Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Antre SD Sampai 2032, Sekolah Ini Bikin Orang Tua Rela Booking Bangku Sejak Bayi
Lampungpro.co, 21-Jan-2026

Admin 208

Share

Pimpinan Media Muhammad Asyihin. Lampungpro.co/doc

Kalau ada sekolah dasar yang antrean masuknya sudah penuh sampai tahun 2032, ini jelas bukan cerita karangan. Awalnya penulis juga sempat mengernyitkan dahi. Penulis memang bukan orang Jogja, tapi setelah mendengar cerita dari saudara asal jogja soal satu SD yang katanya sudah full booked sampai anak cucu, rasa kepo langsung naik level.

Iseng-iseng buka Google, eh ternyata bukan hoaks. SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta benar-benar viral. Antrean berkasnya mengular sampai tahun 2032. Wawww. Ini sekolah apa konser artis internasional?

Sekolah ini seperti sedang memberi tamparan halus tapi ngena ke dunia pendidikan: ternyata orang tua tidak cuma cari yang gratis, tapi yang bikin hati tenang dan pikiran waras.

Bayangkan saja, ada orang tua yang sudah “memesan” bangku sekolah padahal anaknya belum lahir. Masih berupa rencana, masih wacana, tapi bangkunya sudah diamankan duluan. Ini bukan lebay, ini tanda cinta orang tua yang takut salah pilih sekolah. Seolah mereka berkata, “Urusan jajan bisa belakangan, urusan sekolah jangan spekulasi.”

Lalu apa sih yang bikin SD Muhammadiyah Sapen segitu diminatinya? Jawabannya sederhana dan terasa: pelayanannya nyata. Anak tidak cuma diajari calistung lalu ditinggal. Di sini ada makan bergizi gratis jauh sebelum istilah MBG jadi program nasional. Ada psikolog anak, dokter gigi, penguatan karakter, pengembangan bakat-minat, sampai pengenalan dunia digital sejak dini. Sekolah ini seperti berbisik ke orang tua, “Tenang Pak, Bu… anaknya kami rawat, bukan sekadar kami sekolahkan.”

Nah, sekolah berkualitas tentu tidak lahir dari gedung semata. Ada aktor utama di balik layar: guru. Penulis memang tidak tahu persis berapa gaji guru di SD Muhammadiyah Sapen. Tapi melihat hasilnya, izinkan penulis berprasangka baik: kayaknya guru-gurunya tidak sedang deg-degan tiap akhir bulan karena beras tinggal setengah liter.

Ini plesetan, tapi masuk akal. Guru yang hidupnya relatif tenang, perutnya aman, dan dompetnya tidak sesak, biasanya lebih fokus mendidik. Tidak sibuk cari tambahan sana-sini, tidak kelelahan mental, energinya utuh untuk anak didik. Mengajar bukan sekadar menuntaskan jam, tapi membangun masa depan.

Sekarang kita menoleh sebentar ke sekolah negeri. Sekolah gratis memang patut diapresiasi. Tapi gratis tidak selalu otomatis berkualitas. Kita masih menjumpai guru honorer—bahkan yang kini sudah menyandang status PPPK paruh waktu bekerja dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore. Jam kerjanya penuh, tanggung jawabnya penuh, tapi dompetnya belum tentu ikut penuh. Dalam kondisi seperti itu, jangan heran kalau fokus guru sering terbelah antara mendidik dan bertahan hidup.

Bahkan guru ASN pun tidak selalu sepenuhnya bahagia. Gaji tetap, iya. Tapi beban administrasi, target laporan, dan sistem yang kaku sering membuat energi habis sebelum kreativitas sempat keluar.

Di titik inilah SD Muhammadiyah Sapen memberi pelajaran penting: mutu pendidikan sangat ditentukan oleh bagaimana guru dihargai dan sekolah dikelola dengan akal sehat dan hati nurani. Anak berkembang, orang tua percaya, guru pun bisa bekerja dengan senyum, bukan sekadar bertahan.

Lebih jauh, SD Muhammadiyah Sapen layak dijadikan contoh bagi sekolah swasta lain yang kini mulai kehilangan murid. Di tengah menjamurnya sekolah negeri baru yang gratis, banyak sekolah swasta tergerus karena orang tua memilih murah, bukan yakin. Namun Sapen membuktikan, sekolah swasta tetap bisa jadi primadona asal berani menawarkan nilai lebih yang nyata, bukan brosur indah semata.

Antrean sampai 2032 ini sejatinya bukan hanya kisah sukses satu sekolah. Ini pesan sederhana tapi menohok: orang tua masih mau antre panjang, asal sekolahnya memberi rasa aman, layanan prima, dan masa depan yang jelas untuk anak mereka.

Dan tampaknya, SD Muhammadiyah Sapen sudah menemukan rumus itu lebih dulu sementara sekolah lain masih sibuk bertanya, “Kok bisa?” (EdAI)

Muhammad Asyihin, S. Pd., M.M. (Pimpinan Media)

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya

Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved