Setiap tahun, ribuan mahasiswa Prodi Manajemen diwisuda. Senyum lebar, toga rapi, foto keluarga berjejer. Semua terlihat baik-baik saja. Namun beberapa bulan setelah itu, realitas mulai terasa: tidak sedikit yang masih bingung mau kerja apa, ke mana harus melangkah, bahkan sekadar “yang penting kerja dulu”.
Ini bukan cerita satu dua orang. Ini fenomena yang berulang.
Lalu muncul pertanyaan yang cukup menohok: kalau Manajemen jadi jurusan favorit, kenapa lulusannya banyak yang kesulitan masuk dunia kerja? Jawabannya tidak sesederhana “lapangan kerja sedikit”. Kalau mau jujur, ada yang belum beres dan kampus tidak bisa lepas tangan begitu saja.
Prodi Manajemen selama ini seperti “jualan paling laris” di kampus. Peminatnya banyak, kelas selalu penuh, dan dari sisi institusi ini tentu menguntungkan. Tapi justru di situ letak jebakannya. Ketika sesuatu terlalu nyaman, evaluasi sering kali berjalan setengah hati. Yang penting mahasiswa masuk, kuliah jalan, lalu lulus. Urusan setelah itu seolah bukan lagi tanggung jawab.
Padahal konsep seperti Outcome-Based Education sudah lama dikenal. Sederhananya, kampus tidak cukup hanya meluluskan, tapi juga harus memastikan lulusannya benar-benar siap dan punya arah.
Di sisi lain, cara mahasiswa dibentuk juga ikut menentukan. Anak Manajemen belajar banyak hal: marketing, keuangan, sumber daya manusia, operasional. Sekilas terlihat lengkap, bahkan terkesan unggul. Tapi di dunia kerja, “serba bisa” sering kali justru berarti “tidak terlalu ahli di satu hal”.
Perusahaan hari ini cenderung lebih tegas. Butuh digital marketer, mereka cari yang benar-benar paham iklan online. Butuh analis, mereka cari yang bisa membaca data. Butuh bagian keuangan, mereka cari yang teknis dan detail. Di titik ini, lulusan manajemen sering berada di posisi tanggung tahu banyak, tapi belum cukup dalam untuk langsung dipakai.
Akhirnya terjadi apa yang disebut sebagai Mismatch Tenaga Kerja. Lowongan ada, lulusan juga banyak, tapi tidak saling bertemu. Ini bukan semata soal jumlah pekerjaan, melainkan soal kecocokan kemampuan.
Masalahnya makin terasa ketika melihat perubahan dunia kerja yang begitu cepat. Pemasaran hari ini sudah bergerak ke Digital Marketing, bukan lagi sekadar promosi konvensional. Pengambilan keputusan bisnis juga semakin bergantung pada Data Analytics, bukan sekadar intuisi. Dunia sudah berlari, tapi tidak semua kampus bergerak dengan kecepatan yang sama.
Masih ada proses belajar yang terlalu nyaman di teori, tugas yang berhenti di makalah, dan magang yang hanya sekadar formalitas. Mahasiswa lulus dengan nilai bagus, tapi minim pengalaman nyata. Ketika masuk dunia kerja, mereka kaget karena ternyata realitas tidak sama dengan apa yang selama ini dipelajari.
Kalau kondisi ini terus dibiarkan, jangan heran kalau cerita lulusan manajemen yang kesulitan kerja terus muncul setiap tahun. Kampus perlu berbenah, dan ini bukan sekadar memperbarui kurikulum di atas kertas. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang. Praktik harus diperbanyak, magang harus dijalankan dengan serius, mahasiswa perlu diarahkan memiliki spesialisasi yang jelas, dan teknologi harus menjadi bagian dari keseharian belajar, bukan sekadar tambahan.
Ada satu hal yang mungkin terasa sensitif, tapi penting: kampus perlu berani jujur soal kondisi lulusannya. Berapa yang cepat bekerja, berapa yang masih menunggu, dan berapa yang akhirnya keluar jalur. Transparansi ini bukan untuk menjatuhkan, tapi justru untuk memperbaiki.
Sering kali semua diserahkan pada mekanisme pasar kerja, seolah itu solusi akhir. Padahal, kalau dari awal tidak dipersiapkan dengan baik, pasar tentu akan memilih yang lebih siap. Dan itu bukan kesalahan pasar.
Di sisi lain, lulusan manajemen sebenarnya punya peluang besar untuk tidak sekadar menjadi pencari kerja. Mereka punya dasar untuk membangun usaha, mengelola bisnis, bahkan menciptakan lapangan kerja. Namun arah ini sering kali belum digarap serius. Banyak yang tetap diarahkan menjadi “pelamar”, bukan “pencipta peluang”.
Perlu ditegaskan, ini bukan soal menyalahkan satu pihak. Mahasiswa punya tanggung jawab, dunia kerja punya standar, itu wajar. Tapi kampus sebagai tempat membentuk lulusan, tidak bisa berdiri di pinggir dan merasa cukup hanya dengan meluluskan.
Manajemen masih relevan, bahkan sangat dibutuhkan. Yang perlu dibenahi adalah cara mempersiapkan orang-orang di dalamnya. Jika tidak, kita akan terus melihat pola yang sama: wisuda yang meriah di depan, kebingungan yang diam-diam terjadi setelahnya. Dan itu, terlalu sayang untuk terus dianggap sebagai hal biasa. (EdAI)
Berikan Komentar
Kominfo Lampung
770
Bandar Lampung
618
202
28-Apr-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia