargaan pun, mereka masih harus membayar dengan tenaga dan nyawa.

Mungkin sudah saatnya pemerintah lebih kreatif dan bijak. Apresiasi tak selalu harus jauh-jauh. Rohani tak selalu harus menempuh ratusan kilometer. Kadang, bentuk penghargaan paling manusiawi justru yang paling sederhana: aman, dekat, dan benar-benar memuliakan manusia di balik seragam guru.

Karena pada akhirnya, wisata rohani seharusnya mendekatkan manusia pada nilai kehidupan, bukan mengantarkannya lebih cepat pada batasnya. (AI)

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya

Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved