Akhirnya, Bandara Radin Inten II kembali menyandang status bandara internasional. Kabar ini tentu layak dirayakan, minimal dengan senyum lebar dan postingan story bertagar “Lampung Goes Global”. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal pun turun langsung memastikan semuanya siap. Dari terminal, CIQ, sampai mimpi besar membawa Lampung terbang lebih jauh, semuanya dicek.
Namun, masyarakat Lampung tentu masih ingat satu fakta kecil tapi cukup membekas: Radin Inten II ini bukan anak baru di dunia internasional. Bandara ini pernah lebih dulu jadi bandara internasional, lalu entah kenapa “turun kelas” lagi. Ibarat sudah pakai jas, sempat disuruh ganti kaos, sekarang pakai jas lagi. Semoga kali ini bukan jas pinjaman.
Secara gagasan, langkah ini patut diacungi jempol. Jamaah umrah dan haji puluhan ribu orang tiap tahun, wisatawan tembus puluhan juta, investasi mulai melirik, semuanya memang butuh pintu keluar-masuk yang layak. Masa iya, mau ke luar negeri tapi harus muter-muter dulu kayak cari sinyal ke bandara provinsi lain?
Tapi justru di sinilah PR besar Gubernur Mirza dimulai. Status internasional itu bukan piala yang cukup dipajang di lemari. Ia harus dijaga, dirawat, dan dihidupi. Kalau tidak, sejarah bisa mengulang internasional di papan nama, tapi sepi di landasan.
Pesannya adalah:
Kerja sama dengan Hainan Airlines dan hubungan sister province dengan Shandong tentu kabar baik. Tapi masyarakat menunggu kelanjutannya, bukan sekadar janji di ruang tunggu. Bandara internasional tanpa rute aktif itu ibarat rumah megah tapi pintunya jarang dibuka.
Lampung punya modal besar: wisata alam, posisi strategis, dan potensi ekonomi. Tinggal bagaimana pemerintah daerah memastikan bandara ini bukan sekadar bandara yang bisa ke luar negeri, tapi bandara yang benar-benar dipakai orang untuk ke luar negeri.
Singkatnya, selamat datang kembali status internasional. Semoga kali ini Radin Inten II tidak sekadar “go international”, tapi benar-benar bertahan internasional. Jangan sampai nanti kita bilang, “Dulu internasional, sekarang kenangan.”
Muhammad Asyihin, S. Pd., M.M. (Pimpinan Media)
Berikan Komentar
Humaniora
492
Bandar Lampung
1148
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia