BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co): Politeknik Negeri Lampung (Polinela) melalui Program Studi D4 Teknologi Produksi Ternak melakukan penelitian untuk meningkatkan produktivitas unggas petelur sekaligus mengoptimalkan kualitas ransum komersial.
Penelitian tersebut menguji pemanfaatan ekstrak herbal andaliman varietas Sihorbo (Zanthoxylum acanthopodium DC) melalui dua metode, yakni penggunaan sebagai natural coating terproteksi dalam bentuk nanoemulsi serta suplementasi ke dalam ransum.
Penelitian ini dilakukan untuk melihat sejauh mana kestabilan fitonutrien dari ekstrak andaliman di dalam tubuh ternak serta pengaruhnya terhadap produktivitas dan kualitas telur unggas petelur, khususnya ayam dan puyuh.
Tim peneliti dipimpin Ir. Rikardo Silaban, S.Pt., M.Si., IPM., bersama Prof. Dr. drh. Dwi Desmiyeni Putri, M.Si., dan Riko Noviadi, S.Pt., M.P.
Melalui pendanaan DIPA Polinela Tahun 2026, penelitian diarahkan untuk menemukan metode aplikasi ekstrak andaliman yang paling tepat sekaligus mengoptimalkan formulasi ransum.
Penelitian juga menargetkan pemanfaatan fitonutrien andaliman untuk membantu unggas menghadapi cekaman panas dan tekanan lingkungan, menekan risiko kematian, serta menjaga produktivitas dan kualitas telur.
Tekan Risiko Amoniak pada Peternakan
Tim peneliti menjelaskan, salah satu tantangan dalam pemeliharaan unggas petelur adalah penyediaan ransum dengan kandungan protein yang tepat.
Pengaturan protein menjadi penting karena kelebihan nitrogen yang tidak dimanfaatkan tubuh ternak dapat terbuang dan berpotensi meningkatkan emisi amonia (NH3).
Amonia dalam konsentrasi tinggi dapat mengganggu kesehatan dan produktivitas unggas serta pada akhirnya meningkatkan risiko kerugian bagi peternak.
Berbagai strategi telah dikembangkan untuk menekan risiko tersebut, mulai dari penggunaan ransum berprotein rendah, penerapan strategi terintegrasi dari hulu hingga hilir, hingga rekayasa pakan melalui pengaturan nitrogen dalam ransum.

Penelitian yang dilakukan di Teaching Factory (TEFA) Polinela tersebut menjadi bagian dari upaya pengembangan teknologi pemeliharaan unggas petelur sekaligus mendukung pengembangan produk yang dihasilkan melalui TEFA.
Andaliman Diuji pada Puyuh Petelur
Pada tahap penelitian, tim dosen mengevaluasi produktivitas puyuh petelur (Coturnix coturnix japonica) yang dipelihara dalam kondisi lingkungan alami.
Selama proses pemeliharaan, berbagai data dicatat secara berkala untuk kemudian dianalisis guna mengetahui pengaruh perlakuan terhadap produktivitas unggas.
Salah satu perlakuan yang diuji adalah pemberian ekstrak herbal andaliman varietas Sihorbo melalui air minum dan pakan menggunakan teknik coating spray.
Hasil evaluasi menunjukkan kondisi lingkungan di lokasi penelitian memiliki potensi memberikan tekanan terhadap unggas. Salah satunya berasal dari tingkat kebisingan yang tercatat mencapai 76,8 desibel.
Angka tersebut berada di atas ambang 70 desibel yang menjadi batas normal berdasarkan Kepmen LH Nomor 48 Tahun 1996. Kondisi lingkungan seperti ini berpotensi memengaruhi kenyamanan unggas, termasuk menurunkan nafsu makan dan berdampak terhadap produktivitas.
Meski demikian, hasil penelitian menunjukkan adanya tren positif pada puyuh yang mendapatkan nanoemulsi ekstrak andaliman (NAE).
Berdasarkan indikator produksi telur harian atau Hen Day Production (HDP), puyuh yang mendapatkan perlakuan NAE menunjukkan hasil lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol, dengan rata-rata peningkatan mencapai 4,22 persen.
Pola produksi telur juga menunjukkan tren peningkatan selama periode pengamatan. Hal tersebut dinilai memberikan prospek positif apabila penerapan teknologi tersebut dikembangkan dalam pemeliharaan jangka panjang.

Selain produktivitas, aspek keselamatan ternak juga menunjukkan hasil positif. Selama periode evaluasi, tingkat mortalitas atau kematian puyuh tercatat 0 persen.
NAE 2 Persen Berikan Hasil Positif
Ketua tim peneliti, Rikardo Silaban, mengatakan penelitian sebelumnya pada ayam petelur pasca-lost management juga menunjukkan bahwa penggunaan teknologi serupa berpotensi mempertahankan produktivitas dan bobot telur.
Pada penelitian tahun ini, tim menguji suplementasi nanoemulsi ekstrak andaliman (NAE) dengan konsentrasi 2 persen melalui air minum maupun pakan.
Hasil evaluasi menunjukkan perlakuan NAE 2 persen menghasilkan profil produktivitas yang lebih baik dibandingkan sejumlah perlakuan lainnya, termasuk kelompok kontrol.
Salah satu indikator yang terlihat adalah massa telur kumulatif. Puyuh yang mendapatkan NAE menghasilkan massa telur kumulatif sebesar 381,63 gram, jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol yang mencapai 222,85 gram.
Selain itu, efisiensi penggunaan pakan juga menunjukkan hasil positif. Nilai konversi ransum pada kelompok yang mendapatkan perlakuan NAE tercatat 3,87, lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol sebesar 4,65.
Nilai konversi ransum yang lebih rendah menunjukkan penggunaan pakan yang lebih efisien untuk menghasilkan telur.
Menurut Rikardo, hasil tersebut menjadi peluang untuk pengembangan teknologi pakan dan pemeliharaan unggas, khususnya bagi peternak yang menghadapi persoalan cekaman lingkungan.
“Ini menjadi terobosan yang menarik untuk dikembangkan lebih lanjut, khususnya bagi pelaku usaha unggas petelur yang rentan terhadap tekanan lingkungan,” ujar Rikardo.
Fokus Berikutnya pada Kualitas Telur
Setelah memperoleh hasil awal terkait produktivitas, tim peneliti selanjutnya akan mengembangkan penelitian pada aspek kualitas produk hewani.
Evaluasi berikutnya akan diarahkan untuk mengetahui pengaruh pemberian NAE terhadap kualitas telur dan karkas. Hasil tersebut diharapkan dapat memperkuat kualitas produk hewani sekaligus mendukung upaya ketahanan pangan nasional.
Pengembangan teknologi tersebut juga diharapkan tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat dilanjutkan menuju penerapan yang lebih luas di sektor peternakan.
Dengan memanfaatkan bahan herbal lokal seperti andaliman, teknologi yang dikembangkan Polinela diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha unggas petelur.
Penelitian ini dilaksanakan melalui skema Penelitian Terapan Pengembangan Produk Unggulan Jurusan/Teaching Factory, dengan Nomor Kontrak 163.3/DST/PL15.8/PP/2026.
Tim peneliti menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi melalui hibah DIPA Polinela Pendanaan Tahun 2026 serta Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Lampung atas dukungan terhadap pelaksanaan penelitian tersebut. (***)
Editor : Sandy,
Berikan Komentar
Pernyataan seorang anggota DPR yang mengatakan masih ada ASN...
14516
Lampung Utara
685
Polinela
764
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia