Seharusnya ia lega. Namun, belum sempat menikmati hasil kerja kerasnya, pikirannya sudah dipenuhi daftar kebutuhan yang menunggu untuk dibayar.
“Bi, coba kita hitung pengeluaran bulan ini,” katanya kepada Febi, istrinya.
Febi duduk di sampingnya. Ia tahu percakapan itu akan kembali berakhir dengan helaan napas panjang.
“Beras dua puluh kilogram, Rp320 ribu. Gas Rp48 ribu. Minyak goreng Rp88 ribu. Bumbu dapur Rp100 ribu. Lauk-pauk, Rp50 ribu sehari. Sebulan sudah Rp1,5 juta,” kata Andi sambil mengetik angka demi angka.
Febi menatap suaminya.
“Padahal kita tidak setiap hari makan enak, Mas. Kadang hanya telur, tempe, tahu, atau sayur. Sekarang uang Rp50 ribu saja belum tentu cukup untuk makan satu keluarga sehari.”
Andi melanjutkan.
“Listrik Rp400 ribu. Internet Rp250 ribu. Sabun, pasta gigi, deterjen, dan kebutuhan kebersihan Rp150 ribu. Make up kamu Rp150 ribu, jajan anak-anak Rp150 ribu.”
“Make up itu untuk sebulan, Mas. Aku juga tidak membeli barang mahal. Aku hanya ingin tetap merawat diri,” jawab Febi pelan.
“Aku tahu, Bi. Aku tidak menyalahkanmu. Aku cuma bingung, kenapa kita bekerja sebulan penuh, tetapi uangnya selalu habis sebelum bulan berakhir.”
Febi terdiam. Kalimat itu terasa seperti pertanyaan yang selama ini juga ia simpan sendirian.
“Mas, air minum galon sepuluh buah juga Rp130 ribu. Les bahasa Inggris anak Rp150 ribu, les mengaji Rp100 ribu.”
Andi mengangguk, lalu berkata, “Untung sekolah anak-anak sudah gratis berkat program Bunda Vava, wali kota kita. Kalau masih harus membayar uang sekolah setiap bulan, entah bagaimana kita mengaturnya.”
“Iya, Mas. Kita bersyukur. Tapi sekolah gratis bukan berarti semua kebutuhan anak ikut gratis. Mereka tetap perlu belajar, makan, dan tumbuh dengan baik.”
Andi kembali menatap layar ponselnya. Angka-angka itu terus bertambah, sementara gajinya tetap sama.
“Bensin juga, Mas,” kata Febi. “Tiga ratus ribu untuk motormu pulang-pergi bekerja, tiga ratus ribu lagi untuk motorku mengantar dan menjemput anak sekolah serta les. Total Rp600 ribu.”
Andi mengusap wajahnya.
“Benar. Kita bahkan mengeluarkan uang untuk pergi bekerja dan mengurus anak-anak. Bukan untuk jalan-jalan.”
“Belum iuran arisanku Rp300 ribu sebulan,” tambah Febi. “Memang nanti kita dapat giliran, tetapi setiap bulan uang itu tetap harus disisihkan.”
Andi menghitung ulang semuanya. Ia berhenti ketika melihat hasilnya.
“Bi, kalau ditambah kebutuhan mendadak, pengeluaran kita bisa mencapai lima juta sebulan.”
Febi menunduk.
“Sedangkan gajimu hanya Rp3,3 juta.”
“Berarti setiap bulan kita kekurangan Rp1,7 juta.”
Hening.
Di luar rumah, malam berjalan seperti biasa. Namun, di ruang kecil itu, angka Rp1.700.000 terasa seperti tembok tinggi yang harus mereka panjat setiap bulan, tanpa tahu apakah mereka akan berhasil sampai ke seberangnya.
Febi mencoba tersenyum, meski matanya mulai berkaca-kaca.
“Tapi, Mas, bersyukurlah kita tidak punya utang atau kredit. Setidaknya kita tidak dikejar cicilan setiap bulan. Bayangkan kalau masih harus membayar angsuran motor atau pinjaman bank.”
Andi mengangguk pelan.
“Iya, Bi. Aku bersyukur. Setidaknya kita tidak punya utang. Tapi terkadang aku sedih. Aku sudah bekerja sebulan penuh, pulang-pergi setiap hari, berusaha memenuhi tanggung jawab, tetapi tetap belum mampu mencukupi semua kebutuhan keluarga.”
Febi menggenggam tangan suaminya.
“Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Mas. Aku tahu kamu sudah berusaha.”
“Tapi aku ini kepala keluarga, Bi. Aku ingin anak-anak makan dengan cukup. Aku ingin mereka sekolah tanpa kekurangan. Aku ingin kalau mereka sakit, kita tidak perlu bingung mencari uang. Aku ingin sesekali mengajak mereka pergi, membelikan sesuatu yang mereka inginkan, tanpa harus menghitung apakah uang belanja masih tersisa.”
Suara Andi mulai bergetar.
“Aku tidak ingin kaya raya, Bi. Aku cuma ingin gajiku cukup.”
Febi menunduk. Air matanya jatuh perlahan.
Ia tahu suaminya tidak sedang meminta kemewahan. Andi hanya ingin hasil kerja kerasnya cukup untuk membuat keluarganya hidup dengan tenang.
“Kadang aku juga merasa bersalah, Mas,” ujar Febi. “Kalau ada kebutuhan anak, aku pikirkan. Kalau uang belanja menipis, aku berusaha menghemat. Kalau aku ingin membeli sesuatu untuk diriku sendiri, aku tunda. Tapi tetap saja, selalu ada kebutuhan yang belum terpenuhi.”
Andi meraih tangan istrinya lebih erat.
Malam itu, mereka tidak sedang bertengkar tentang uang. Mereka sedang berhadapan dengan kenyataan bahwa dua orang yang saling mencintai dan sama-sama berjuang pun bisa kelelahan ketika penghasilan tidak mampu mengejar kebutuhan hidup.
Dari kamar sebelah terdengar suara salah seorang anak mereka yang bergerak dalam tidurnya.
Andi menoleh.
“Bi, anak-anak tidak boleh tahu kita sedang sesulit ini, ya. Aku tidak ingin mereka merasa menjadi beban.”
Febi menggeleng.
“Anak-anak bukan beban, Mas. Mereka alasan kita terus berjuang.”
Andi terdiam. Matanya memandang pintu kamar yang tertutup.
Ia membayangkan anak-anaknya tumbuh besar, belajar, bermain, dan bermimpi tentang masa depan. Mereka belum mengerti mengapa orang tuanya terkadang menolak permintaan kecil, mengapa tidak setiap keinginan bisa dipenuhi, atau mengapa ayah dan ibunya sering membicarakan uang ketika malam tiba.
Mereka hanya tahu bahwa ayahnya pergi bekerja setiap pagi dan ibunya selalu berusaha menyediakan kebutuhan mereka.
Andi mengusap matanya.
“Aku takut, Bi. Takut suatu hari anak-anak bertanya kenapa mereka tidak bisa mendapatkan apa yang dimiliki teman-temannya. Aku takut tidak mampu memberikan masa kecil yang baik untuk mereka.”
Febi memeluk suaminya.
“Mas, kita mungkin tidak bisa memberikan semuanya. Tapi kita bisa memberikan kasih sayang, pendidikan, dan mengajarkan mereka untuk tidak menyerah. Kita akan terus berusaha.”
Di pelukan itu, Andi akhirnya membiarkan air matanya jatuh. Bukan karena ia tidak mau bekerja lebih keras, melainkan karena ia sudah berusaha dan masih merasa belum cukup.
Ada kelelahan yang tidak bisa diceritakan kepada atasan. Ada kecemasan yang tidak bisa dibagikan kepada anak-anak. Ada beban yang dipikul seorang ayah dalam diam karena ia merasa harus selalu terlihat kuat.
Beberapa saat kemudian, Andi kembali melihat daftar pengeluaran di ponselnya.
Beras, lauk-pauk, listrik, internet, air minum, bensin, pendidikan anak, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Tidak ada liburan mewah. Tidak ada barang mahal. Tidak ada pesta.
Hanya kebutuhan hidup.
Namun, semuanya membutuhkan uang.
“Besok aku akan mencoba mencari pekerjaan tambahan, Bi,” kata Andi. “Aku tidak ingin kita terus kekurangan.”
“Aku juga akan membantu sebisaku, Mas. Kita cari jalan bersama. Tapi kamu juga harus menjaga kesehatan. Jangan sampai kamu jatuh sakit karena terus memaksakan diri.”
Andi mengangguk.
Ia bersyukur tidak memiliki utang. Ia bersyukur anak-anaknya bisa bersekolah tanpa biaya sekolah. Ia bersyukur masih memiliki keluarga yang saling menguatkan.
Namun, ia juga tahu rasa syukur tidak menghapus tagihan listrik, tidak mengisi tangki bensin, dan tidak membuat harga kebutuhan pokok menjadi lebih murah.
Malam semakin larut. Andi mematikan layar ponselnya. Gajinya masih Rp3,3 juta. Kebutuhan keluarganya tetap sekitar Rp5 juta. Selisih Rp1,7 juta itu belum menemukan jawaban.
Sebelum masuk kamar, ia menatap Febi dan berkata lirih,
“Bi, kalau suatu hari keadaan kita sudah lebih baik, aku ingin anak-anak mengerti bahwa dulu ayah dan ibunya pernah berjuang keras. Bukan supaya mereka merasa kasihan, tetapi supaya mereka tahu betapa besar cinta yang membuat kita bertahan.”
Febi mengangguk sambil mengusap air matanya.
Malam itu, mereka tidur dengan persoalan yang belum selesai. Besok pagi, Andi akan kembali bekerja. Febi kembali mengurus rumah dan anak-anak. Kehidupan akan berjalan seperti biasa, seolah tidak ada apa-apa.
Padahal, di dalam hati mereka, ada kekhawatiran yang harus kembali disembunyikan.
Di Negeri Ababa, Andi dan Febi hanyalah satu keluarga di antara banyak keluarga yang mungkin mengalami hal serupa: bekerja keras, mengatur pengeluaran, menahan keinginan, dan tetap tersenyum di depan anak-anak, meski diam-diam takut menghadapi akhir bulan.
Mereka tidak meminta rumah megah. Tidak meminta mobil mewah. Tidak pula ingin hidup berlebihan.
Mereka hanya ingin bekerja sebulan penuh dan membawa pulang penghasilan yang cukup untuk hidup layak.
Sebab bagi seorang ayah, mungkin tidak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat anaknya menginginkan sesuatu yang sederhana, lalu harus menjawab, “Nanti, ya, Nak,” bukan karena tidak ingin memberikannya, tetapi karena uangnya memang belum ada.
Dan bagi seorang ibu, mungkin tidak ada yang lebih melelahkan daripada terus menghitung uang belanja, sambil berharap tidak ada kebutuhan baru yang datang sebelum akhir bulan.
Di Negeri Ababa, mereka tidak takut bekerja keras. Mereka hanya lelah ketika kerja keras saja belum cukup untuk membuat keluarga hidup dengan tenang.
Penulis Cerita : Muhammad Asyihin
Berikan Komentar
Ketika Seorang Ayah Bekerja Sebulan Penuh, tetapi Tetap Tak...
276
Lampung Selatan
892
Polinela
1073
275
25-Oct-2026
263
25-Oct-2026
482
25-Oct-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia