Geser ke atas
News Ekbis Sosok Halal Pelesir Olahraga Nasional Daerah Otomotif

Kanal

Siapa yang Berhak Menulis Sejarah Lampung?
Lampungpro.co, 02-Nov-2026

Sandy 295

Share

Dosen Program Studi Produksi Media Polinela, Eling Wening Pangestu, S.I.Kom., M.A. | LAMPUNGPRO.CO/Ist

Catatan atas Di Mana Engkau, Radin?, pementasan Teater Satu tentang ingatan yang belum selesai

Selama tiga malam, 5 sampai 7 Desember 2024, Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung menjelma ruang pertemuan antara orang-orang yang hidup hari ini dan mereka yang telah lama menjadi nama dalam sejarah.

Teater Satu Lampung mementaskan Di Mana Engkau, Radin?, karya dan penyutradaraan Iswadi Pratama. Pertunjukan yang melibatkan 113 pelaku seni dari Lampung itu hadir melalui dukungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam program Fasilitasi Bidang Kebudayaan 2024.

Pentas itu membawa Radin Inten II keluar dari kebekuan monumen. Ia tidak datang seorang diri. Naskah mempertemukannya dengan Ratu Mas, ibunya; Radin Bangsa Kesuma, pamannya; Haji Wakhiya, guru agama dan perjuangan yang melantiknya menjadi Ratu; Wak Maas dan Luru Satu, pendamping sekaligus penyusun strategi perjuangan; Singa Branta, sekutu setianya; serta Radin Ngerapat, kepala desa yang disambut seperti sahabat lama tetapi akhirnya mengkhianatinya.

Bersama mereka hadir derap sepatu tentara, peta-peta, catatan perang, suara pekerja, tubuh perempuan, aksara yang menyala, anak-anak yang mengeja, ayat yang menggema, dan kertas-kertas tua yang tak lagi dibiarkan berbicara sendirian.

Tiga malam kemudian, lampu dipadamkan. Kursi-kursi dikosongkan. Para pemain pulang membawa tubuh yang letih. Namun, panggung tidak benar-benar selesai. Di dalam naskahnya, pertanyaan itu tetap menyala: siapa yang berhak menulis sejarah Lampung?

Catatan ini mengikuti jejak yang ditinggalkan naskah finalnya. Di atas kertas itu, panggung masih bernapas. Suara-suara masih saling memotong. Sejarah belum mengeras menjadi jawaban.

Nama Radin Inten II mudah ditemukan di Lampung. Ia melekat pada ruang-ruang publik, disebut dalam upacara, dan diwariskan melalui pelajaran sejarah. Namun, sebuah nama dapat begitu sering diucapkan hingga orang lupa menanyakan kehidupan yang pernah dikandungnya.

1 2 3 4 5 6 7 8

Berikan Komentar

Kopi Pahit

Artikel Lainnya
Mereka Turun ke Jalan

Saya melepas mereka dengan bangga. Sayangnya, kebanggaan tidak otomatis...

630


Copyright ©2024 lampungproco. All rights reserved