Ketika panen tiba, petani tentu akan melihat siapa yang datang dan siapa yang berani membeli dengan harga terbaik. Ini bukan berarti petani tidak peduli kepada Lampung. Ini adalah persoalan ekonomi yang sangat sederhana.
Gabah adalah hasil dari modal, tenaga, risiko cuaca, pupuk, biaya produksi, dan kerja berbulan-bulan.
Ketika ada pembeli yang menawarkan harga lebih tinggi, apakah kita bisa berharap petani dengan mudah berkata, “Tidak, saya tidak akan menjual kepada Anda karena Anda berasal dari luar Lampung”?
Sulit.
Bahkan mungkin tidak realistis.
Di sinilah persoalan mulai terlihat.
Ketika agen atau pembeli dari luar daerah berani membeli gabah Lampung dengan harga lebih tinggi, mereka tentu tidak datang tanpa perhitungan. Ada pasar yang menunggu. Ada kebutuhan. Ada jaringan perdagangan. Dan tentu saja, ada peluang keuntungan.
Sementara penggilingan di Lampung berada dalam situasi yang berbeda.
Mereka harus membeli gabah dengan harga yang bersaing. Setelah itu, mereka harus mengeringkan, menggiling, menanggung susut, membayar tenaga kerja, listrik, pengemasan, transportasi dan berbagai biaya lainnya.
Kemudian beras harus dijual ke pasar.
Berikan Komentar
423
30-Aug-2026
788
29-Aug-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia