Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Kementan Klaim Gunakan Bibit Padi Lokal, Kebutuhan Impor Masih Tinggi
Lampungpro.co, 25-Oct-2018

Heflan Rekanza 1244

Share

#portalberitalampung #webberitalampung #portalberitanasional #beritalampungterkini #beritakulinerlampung #beritawisatalampung #portalberitawisata #portalberitawisatanasional #portalberitaasiangames #portalberitapendidikan #beritaolahragalampung #beritaolahraganasional #lampungproberitalampung #lampungprodotcom #beritapolitiklampung #webberitadaerah #webberitanasional

JAKARTA (Lampungpro.com) : Kementerian Pertanian (Kementan) mengklaim 99 persen bibit padi telah menggunakan produk bibit dalam negeri yang diproduksi oleh penangkaran lokal. Itu berarti Indonesia hanya impor 1 persen saja kebutuhan bibit padi. "Kalau yang impor tidak banyak, kecil sekali masih di bawah 1 persen untuk padi hibrida saja," ujar Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan), Kementan, Moh Ismail Wahab.

Ia menjelaskan, Indonesia membutuhkan kurang lebih 400 ribu ton bibit padi di tahun 2018. Jumlah tersebut didapat dari asumsi total lahan seluas 16 juta hektare (ha) dengan alokasi kebutuhan bibit 25 kilogram (kg) per hektar. Jika mengacu dari data tersebut, maka Indonesia masih perlu mengimpor sekitar 4 ribu ton bibit padi. 

"Indonesia mendatangkan suplai bibit padi tersebut dari India dan China. Tapi dalam dua tahun benih induknya harus diproduksi dalam negeri. Jadi setelah dua tahun benih padinya harus diproduksi dalam negeri," jelasnya.
 
Ismail mengungkapkan, selain impor bibit padi, Indonesia masih perlu mendatangkan bibit dan benih produk hortikultura dari luar negeri. Sayangnya, ia tidak menyebutkan detail jenis bibit hortikultura yang diimpor serta jumlahnya. "Yang masih banyak kami impor itu untuk beberapa jenis tanaman hortikultura," ungkapnya.
 
Menanggapi impor bibit dan benih, Ketua Komite Tetap Ketahanan Pangan Kadin Franciscus Welirang mengatakan, ketersediaan bibit dan benih dalam negeri sebenarnya menjadi kunci utama menuju ketahanan pangan. Ironisnya, kekurangan produksi bibit dan benih dalam negeri tak kunjung membaik sejak belasan tahun lalu. "Apa yang timbul 17 tahun lalu juga dibicarakan hari ini, masalahnya tidak berubah. Sehingga kami ke depan seharusnya ada sikap," kata dia.
 
Franky sapaan akrabnya menyatakan ketersediaan bibit dan benih dalam negeri seharusnya menjadi isu utama yang menjadi perhatian pemerintah. Selama ini, pemerintah terfokus pada polemik impor produk hortikultura sehingga permasalahan pasokan bibit dan benih dari dalam negeri terabaikan. I"ndonesia masih banyak mengimpor bibit dan benih produk hortikultura salah satunya jagung. Selama ini yang dimonitor kan impor bawang tapi bibit ini tidak pernah dilihat," ujar Franky.(**/PRO4)

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
Lampung Dipimpin Mirza-Jihan: Selamat Bertugas, "Mulai dari...

Dukungan dan legacy yang besar, juga mengandung makna tanggung...

17127


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved