Mungkin sudah saatnya peran dipertimbangkan ulang. Jika selama ini media penulis berperan sebagai protagonis, tenang, santun, dan menjaga etika barangkali tahun ini harus belajar menjadi antagonis. Bukan berarti meninggalkan kebenaran, tapi lebih berani, lebih keras, lebih tajam. Karena faktanya, di dunia media hari ini, yang sering bertahan bukan yang paling sopan, tapi yang paling ditakuti.
Idealnya memang tidak begitu. Tapi idealisme sering kalah ketika berhadapan dengan isi dompet yang menipis. Prinsip beradu dengan perut, dan sering kali perut menang lebih dulu.
Belum selesai sampai di situ, kondisi media massa saat ini juga semakin lesu dihantam oleh media sosial. Informasi di media sosial berlari jauh lebih cepat, tanpa redaksi, tanpa verifikasi, tanpa beban etik. Satu unggahan bisa mengalahkan sepuluh berita. Satu video pendek bisa menenggelamkan liputan panjang yang disusun dengan susah payah.
Media siber akhirnya seperti pelari jarak jauh yang dipaksa lomba sprint. Kalah cepat, kalah viral, kalah perhatian.
Di tengah semua itu, kopi hitam dari Lampung Barat terasa semakin pahit. Tapi justru dari pahit itulah penulis belajar: dunia media hari ini bukan lagi soal siapa paling benar, tapi siapa paling tahan. Bukan siapa paling idealis, tapi siapa paling lihai membaca arah angin.
Dan mungkin, di situlah tantangan terbesar media massa hari ini bagaimana tetap waras, tetap jujur, di tengah dunia yang semakin gemar membayar suara, bukan kebenaran. (EdAI)
Berikan Komentar
Lampung Selatan
1794
328
24-Jan-2026
282
23-Jan-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia