Selama ini, banyak orang menganggap semakin lama anak berada di sekolah, maka semakin baik pula pendidikannya. Tapi kalau kita lihat kondisi di lapangan, kenyataannya tidak selalu begitu.
Di banyak sekolah di Lampung, siswa belajar dari pagi sampai sore, bahkan ada yang sampai pukul 15.00 atau 16.00. Masalahnya, setelah lewat tengah hari, banyak siswa sudah mulai kelelahan. Mengantuk, sulit fokus, bahkan tidak lagi semangat mengikuti pelajaran.
Guru pun sering harus mengulang materi karena siswa sudah tidak maksimal menerima pelajaran. Kalau sudah seperti ini, wajar kalau kita bertanya: apakah jam belajar yang panjang ini benar-benar efektif?
Secara kondisi tubuh, hal ini sebenarnya wajar. Sejak pagi siswa sudah berpikir dan beraktivitas. Energi mereka tentu menurun. Apalagi kalau yang diajarkan masih didominasi teori yang berat dan harus dihafal.
Padahal, dunia saat ini sudah berubah. Anak-anak tidak hanya dituntut pintar secara teori, tapi juga harus punya keterampilan, kreativitas, dan keberanian menghadapi perubahan, terutama di era teknologi yang terus berkembang.
Karena itu, sudah saatnya sistem pendidikan di Lampung mulai disesuaikan. Mungkin bukan soal menambah jam belajar, tapi justru menata ulang cara belajar.
Misalnya, pelajaran inti difokuskan sampai sekitar pukul 12.00 saat kondisi siswa masih segar. Setelah itu, waktu bisa digunakan untuk kegiatan yang lebih santai tapi tetap bermanfaat.
Di sinilah kegiatan ekstrakurikuler bisa berperan besar. Olahraga, seni, hingga kegiatan berbasis teknologi seperti desain, editing, bahkan e-sport, bisa jadi wadah untuk menggali bakat siswa.
Yang perlu dipikirkan, ekstrakurikuler jangan lagi dianggap sekadar kegiatan tambahan. Sudah saatnya kegiatan ini masuk sebagai bagian penting dalam pendidikan. Karena dari sinilah banyak bakat dan keahlian anak justru muncul.
Selain itu, porsi praktik juga perlu diperbanyak. Teori tetap penting, tapi praktik adalah bekal utama di dunia nyata. Anak-anak perlu dibiasakan mencoba, bukan hanya menghafal.
Setiap anak punya minat dan bakat yang berbeda. Kalau ini diarahkan sejak dini, bukan tidak mungkin mereka sudah punya keahlian sebelum lulus sekolah. Ini tentu jadi nilai lebih saat mereka masuk dunia kerja nanti.
Dalam hal ini, pemerintah daerah punya peran penting. Pemerintah Provinsi Lampung melalui Gubernur bisa mulai mendorong perubahan sistem pendidikan yang lebih sesuai dengan kebutuhan zaman. Tentu tidak harus langsung berubah total, tapi bisa dimulai dari uji coba dan evaluasi.
Dewan Pendidikan juga diharapkan bisa lebih fokus pada kualitas, bukan hanya mengejar banyaknya materi yang selesai diajarkan. Karena yang paling penting bukan seberapa banyak yang dipelajari, tapi seberapa paham siswa terhadap apa yang dipelajari.
Pada akhirnya, tujuan sekolah bukan sekadar membuat anak duduk lama di kelas. Tapi bagaimana waktu yang mereka jalani benar-benar bermanfaat.
Kalau saat siang hari siswa sudah tidak fokus, mungkin ini saatnya kita berpikir ulang. Jangan sampai waktu habis, tapi hasilnya tidak maksimal.
Sudah waktunya pendidikan di Lampung berani berubah. Bukan untuk ikut-ikutan, tapi untuk benar-benar menyiapkan generasi yang siap menghadapi masa depan. (EdAI)
Berikan Komentar
Kominfo LamSel
549
Kominfo LamSel
592
Bandar Lampung
537
369
23-Apr-2026
549
22-Apr-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia