Tulisan sebelumnya mungkin terdengar seperti keluhan. Padahal sejatinya itu adalah refleksi. Refleksi panjang tentang bagaimana media yang berusaha santun, patuh aturan, dan menjaga etika justru sering tertinggal dalam urusan bertahan hidup. Dari titik itulah, penulis sampai pada satu kesadaran: kadang media tidak cukup hanya baik, media juga harus tegas.
Maka izinkan penulis menyampaikan satu kalimat yang mungkin terdengar ringan, namun sesungguhnya sarat makna: siap-siap, tahun ini media milik penulis mengganti peran.
Bukan menjadi media yang asal menyerang, bukan pula berubah menjadi pembuat kegaduhan. Perubahan peran ini lebih tepat dimaknai sebagai pergeseran sikap dari terlalu ramah menjadi lebih berjarak, dari terlalu lunak menjadi lebih tajam, dari sekadar berkawan menjadi berani berdiri berseberangan.
Selama ini media milik penulis memilih jalan aman. Mengedepankan konfirmasi, menahan diksi, menjaga rasa. Bahkan dalam banyak kasus, memilih meredam daripada membesarkan, memilih menunggu daripada menggertak. Sikap ini bukan tanpa alasan. Media yang sehat seharusnya menjadi penyeimbang, bukan pemantik api.
Namun waktu berjalan, realitas berbicara. Dalam ekosistem media yang semakin bising, sikap terlalu santun sering dianggap kelemahan. Media yang lembut kerap dilewati, sementara yang lantang justru didengar. Yang diam dianggap setuju, yang sabar dikira bisa ditekan.
Di sinilah perubahan peran menjadi relevan.
Menjadi “antagonis” bukan berarti meninggalkan kebenaran. Justru sebaliknya, ini adalah upaya untuk menjaga kebenaran agar tidak terus-menerus dikalahkan oleh kepentingan. Antagonis dalam arti berani mengajukan pertanyaan yang selama ini dihindari. Berani membuka fakta yang terlalu lama ditutup rapi. Berani menyebut yang salah sebagai salah, tanpa perlu bersembunyi di balik bahasa yang terlalu diplomatis.
Media milik penulis tidak sedang mencari musuh. Tapi juga tidak lagi menghindari konflik jika konflik itu lahir dari kepentingan publik. Jika selama ini ada yang nyaman karena media terlalu ramah, mungkin tahun ini kenyamanan itu akan sedikit terganggu. Bukan untuk mengancam, melainkan untuk mengingatkan.
Perubahan ini bukan soal gaya, tapi soal keberlanjutan. Media yang terus menunduk lama-lama akan kehilangan suara. Media yang takut keras akan kehilangan makna. Di tengah banjir informasi media sosial yang cepat dan sering kali liar, media arus utama justru dituntut hadir dengan ketegasan, bukan keraguan.
Media milik penulis ingin tetap berdiri di Tengah tidak menjadi alat, tidak pula menjadi penonton. Jika harus kritis, maka kritis dengan data. Jika harus keras, maka keras dengan dasar. Tidak emosional, tidak personal, dan pada titik tertentu tetap realistis bahwa media juga harus bertahan hidup.
Tahun ini mungkin tidak nyaman bagi sebagian pihak. Tapi kenyamanan bukan tujuan utama jurnalisme. Tugas media adalah memastikan publik tahu apa yang seharusnya mereka ketahui, meski itu tidak selalu menyenangkan.
Jadi jika kelak media milik penulis terasa lebih tajam, lebih berani, dan tidak lagi selalu mengangguk anggap saja itu bukan perubahan watak, melainkan pendewasaan peran. Karena di dunia media hari ini, kadang untuk tetap hidup dan tetap jujur, media memang harus berani memainkan peran yang tidak selalu disukai.
Dan jika itu disebut antagonis, biarlah. Yang penting, publik tidak lagi menjadi korban dari keheningan yang terlalu lama dipelihara. (EdAI)
Muhammad Asyihin, S. Pd., M.M. (Pimpinan Media)
Berikan Komentar
Kominfo LamSel
479
PLN
383
Lampung Selatan
2272
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia