Pengalaman itu kemudian memberi pemahaman bahwa dalam beberapa proses seleksi, terdapat faktor-faktor yang tidak selalu tampak di permukaan, yang oleh sebagian orang bisa dimaknai beragam. Penulis memilih melihatnya sebagai bagian dari realitas yang perlu disikapi dengan kedewasaan, sekaligus menjadi pengingat bahwa transparansi tetap menjadi elemen penting dalam menjaga kepercayaan publik.
Namun penting digarisbawahi: tulisan ini bukan untuk menghakimi apakah dalam kasus Universitas Lampung terjadi hal serupa atau tidak. Itu wilayah yang terlalu sering dipenuhi asumsi, tetapi minim pembuktian.
Penulis justru ingin mengajak publik berpindah dari “siapa orangnya” ke “apa kapasitasnya”.
Karena kalau sekadar hubungan keluarga, Indonesia ini terlalu penuh cerita serupa. Tapi jabatan Direktur rumah sakit bukanlah panggung sinetron keluarga ini soal nyawa, manajemen, dan tanggung jawab besar.
Pertanyaannya sederhana tapi krusial:
apakah secara kompetensi, pengalaman, dan rekam jejak, yang bersangkutan memang layak masuk tiga besar atau bahkan layak menjadi nomor satu?
Publik berhak bertanya. Bukan karena benci, tapi karena peduli.
Bukan karena curiga, tapi karena ingin percaya.
Lagipula, dalam setiap seleksi jabatan publik, selalu ada ruang yang disebut “tanggapan masyarakat”. Ini bukan formalitas, tapi mekanisme kontrol. Semacam “rem sosial” agar proses tidak kebablasan menjadi sekadar kelengkapan administratif.
Berikan Komentar
Olahraga
560
Kominfo LamSel
834
Bandar Lampung
1239
Kominfo Lampung
1284
259
11-Apr-2026
541
11-Apr-2026
560
10-Apr-2026
Universitas Lampung
Universitas Malahayati
Politeknik Negeri Lampung
IIB Darmajaya
Universitas Teknokrat Indonesia
Umitra Lampung
RSUDAM Provinsi Lampung
TDM Honda Lampung
Bank Lampung
DPRD Provinsi Lampung
DPRD Kota Bandar Lampung
DPRD Kota Metro
Pemrov Lampung
Pemkot Bandar Lampung
Pemkab Lampung Selatan
Pemkab Pesisir Barat
Pemkab Pesawaran
Pemkab Lampung Tengah
Pemkot Kota Metro
Pemkab Mesuji
Pemkab Tulangbawang Barat
Suaradotcom
Klikpositif
Siberindo
Goindonesia