Dongeng teman ngopi
Di Kerajaan Ababa, ada sebuah perusahaan koran yang pernah percaya bahwa persahabatan bisa menjadi jalan panjang menuju keberhasilan. Perusahaan itu dimiliki seorang lelaki bernama Umri, yang memiliki hubungan dekat dengan Ahmad, seorang tokoh yang kelak menjadi menteri di kerajaan tersebut.
Jauh sebelum Ahmad duduk di kursi kekuasaan, Umri telah memberinya tempat dalam kehidupan perusahaan. Ahmad pernah dipercaya menjadi Dewan Pengawas. Bahkan, pernah ada pembicaraan tentang kemungkinan Ahmad mengambil alih perusahaan itu. Namun, rencana tersebut akhirnya batal. Alasannya tak pernah menjadi konsumsi publik. Hanya Ahmad dan Umri yang mengetahui bagaimana cerita itu berakhir.
Waktu kemudian membawa Ahmad ke tempat yang lebih tinggi. Ia diangkat menjadi menteri.
Bagi Umri, keberhasilan Ahmad bukan sekadar kabar baik tentang seorang kawan. Ada kebanggaan di sana, mungkin juga harapan bahwa hubungan yang dibangun selama bertahun-tahun akan tetap memiliki arti.
Maka perusahaan koran itu ikut bergerak.
Nama Ahmad mendapatkan ruang. Kegiatannya diberitakan, gagasannya dipublikasikan, dan prestasinya mendapat perhatian. Wartawan bekerja, redaktur menyusun berita, fotografer mengabadikan kegiatan, dan tim media sosial menyebarluaskannya.
Ketika Ahmad meresmikan sesuatu, koran hadir. Ketika Ahmad menyampaikan gagasan, koran memberikan ruang. Bahkan kegiatan yang bagi orang lain mungkin biasa saja bisa menjadi berita penting ketika Ahmad menjadi tokohnya.
Tidak semua itu harus dibaca sebagai transaksi. Bisa jadi, bagi Umri dan timnya, itu memang bentuk dukungan kepada seseorang yang mereka percaya.
Umri mungkin berpikir, membantu seorang kawan menjadi besar adalah hal yang pantas dilakukan.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari perusahaan yang ikut membesarkan nama Ahmad justru akan kesulitan mempertahankan namanya sendiri.
Sebab kehidupan tidak berhenti ketika seseorang berhasil mencapai puncak.
Umri akhirnya meninggal dunia.
Kepergiannya bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga ruang kosong yang tidak mudah diisi. Perusahaan harus tetap berjalan. Tagihan tidak ikut berkabung. Karyawan tetap membutuhkan penghasilan. Berita harus terus diterbitkan, sementara biaya operasional terus berjalan.
Andi dan tim yang tersisa mengambil alih tanggung jawab itu.
Mereka bukan Umri. Mereka tidak memiliki hubungan pribadi yang sama dengan Ahmad. Namun mereka mewarisi sesuatu yang lebih sulit daripada sekadar pekerjaan: sebuah kebiasaan untuk tetap mendukung orang yang dahulu dekat dengan pendiri perusahaan.
Mereka melanjutkan pemberitaan tentang Ahmad. Mereka menjaga komunikasi. Mereka berusaha mempertahankan hubungan yang telah dibangun bertahun-tahun.
Sayangnya, hubungan yang diwariskan tidak selalu mendapat tempat yang sama di hati orang yang menerimanya.
Ahmad kini seorang menteri. Kesibukannya bertambah, lingkaran pergaulannya berubah, dan semakin banyak orang ingin berada di dekatnya.
Perusahaan koran lain datang membawa penawaran. Media baru menawarkan jangkauan lebih luas. Orang-orang yang dahulu tidak mengenal Ahmad kini memiliki kesempatan duduk bersamanya, berbincang, berfoto, dan membangun kedekatan baru.
Sementara itu, perusahaan milik Umri perlahan berada di pinggir cerita.
Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada pengumuman bahwa persahabatan telah berakhir. Tidak pula ada pintu yang secara resmi ditutup.
Hubungan itu hanya semakin jarang terasa.
Telepon yang dahulu mudah tersambung kini tidak selalu mendapat jawaban. Perhatian yang dahulu terasa dekat kini digantikan kesibukan. Dan dukungan yang selama ini diberikan perusahaan seperti berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi perlu diingat.
Mungkin Ahmad memang terlalu sibuk untuk menyadarinya. Mungkin baginya, semua berjalan sebagaimana mestinya. Ia bekerja, perusahaan koran itu juga bekerja. Tidak ada masalah yang perlu dibicarakan.
Tetapi bagi Andi, ada sesuatu yang perlahan hilang.
Bukan sekadar akses kepada seorang menteri.
Melainkan perasaan bahwa kerja keras mereka pernah memiliki arti bagi orang yang mereka dukung.
Perusahaan mulai terseok-seok. Pemasukan tidak sebanding dengan kebutuhan operasional. Tim harus memikirkan cara bertahan, mencari pemasang iklan, menawarkan kerja sama, dan memastikan koran tetap hidup.
Di tengah semua itu, mereka menyaksikan Ahmad terus bergerak di lingkaran kekuasaan, dikelilingi orang-orang dan perusahaan yang semakin beragam.
Andi kemudian menyadari sesuatu yang pahit: mereka terlalu lama menjaga hubungan dengan Ahmad, sampai hampir lupa menjaga masa depan perusahaan sendiri.
Suatu hari, ia mengumpulkan tim redaksi.
"Kita ini perusahaan media atau bagian dari rombongan seseorang?" tanyanya.
Tidak ada yang segera menjawab.
Andi melanjutkan, "Dulu kita mendukung Ahmad karena kita percaya kepadanya. Tetapi apakah itu berarti kita harus terus mendukung apa pun yang dilakukannya, bahkan ketika kita melihat ada yang perlu dikritik?"
Seorang wartawan menjawab, "Tetapi dia pernah dekat dengan Umri, Pak."
Andi mengangguk.
"Benar. Dan kita harus menghormati hubungan itu. Tetapi menghormati hubungan bukan berarti menggadaikan masa depan perusahaan."
Ia memandang timnya satu per satu.
"Umri sudah tiada. Ahmad sudah menjadi menteri. Lalu kita harus menjadi apa? Penjaga kenangan yang terus menunggu seseorang mengingat kita?"
Ruangan itu hening.
Hari itu, Andi mengambil keputusan: perusahaan tidak akan lagi menjadikan kedekatan dengan Ahmad sebagai dasar pemberitaan.
Jika Ahmad bekerja baik, mereka akan menulisnya. Jika kebijakannya bermanfaat, mereka akan mengapresiasinya. Tetapi jika ada keputusan yang merugikan masyarakat, mereka juga akan mengkritiknya.
Bukan untuk membalas kekecewaan.
Bukan untuk menjatuhkan seorang kawan lama.
Melainkan karena itulah pekerjaan media.
Keputusan itu ternyata tidak diterima semua orang dengan baik.
Sebagian menyebut Andi tidak tahu berterima kasih. Sebagian lainnya mengatakan perusahaan itu telah berubah menjadi musuh Ahmad.
"Bagaimana mungkin orang yang dahulu membantu membesarkan namanya sekarang justru mengkritiknya?" kata mereka.
Andi hanya tersenyum getir.
"Apakah karena pernah membantu seseorang naik takhta, kita harus ikut menjaga takhtanya selamanya?"
Ia lalu menambahkan, "Kami tidak sedang menghapus kebaikan masa lalu. Kami hanya menolak menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk menutup mata hari ini."
Sejak saat itu, perusahaan tersebut mendapat julukan baru: anak durhaka.
Andi tidak membantah. Ia justru mulai memahami bahwa dalam dunia kekuasaan, kesetiaan sering kali diukur dari seberapa lama seseorang bersedia mengangguk.
Ketika memuji, seseorang disebut sahabat. Ketika mempertanyakan, ia dicurigai. Ketika mengkritik, ia dianggap berkhianat.
Padahal, yang berubah mungkin bukan persahabatannya. Yang berubah adalah cara mereka menjalankan peran masing-masing.
Ahmad adalah pejabat yang harus mempertanggungjawabkan kebijakannya kepada rakyat. Perusahaan Andi adalah media yang harus mempertanggungjawabkan pemberitaannya kepada pembaca.
Keduanya tidak harus menjadi musuh. Tetapi keduanya juga tidak wajib selalu sependapat.
Andi akhirnya memahami bahwa perusahaan itu tidak bisa terus hidup dengan mengandalkan kenangan tentang Umri dan kedekatannya dengan Ahmad. Mereka harus membangun kembali kepercayaan pembaca, memperbaiki bisnis, dan menemukan alasan mengapa koran itu layak tetap ada.
Mereka mungkin kehilangan akses ke istana. Mungkin tidak lagi menjadi media yang paling diperhatikan Ahmad. Mungkin pula harus bekerja lebih keras daripada sebelumnya untuk bertahan.
Namun setidaknya, mereka tidak lagi menggantungkan identitas perusahaan pada nama seorang pejabat.
Sebab perusahaan itu memiliki nama sendiri. Memiliki wartawan sendiri. Memiliki pembaca sendiri. Dan memiliki tanggung jawab yang tidak bisa diwariskan kepada siapa pun.
Umri pernah membantu Ahmad naik. Ahmad akhirnya mencapai takhta. Tetapi perusahaan yang dahulu ikut berjalan bersamanya harus menghadapi kenyataan bahwa sejarah persahabatan tidak selalu menjadi jaminan bagi masa depan.
Di Kerajaan Ababa, orang-orang mungkin masih mengingat Ahmad sebagai menteri yang berhasil. Sebagian mungkin juga mengingat Umri sebagai kawan yang pernah mendukungnya.
Tetapi Andi memilih mengingat keduanya dengan cara berbeda.
Umri dikenang karena pernah percaya kepada seorang kawan.
Ahmad akan dinilai dari apa yang dilakukannya ketika berkuasa.
Sedangkan perusahaan koran itu harus menentukan sendiri apakah ia ingin sekadar dikenang sebagai media yang pernah dekat dengan seorang menteri, atau dihormati sebagai media yang berani menjalankan tugasnya.
Pada akhirnya, Andi tidak ingin menjatuhkan Ahmad. Ia hanya tidak ingin perusahaan yang diwariskan Umri kehilangan jati dirinya demi menjaga hubungan yang telah berubah.
Sebab ada perbedaan antara kehilangan seorang kawan dan kehilangan diri sendiri.
Kehilangan seorang kawan adalah bagian dari perjalanan hidup. Tetapi kehilangan prinsip demi mempertahankan kedekatan adalah pilihan yang harus dipertanggungjawabkan.
Dan mungkin, itulah pelajaran paling pahit dari Kerajaan Ababa:
Ketika seorang kawan naik takhta, orang-orang yang dahulu membantunya mungkin kehilangan tempat. Tetapi sebuah koran seharusnya tidak sampai kehilangan namanya sendiri.
Sebab takhta bisa berganti penghuni, persahabatan bisa berubah jarak, dan kekuasaan pada akhirnya akan berlalu.
Namun ketika sebuah media kehilangan keberanian untuk mengatakan apa yang benar, yang hilang bukan sekadar nama.
Yang hilang adalah alasan mengapa ia pernah didirikan. (Cerita Fiksi -EdAI)
Berikan Komentar
Bandar Lampung
1381
Polinela
1303
375
14-Oct-2026
1381
12-Oct-2026
1303
12-Oct-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia