Indonesia kembali mencatat “prestasi” global. Bukan soal ekonomi yang melesat, bukan pula soal daya beli yang menguat, melainkan soal kebahagiaan. Berdasarkan hasil survei internasional, rakyat Indonesia disebut sebagai yang paling bahagia di dunia. Sebuah kabar yang, jujur saja, membuat sebagian orang tersenyum sebagian lainnya justru mengernyitkan dahi sambil menghitung sisa saldo.
Sebab di waktu yang hampir bersamaan, berita lain juga berseliweran: angka kemiskinan masih jutaan, inflasi membuat harga kebutuhan harian seperti punya hobi naik sendiri, dan pendapatan yang tetap setia di angka lama, sementara kebutuhan hidup terus beranak-pinak. Dalam situasi seperti ini, wajar jika muncul pertanyaan kecil tapi tajam: bahagia yang mana dulu ini?
Namun mungkin di situlah keunikan bangsa ini. Ketika dompet menipis, senyum tetap tebal. Ketika harga beras naik, kopi sachet tetap diseduh dengan penuh syukur. Ketika gaji habis sebelum tanggal tua, grup WhatsApp keluarga masih ramai dengan stiker tawa. Barangkali inilah yang dibaca oleh survei internasional: ketangguhan mental dan sosial, bukan kekuatan ekonomi.
Sayangnya, kebahagiaan versi survei sering kali tak sempat mampir ke dapur. Sebab di sana, realitas berbicara lebih jujur. Daya beli menurun bukan karena rakyat tak ingin belanja, tapi karena belanja kini terasa seperti olahraga ekstrem—perlu strategi, perhitungan, dan napas panjang. Harga naik, pendapatan diam. Inflasi melaju, harapan diminta menyesuaikan.
Ironinya, kebahagiaan yang diagungkan itu justru bisa menjadi selimut yang terlalu nyaman. Terlalu nyaman sampai lupa bahwa di balik tawa, ada warga yang menunda makan daging; di balik optimisme, ada keluarga yang memilih antara bayar sekolah atau listrik; dan di balik indeks kebahagiaan, ada realitas ekonomi yang belum ikut tersenyum.
Bukan berarti survei itu salah. Tapi bisa jadi kita terlalu cepat puas dengan hasilnya. Sebab kebahagiaan yang sejati bukan hanya soal mampu tertawa dalam kesulitan, melainkan juga soal kesulitan yang perlahan berkurang. Jika tidak, jangan-jangan yang kita rayakan bukan kesejahteraan, melainkan sekadar kemampuan bertahan.
Maka barangkali, tugas negara bukan sekadar bangga disebut paling bahagia, tapi memastikan kebahagiaan itu tak selalu harus dibeli dengan kesabaran berlebihan. Karena rakyat boleh saja kuat, tapi bukan berarti mereka harus terus-menerus diuji. (EdAI)
Muhammad Asyihin, S. Pd., M.M. (Pimpinan Media)
Berikan Komentar
Lampung Selatan
1913
114
24-Jan-2026
355
24-Jan-2026
307
23-Jan-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia