Sekolah Rakyat terasa seperti payung besar yang akhirnya dibuka negara di tengah hujan deras bernama ketimpangan. Anak-anak dari keluarga prasejahtera yang selama ini berjalan ke sekolah dengan bekal seadanya, kini dipeluk oleh sistem yang utuh, belajar, tinggal, makan, sehat, dan dibina karakternya. Ibarat tangga kehidupan, mereka akhirnya diberi pegangan agar tidak terus terpeleset di anak tangga pertama. Program ini bukan sekadar bangunan dan angka, melainkan cerita tentang harapan yang diberi alamat jelas.
Namun, di balik cerita yang menghangatkan itu, ada satu wajah lain yang tak boleh diabaikan: wajah para guru. Sebab sekolah, sebaik apa pun konsepnya, tetap akan terasa kosong tanpa guru yang hadir sepenuh hati. Dan kehadiran sepenuh hati sulit diminta dari mereka yang masih harus menghitung hari di akhir bulan. Kita sering menyebut guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, tapi jangan-jangan karena terlalu sering menyebutnya begitu, kita lupa bahwa pahlawan juga perlu hidup layak.
Sekolah Rakyat menuntut lebih dari sekadar mengajar. Guru bukan hanya pengajar mata pelajaran, tetapi juga pendamping karakter, orang tua kedua di asrama, sekaligus penjaga ritme hidup anak-anak selama 24 jam. Maka wajar jika muncul pertanyaan yang sangat manusiawi: apakah beban besar ini berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan guru? Jangan sampai rantai kemiskinan yang ingin diputus justru bergeser diam-diam ke pundak mereka yang mendidik.
Kritik ini bukan untuk mengecilkan arti program, justru untuk menjaganya tetap bernyawa. Investasi sumber daya manusia tidak bisa setengah-setengah. Murid adalah masa depan, sekolah adalah jalannya, dan guru adalah tenaga yang menggerakkan semuanya. Jika guru terus diminta berlari dengan sepatu tipis, cepat atau lambat langkah itu akan terseok.
Sekolah Rakyat akan benar-benar menjadi simbol keadilan sosial jika kehangatannya dirasakan semua pihak, anak-anak yang belajar dengan tenang, orang tua yang bangkit bersama, dan guru yang bekerja tanpa rasa cemas akan hari esok. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya soal mencerdaskan, tapi juga memanusiakan, semua yang terlibat di dalamnya.
Muhammad Asyihin, S. Pd., M.M. (Pimpinan Media)
Berikan Komentar
Lampung Selatan
480
201
12-Jan-2026
212
12-Jan-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia