BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.com) : Harga komoditas kopi di Lampung terus merosot beberapa hari ini, akibatnya petani lebih memilih menyimpan kopi dibandingkan menjual, sambil menunggu harga kembali stabil dari pada harus mengalami kerugian. "Pilihan petani menyimpan kopi pada saat harga turun merupakan solusi yang tepat. Di daerah tertentu seperti Talangpadang memiliki sistem resi gudang (RSG) yang mampu menampung hingga ribuan ton," ujar Kepala Dinas Perdagangan Lampung Ferynia, Selasa (4/9/2018).
Ia mengungkapkan, memang sebaiknya ketika harga anjlok yang terbaik adalah menyimpan kopi, namun ini tentu ada mekanismenya. Seperti di daerah Talangpadang yang mempunyai sentra kapasitas gudang penyimpanan mencapai 2 ribu ton.
Ini juga bisa disesuikan dengan berapa kebutuhan petani kopi. "Ketika kopi masuk di resi gudang, bank bisa membayar 70% dari harga hari itu. Sehingga ketika harga naik bisa dikonfersikan sesuai dengan harga," ungkap dia.
Menurutnya, dengan sistem resi gudang ini para petani bisa lebih diuntungka. Kemudian pemerintah bersinergi dengan bank, ketika harga turun bank membeli 70% dari harga hari itu. Ketika bulan berikutnya harga naik 100%, tinggal dikonfersi dihitung berapa sebenarnya ini yang bisa menstabilisasi harga. "Tetapi yang menjadi permasalahan adalah, tidak semua petani bisa membiayai kebutuhan hidupnya dengan tidak menjual kopi," ujar dia.(**/PRO4)
Berikan Komentar
Bandar Lampung
696
696
09-Jul-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia